Categories: METROPOLIS

Kembangkan Pewarna Batik dan Tekstil dari Limbah Kayu Merbau

JAYAPURA-Pemerintah Kota Jayapura bekerjasama dengan Indonesia Natural Dye Institut (INDI) Universitas Gajah Mada (UGM) dan CV Karui melaksanakan kegiatan workshop potensi pengembangan pewarna dan tekstil di Kota Jayapura dengan peserta dari TP PKK Kota Jayapura, DWP dan GOW Kota Jayapura, Senin (19/9).

  Ketua TP PKK Kota Jayapura Ny. Maria Y, Gobay Pekey mengakui, kegiatan ini bekerjasama antara INDI UGM dan Pemkot Jayapura yang turut melibatkan semua organisasi TP PKK, GOW, DWP dan juga beberapa  ibu-ibu bergerak UMKM di bawah pembinaan Disperindagkop dalam pembuatan  batik.

  Melalui kegiatan ini diharapkan dapat memotivasi dan memberdayakan kaum ibu dapat memanfaatkan peluang usaha ini untuk meningkatkan perekonomian keluarga terlebih kegiatan ini sangat penting sekali. Sebab, ramah terhadap lingkungan, karena hasil dari gergaji bahan kayu merbau atau limbahnya dapat digunakan untuk pewarna alami. Selain itu,  ampas sebagai bahan pewarna alami bisa digunakan bahan bakar juga.

  “Sebelum kita praktik dalam melakukan pewarnaan untuk kain batik ini, kami sebelumnya juga telah diberikan teori lebih dahulu untuk bisa paham sebelum praktik dan saya sangat berterimakasih karena workshop pelatihan ini sangat bermanfaat dan membantu kami dan  kerjasama ini memang kali pertama dilakukan,” jelasnya.

   Koordinator Kelompok Riset INDI UGM Profesor Dr. Ir.Edia Rahayu Ningsih, M.Si, IPU mengatakan, INDI adalah kelompok peneliti pewarna di UGM sudah melakukan riset dan pengabdian masyarakat untuk pembuatan pewarna alami mulai dari identifikasi tumbuhan yang potensial jadi pewarna alami dan membuat pewarna, serta telah mengaplikasikan kepada

masyarakat dan ini menjadi Gerakan INDI UGM yang tersistem dari hulu sampai hilir dengan tujuan Indonesia sehat generasi sehat dan Indonesia berdaulat dalam pewarna alami.

  “Kami memilih Papua, karena Papua memiliki tumbuhan sangat potensial untuk dijadikan pewarna alami, salah satunya dari limbah kayu merbau yang selama ini dibuang, mencemari lingkungan. Padahal jika dibuat pewarna alami sangat amat cantik dan bisa menghasilkan beberapa pilihan warna, tergantung dengan bahan campuran alami yang dicampurkan

dan ini tidak berbahaya untuk tubuh,’’jelasnya.

   Oleh karena itu, dengan workshop pelatihan ini, diharapkan bisa memberikan ilmu dan pembelajaran bagi ibu-ibu yang ingin membuat usaha batik atau pakaian dengan menggunakan pewarna alami tumbuhan-tumbuhan dari limbah merbau bisa karena tahan lama bertahun-tahun, tidak ada campuran zat kimia sehingga aman dalam pembuatan dan saat dipakai, serta banyak pilihan warna, modal sedikit sehingga bisa memberikan nilai perekonomian yang lebih tinggi. (dil/tri)

newsportal

Recent Posts

Satgas BBM Perkuat Pengawasan BBM Bersubsidi

     Pengawasan dilakukan dengan melibatkan sejumlah instansi terkait, termasuk Pertamina dan Dinas Energi dan…

6 hours ago

TNI-Polri Petakan Daerah Rawan dan Perkuat Pengamanan di Papua

Menyikapi potensi gangguan keamanan jelang hari kemerdekaan. Pengamanan ketat akan diberlakukan secara menyeluruh, mencakup wilayah…

7 hours ago

Danrem Ingatkan Masyarakat Papsel Tidak Terprovokasi di Medsos

Danrem 174/Anim Ti Waninggap Brigjen TNI Mustakim, mengingatkan masyarakat Papua Selatan agar lebih bijak menyikapi…

8 hours ago

Hadirkan Aplikasi AMAN, Tapi Masih Butuh Sosialisasi ke Guru, Orang Tua Hingga Murid

  Kemenag kini menghadirkan aplikasi AMAN, aplikasi ini  bukan sekadar portal pengaduan biasa. Platform resmi…

9 hours ago

SPPG Polres Keerom Raih Dua Prestasi Lomba SPPG Polri 2026

Dalam lomba terdapat tiga kategori yang diperlombakan, yakni Tata Kelola SPPG Polri, Inovasi Kepala SPPG…

12 hours ago

Letkol Inf Elson Dwi S Jabat Danyonif 751/VJS, Siap Lanjutkan Program Satuan

Pangdam mengatakan serah terima jabatan di lingkungan TNI Angkatan Darat merupakan bagian dari proses pembinaan…

13 hours ago