Categories: METROPOLIS

Jayapura Sudah Tak Layak untuk Pemukiman Baru

Robert Awi (Gamel Cepos)

JAYAPURA – Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Provinsi Papua, Robert Awi mengungkapkan bahwa untuk saat ini Kota Jayapura dianggap sudah tidak layak lagi dibangun pemukiman baru.  Dengan beban tanah yang dikatakan sudah mencapai titik puncak disarankan jika ingin melakukan pembangunan sebaiknya mengambil arah Koya atau Arso. Ketegasan pemerintah menjadi penting agar dalam penataan kota tidak menimbulkan persoalan dikemudian hari.

 “Untuk beban tanah di Jayapura untuk kategori perumahan sudah tidak kami rekomendasikan lagi sebab kemampuan daya dukung tanah sudah sampai pada beban puncak. Sudah seharusnya bergeser,” kata Robert saat ditemui di Kotaraja, Kamis (9/1). Pasalnya bila tetap melepas pembangunan begitu saja maka yang menjadi masalah adalah ketika beban tanah over maka yang dikhawatirkan jika air laut masuk menyusup ke air tanah dan mempengaruhi kualitas air. 

 Lalu jika ekspolitasi air tanah ini berlebihan maka potensi land susidence sangat mudah terjadi. Air dikuras dan tanah di bagian bawah menjadi kosong sehingga ambles. “Ini bisa dilihat dari kondisi Jakarta dan Semarang. Air tanah disedot begitu banyak tanpa memikirkan dampak akhirnya tanah di dua daerah ini terus mengalami penurunan, nah Jayapura juga demikian jika tak disikapi,” imbuhnya. Ia menyebut bahwa  potensi air tanah di Jayapura sangat besar namun belum optimal digunakan.

 Yang terlihat dipakai baru disamping Kantor PU Dok IV namun disini pengambilannya juga mulai berlebihan sehingga potensi terjadinya Land Subsidence tadi juga sangat besar. “Karenanya saya setuju dari OPD lingkungan hidup telah memberlakukan pajak untuk air tanah sebab perlu ada perlindungan sehingga harus diproteksi. IAGI juga tidak merekomendasikan membangun bangunan di lokasi yang melintas di daerah patahan atau cesar. Kalaupun terpaksa membangun sebisa mungkin bukan bangunan dengan beban yang berat.

 “Sebenarnya di Papua ini banyak patahan cuma  yang membedakan adalah patahan besar dan kecil. Kalaupun harus membangun saran kami cari ditempat yang datar dan bukan bangunan besar,” imbuhnya. (ade/wen)

newsportal

Recent Posts

Disandera, Dipaksa Dukung OPM Lalu Dihabisi

Ia ditemukan tewas dengan kondisi terbakar bersama mobilnya. Yang bikin heboh adalah, sebelum dieksekusi, ia…

5 seconds ago

Demo Tolak MBG Serentak Disinyalir Terorganisir

Kepala Komnas HAM Papua, Frits Ramandey menduga aksi yang berlangsung di sejumlah daerah tersebut tidak…

1 hour ago

Kericuhan di Pelabuhan, KM Gunung Dempo Pilih Tunda Berlabuh

Saat kapal dalam perjalanan menuju  Jayapura, tiga penumpang ini diketahui merokok di dalam kapal, tepatnya…

2 hours ago

Gereja Membela Harkat dan Martabat Manusia, Jangan Dinilai Gerakan Politik Praktis

   Mofu mengungkapkan bahwa HONAI dibentuk sebagai ruang bersama untuk menjawab berbagai persoalan kemanusiaan, terutama…

14 hours ago

Dorong Penyelesaian Hukum, Jangan Biarkan Pemalangan Jadi Kebiasaan

   Menurutnya, setiap penggunaan tanah masyarakat adat untuk kepentingan umum seharusnya telah melalui proses yang…

22 hours ago

Polisi Ungkap Hasil Labfor Pecahan Botol di Komnas HAM

   Direktur Reserse Kriminal Umum (Dirkrimum) Polda Papua, Kombes Pol Parasian H. Gultom, mengungkapkan bahwa…

23 hours ago