Hal ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor; motivasi rendah, beban non-ajaran besar, kurangnya pelatihan pengembangan profesional, kondisi fisik/rural yang sulit, atau kesejahteraan yang belum memadai.
“Tantangan ini menuntut introspeksi bersama guru sebagai agen perubahan harus terus memperbaharui kompetensi, tetapi juga harus didukung oleh sistem yang adil dan kondusif,” kata Elia.
Guru juga dituntut memiliki kemampuan pedagogi yang adaptif, pemanfaatan teknologi, pembelajaran berbasis proyek, kolaborasi, berpikir kritis.
Namun dalam situasi ini, tidak semua guru memperoleh pelatihan yang cukup atau memiliki akses infrastruktur yang memadai. Di Papua terutama, akses internet, perangkat, pelatihan masih menjadi soal.
“Guru sebagai pilar utama pendidikan harus mendapatkan penghargaan yang layak secara materi (gaji, tunjangan), fasilitas, pelatihan, jaminan sosial. Artikel menyebut bahwa investasi pada kesejahteraan guru adalah investasi pada masa depan bangsa,” harapnya . (jim/tri)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos
Page: 1 2
Komite Nasional Papua Barat (KNPB) menilai bahwa tanggal 1 Mei 1963 adalah salah satu hari…
“Memasuki tahun 2027, kita berada pada tahap integrasi pembangunan. Berbagai upaya yang telah dibangun harus…
“Kota Jayapura, Keerom, Kabupaten Jayapura dan Sarmi menjadi pusat pertanian perkebunan yang akan kami bangun…
Meski dana Otsus terus mengalami peningkatan signifikan secara nominal, narasi kegagalan dalam menyejahterakan Orang Asli…
Suara Perempuan Papua Bersatu menggelar mimbar bebas di Lingkaran Abepura, Kamis (30/4). Sejumlah aspirasi dari…
Wali Kota Jayapura, Abisai Rollo, menggandeng sejumlah tokoh masyarakat dan tokoh adat untuk bersama-sama mengimbau…