Categories: METROPOLIS

Perempuan dan Anak Paling Rentan Jadi Korban Konflik

Suara Perempuan Papua Bersatu Dorong Penyelesaian Kejahatan Kemanusiaan di Papua

JAYAPURA-Suara Perempuan Papua Bersatu menggelar mimbar bebas di Lingkaran Abepura, Kamis (30/4). Sejumlah aspirasi dari masa aksi disampaikan dengan pengawalan ketat dari aparat kepolisian.
Adapun tuntutan dalam aksi ini tak terlepas dari situasi ketidakadilan, kekerasan, dan diskriminasi terhadap perempuan dan anak di Papua yang menjadi isu kemanusiaan mendesak. Koordinator Suara Perempuan Papua, Iche Murib, menjelaskan bahwa perempuan dan anak merupakan korban yang paling rentan akibat konflik bersenjata yang terus berlangsung antara TNI-Polri dan TPN-PB di seluruh wilayah Papua terutama di Puncak Papua.

Kondisi ini dikawatirkan dapat mengangu kehidupan ibu hamil, lansia serta anak-anak maupun pasien dalam keadaan darurat, hal ini tentu sangat berpengaruh bagi kasus kematian yang diakibatkan oleh struktur negara yang mengabaikan kelangsungan hidup para pengungsi. Iche menyebutkan, hingga saat ini sekira 107.039 ribu pengungsi internal di daerah konflik Papua, yang hidupnya tidak hanya dalam ketakutan moncong senjata, tetapi juga kekerasan akibat tidak tersentuh oleh berbagai akses dasar yang menjadi tanggung jawab negara.

“Dinamika kekerasan negara yang tidak akan menemukan ujungnya, selain berujungnya hidup ribuan rakyat yang direnggut oleh moncong senjata maupun pengabaian negara dalam tanggung jawab dasar Hak Asasi Manusia terhadap warga negaranya,” kata Iche di Abepura.

Melihat kondisi yang terus terjadi saat ini Suara Perempuan Papua Bersatu mengajak seluruh rakyat bangsa Papua untuk bersuara atas kejahatan kemanusiaan yang sedang berlangsung di Tanah Papua.
Tak hanya itu, pihaknya juga menolak PSN di seluruh Indonesia dan Tanah Papua dan Hentikan penangkapan secara sewenang-wenang terhadap masyarakat sipil. Bagi perempuan Papua, tanah adalah “Ibu”. Karena itu, mereka mengecam upaya perampasan tanah adat untuk kepentingan korporasi atau proyek strategis tanpa persetujuan masyarakat lokal diseluruh tanah Papua.

“Menurut kami, hilangnya tanah berarti hilangnya sumber kedaulatan pangan dan identitas budaya bagi perempuan Papua,” ujarnya.

Page: 1 2

Juna Cepos

Recent Posts

Bawa 1,7 Kg Ganja, Dua Tersangka Terancam 20 Tahun Penjara

   Kapolresta Jayapura Kota KBP Fredrickus W. A. Maclarimboen melalui Kasat Narkoba Polresta Jayapura Kota…

2 hours ago

BBM Subsidi Diduga Digunakan untuk Aktivitas Ilegal, Pengawasan Harus Berkelanjutan

Tim Sapu Bersih Penyalahgunaan Migas Provinsi Papua menemukan sejumlah indikasi penyalahgunaan dalam penyaluran BBM bersubsidi…

3 hours ago

Pemprov Papua Batasi Penggunaan HP di Sekolah

  Pembatasan tersebut sejalan dengan Surat Edaran Sekretaris Jenderal Kementerian Agama Nomor 19 Tahun 2026…

4 hours ago

Cegah Konflik Pertanahan, MRP Datangi Polda Papua

    Audiensi tersebut membahas sejumlah persoalan pertanahan yang terjadi di Papua, termasuk perkembangan penanganan…

5 hours ago

Pemkot Dorong Pemulihan Kehidupan dan Ekonomi Korban Kebakaran

   Menurut Mathius, salah satu kebutuhan yang cukup mendesak bagi warga saat ini adalah bahan…

6 hours ago

Posko Ditutup, Seluruh Bantuan Pengungsi Dok V Disalurkan

  Kepala Dinas Sosial Kota Jayapura, Mathius Pawara, mengatakan penyaluran bantuan dilakukan pada hari terakhir…

7 hours ago