Ketika hutan dihancurkan demi proyek perkebunan tebu, sawit, food estate, tambang, maupun proyek strategis nasional lainnya, maka yang dihancurkan bukan hanya pohon dan tanah, tetapi juga sejarah, budaya, dan masa depan rakyat bangsa Papua.
“Kami memandang bahwa situasi di Tanah Papua bukan sekadar persoalan pembangunan yang keliru, tetapi persoalan politik kolonisasi, pendudukan dan eksploitasi sumber daya alam yang bersifat sistemik,” jelasnya.
SETRA menilai bahwa gerakan perjuangan Papua saat ini membutuhkan konsolidasi politik yang lebih kuat dan berakar pada rakyat. Gerakan tidak boleh berhenti pada simbolisme dan retorika elit, tetapi harus kembali membangun kesadaran politik rakyat akar rumput. (jim/tri)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q
Page: 1 2
Suasana haru dan penuh syukur mewarnai pelepasan 103 calon jamaah umrah asal Kota Jayapura yang…
Tak tanggung-tanggung agenda ini sampai melibatkan dua jenderal yang langsung turun ke TKP. Salah satunya…
Menurut Kamino, usulan tersebut sangat tepat sasaran dan menjawab kebutuhan mendesak di lapangan. Ia…
Mereka dilumpuhkan dalam operasi penegakan hukum di kawasan KM 4 Logpon, Distrik Dekai, Kabupaten Yahukimo,…
Kepala Bapperida Provinsi Papua Muflih Musaad di Jayapura, Sabtu, mengatakan saat ini pemerintah provinsi…
Menurut Abisai, momentum peringatan HUT Kemerdekaan bukan hanya sekadar seremoni, tetapi juga menjadi kesempatan…