

Puluhan mahasiswa Universitas Cenderawasih saat menggelar aksi spontanitas saat prosesi wisuda berlangsung di Auditorium, Kamis (21/5) (foto:Jimi/Cepos)
JAYAPURA – Prosesi wisuda periode ke-2 Universitas Cenderawasih (Uncen) 2026 diwarnai dengan adanya aksi unjuk rasa dari puluhan mahasiswa di halaman Auditorium Uncen, Kamis (21/5).
Dari informasi yang Cenderawasih Pos peroleh, aksi ini merupakan aksi spontanitas yang dilakukan mahasiswa dalam rangka memperingati lima tahun peristiwa penggusuran paksa asrama mahasiswa (Rusunawa) di Waena, Perumnas III, Distrik Heram. Aksi yang dipimpin oleh Arius Siep selaku koordinator lapangan, diikuti sekitar 50 orang. Mahasiswa mengaku mereka adalah korban dari penggusuran saat itu. Dalam aksi itu, Arius mengungkapkan hingga kini belum ada penyelesaian nyata dari pihak lembaga terkait dengan nasib para mahasiswa yang terdampak dalam penggusuran.
Karena itu, mahasiswa mendesak pihak Universitas Cenderawasih segera bertanggung jawab dan mengizinkan mahasiswa kembali menempati asrama Rusunawa Waena. Adapun aksi tersebut, mahasiswa membawa spanduk bertuliskan ‘Lembaga Uncen segera mengizinkan kami mahasiswa masuk kembali ke asrama Uncen (Rusunawa)’.
“Hari ini kami berdiri bukan untuk membuat keributan, tetapi kami berdiri di tempat ini untuk menyuarakan luka, menyuarakan ketidakadilan, dan menyuarakan jeritan mahasiswa yang haknya dirampas secara sewenang-wenang,” kata Arius saat berorasi.
Ia menjelaskan, asrama yang seharusnya menjadi rumah bagi mahasiswa justru berubah menjadi tempat ketakutan. Bagaimana mungkin anak-anak Papua yang datang untuk menuntut ilmu harus mengalami penggusuran dari asrama mereka sendiri.
Menurut mahasiswa, tindakan penggusuran dilakukan oleh aparat telah melukai rasa keadilan dan mencederai nilai kemanusiaan dalam dunia pendidikan. Kampus seharusnya menjadi ruang dialog, bukan menjadi ruang intimidasi. Mahasiswa juga meminta kejelasan dan pertanggungjawaban atas delapan (8) korban mahasiswa dan penggusuran asrama Rusunawa.
“Perjuangan ini bukan hanya tentang asrama, Ini tentang martabat mahasiswa Papua, Ini tentang hak untuk hidup dan belajar dengan aman, Ini tentang keadilan yang selama ini terus diminta tetapi sering diabaikan,” ularnya dengan tegas.
Mahasiswa mengaku hingga kini belum ada penyelesaian yang nyata dari pihak kampus terkait nasib para mahasiswa terdampak penggusuran saat itu. Selain itu, mahasiswa juga mempertanyakan kepastian tempat tinggal, hak pendidikan, serta perlindungan terhadap mahasiswa yang selama ini kehilangan akses hunian akibat penggusuran tersebut.
Disaksikan oleh tamu undangan wisuda yang berada di luar Auditorium, Arius berharap pihak kampus segera membuka ruang dialog dan mengambil langkah konkret demi penyelesaian persoalan yang telah berlangsung lama.
“Segera bertanggung atas perbuatannya penggusuran asrama mahasiswa Uncen. Maka, rektor segera bertanggung jawab dan segera renovasi asrama dan mengizinkan kami mahasiswa di asrama,” bebernya.
Page: 1 2
Kejaksaan Negeri Mimika menyita uang tunai sebesar Rp300 juta dalam penyidikan kasus dugaan korupsi proyek…
Yotam juga mengaku mengetahui pemerintah telah memiliki sertifikat atas lahan itu melalui informasi yang diperoleh…
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Jayapura, Elisa Yarusabra, mengatakan saat ini Kabupaten Jayapura…
Ketua Himpunan Peternak Ayam Ras (HIPAR) Merauke Thomas Kimko, mengapresiasi berbagai program bantuan peternakan ayam…
- Bupati Keerom, Piter Gusbager memastikan bahwa branda Kabupaten Keerom atau kawasan Kampung Yowong, Distrik…
Kapolres Jayapura AKBP Dionisius V.D.P. Helan, melalui Kasat Reskrim Polres Jayapura AKP Markus Axel Panggabean, …