

FESTIVAL
Salah satu konsep background panggung menggunakan seng – seng bekas yang disiapkan oleh kelompok muda kreatif jelang Numbay Creative Festival (NCF), Kamis (18/11). NCF akan digelar Sabtu (20/11) besok di Taman Imbi. (Gamel Cepos)
JAYAPURA – Pagelaran kegiatan Numbay Creative Festival kali kedua kembali digelar. Hanya saja ada penundaan satu hari dari jadwal semula yang sebelumnya diagendakan pada 19 November diundur ke hari Sabtu (20/11) dan akan digelar selama 2 hari. Event ini sejatinya menjadi ruang bagi kelompok muda kreatif dari berbagai genre untuk ngumpul dan saling mengisi. “Ini kali kedua dan pertama dilakukan 2019, tujuan lebih kepada bagaimana menghidupkan 17 subsektor yang ada dalam ekonomi kreatif dan kami coba bekerjasama dengan teman – teman komunitas di Jayapura untuk menampilkan hasil karya yang akan ditunjukkan dalam even ini,” kata Kadis Pariwisata Kota Jayapura, Mathias Bentar Mano melalui ponselnya, Kamis (18/11).
Ia menyebut bahwa ini menjadi wadah bagi para pelaku ekonomi kreatif untuk menunjukkan hasil karyanya dan tahun ini lebih didominasi dengan konsep music. Harapannya dengan pelaksanaan NCF ini bisa memacu dan mendorong dan potensi dari komunitas kreatif untuk menumbuh kembangkan ekonomi kreatif. “Imbi menjadi ruang public dan harapan kami Taman Imbi bisa menjadi ruang bagi seniman music di Kota Jayapura dan tahun depan kami harap NCF bisa terus dilaksanakan,” bebernya. Lalu kata Bentar, yang membedakan NCF dengan festival lain adalah lebih pada komunitas.
Komunitas di Jayapura sangat banyak dan dalam waktu dekat pihaknya akan melaunching Numbay Creative Forum yang menjadi wadah yang mengumpulkan semangat dan aspirasi dari seluruh komunitas. “Yang memiliki hobi yang sama dan kebersamaan itu akan kami kumpulkan. Saya pikir banyak potensi yang dimiliki teman – teman dan ini harus diakomodir dan selain music nantinya ada sharing session termasuk embicara seniman musik senior,” imbuh Bantar. Dalam event ini ada juga kolaborasi sejumlah komunitas yang akan membuat panggung dari barang – barang bekas. Panggung mini ini dipastikan menarik karena berbeda dari umumnya.
“Selama ini panggung lebih banyak konvensional pakai tangga, tenda dan lampu – lampu tapi kali ini kami pakai seng – seng bekas, kayu – kayu peti termasuk menggukan scaffolding dan yang jelas ini diluar dari yang biasa,” imbuh Marzuki, salah satu designer panggung. (ade/wen)
Sanking banyaknya orang menaiki jembatan tersebut akhirnya tali jembatan putus dan 30 an orang tenggelam.…
Pemusnahan tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan eksekusi perkara pidana oleh kejaksaan, tidak hanya terhadap terpidana,…
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Papua mencatat jumlah penduduk di daerah itu mencapai 1,074 juta…
Peristiwa kebakaran yang terjadi sekira pukul 15.45 WIT tersebut menghanguskan sedikitnya 10 petak rumah warga.…
Langkah-langkah strategis ini telah mendapat lampu hijau dan penguatan langsung dari Presiden. "Kami melaporkan kepada…
Komitmen untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang ramah anak ini, diwujudkan Kanwil Ditjenpas melalui kegiatan sosialisasi…