Categories: METROPOLIS

Hari Bumi, Sampah Masih Mewarnai

MULAI KOTOR – Meski akan menjadi icon Kota Jayapura, kondisi pantai yang dilewati Jembatan Yotefa juga perlu diperhatikan. Terlihat sampah plastik berserakan saat dibersihkan oleh berbagai komunitas yang tergabung dalam Forum Komunitas Jayapura (FKJ) dalam rangka memperingati hari bumi yang dilakukan Minggu (21/4) lalu. ( FOTO : Gamel Cepos )

JAYAPURA – Hari Bumi atau Earth Day yang diperingati setiap 22 April sejatinya bisa menjadi momentum bagi siapa saja untuk menumbuhkan sikap peduli dan ramah lingkungan. Dengan kondisi bumi yang kian hari terjadi degradasi mulai dari pemanasan global hingga polusi dan perambahan hutan seharusnya publik ikut peduli bahwa kondisi ini akan semakin parah bila tak disikapi. Papua sendiri yang disebut sebagai benteng terakhir keanekaragaman hayati sepatutnya  memiliki konsep yang bisa digarap secara masive dengan melibatkan kelompok-kelompok kecil masyarakat.

 Hal mudah yang bisa dilakukan juga banyak dimana menurut Ketua Forum Peduli Port Numbay Green (FPPNG), Fredy Wanda bisa dengan melakukan sesuatu yang tak muluk-muluk, mulai dari menempelkan pesan-pesan lingkungan sebagai pengingat, belajar memilah sampah, memperbaiki keran yang bocor, menanam pohon, menggunakan kendaraan umum, membawa minum sendiri hingga mengajak komunitas untuk berbenah. “Bisa juga dengan mematikan lampu jika tidak diperlukan, pokoknya banyak yang bisa dilakukan dan jangan katakan tak bisa karena semua di atas itu hal yang mudah,” bebernya, Senin (22/4).

 Gagasan hari bumi sendiri telah muncul pada awal tahun 1960 dimana sebagian elemen masyarakat Amerika mulai menyadari dampak pencemaran lingkungan yang semakin membahayakan bumi. Nah Papua kata Fredy yang masih menyimpan hutan dan isinya serta matahari yang hampir seharian harusnya bangga dan bia berbuat lebih. “Memulai dengan tidak nyampah saja itu sudah bagus, sangat membantu. Jadi kadang kami menggunakan kalimat jika tak mau membersihkan ya jangan mengotori, jika tak mau menanam ya jangan menebang. Itu baru adil,” tambahnya.

 Fredy sendiri melihat untuk memperingati hari-hari lingkungan di Kota Jayapura masih sebatas dilakukan oleh instansi atau dinas terkait. Ia berpendapat jika Pemkot bisa mendorong hari bumi, hari air atau hari lingkungan lainnya digarap seperti festival yang melibatkan banyak komunitas dan warga maka bisa dipastikan pemahaman soal kondisi lingkungan di Jayapura maupun Papua akan jauh lebih baik. “Ruang dan konsep kreatifnya yang perlu ditumbuhkan. Kemarin kami memungut  sampah di bawah Jembatan Yotefa dan itu inisiatif kelompok komunitas. Nah ini sebenarnya bisa dibuat lebih menarik jika memang pemerintah mau terlibat,” pungkasnya. (ade/wen) 

newsportal

Recent Posts

OPD Diingatkan Jangan Kerja Ketika Injury Time

Ia menargetkan seluruh kegiatan dan program dapat terealisasi hampir seluruhnya sebelum memasuki akhir tahun. Bahkan,…

9 hours ago

Selecao Wajib Waspadai Singa Atlas

Timnas Brasil akan menghadapi Timnas Maroko pada laga perdana Grup C Piala Dunia 2026 di…

9 hours ago

Gunakan Sebo Buff, Delapan Anggota OPM Cium Merah Putih

Delapan orang yang disebut sebagai anggota Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) Kodap…

10 hours ago

Disosialisasikan, Rencana Pembangunan Bandar Antariksa Mendapat Dukungan

Selain itu, juga disepakati hasil sosialisasi ini akan ditindaklanjuti dalam penantanganan nota kesepahaman antara masyarakat…

10 hours ago

Pendistribusian BBM Diawasi Polisi

Publik juga khawatir dari kenaikan ini justru ada upaya mencari keuntungan sepihak termasuk menerapkan cara-cara…

11 hours ago

Belum Ada Razia Lagi, Kendaraan Modifikasi Tangki Kembali Ikut Antrian Pengisian BBM

Pengelola APMS Lasminingsih dan Anwarudin Wamena, Suyono mengaku sebenarnya kalau dikatakan pembiaran itu tidak, sebab…

11 hours ago