

Puluhan pelajar terlibat tawuran ketika diamankan di Polsek Sentani Kota, Jumat (24/10). (foto:Yohana/Cepos)
“Anak-anak Harus Tandatangani Surat Pernyatan, JIka Terulang Akan Ditindak Tegas.”Kapolres Jayapura
SENTANI – Dipicu oleh pesan hoaks yang beredar di grup WhatsApp, para pelajar dari SMA Negeri 1 Sentani dan SMK Negeri 1 Sentani terlibat dalam aksi tawuran antarpelajar.
Peristiwa tersebut sudah berlangsung sejak Selasa (21/10) lalu. Meski sebelumnya sempat dibubarkan, ketegangan kembali terjadi hingga berujung pada aksi saling serang antar kedua sekolah.
Akibatnya, sebanyak 41 pelajar diamankan oleh aparat kepolisian di Halaman Polsek Sentani Kota, terdiri atas 34 pelajar SMK N 1 Sentani dan 7 pelajar SMA N 1 Sentani.
Saat dilakukan penggeledahan, polisi menemukan sejumlah senjata tajam yang telah disiapkan para pelajar, di antaranya sebilah parang sepanjang 1 meter, ketapel lengkap dengan batu dan kelereng, serta sebilah pisau kecil. Seluruh barang bukti tersebut langsung diamankan.
Sebagai bentuk pembinaan, para pelajar diberi hukuman fisik seperti jalan jongkok, push-up, hormat bendera, serta latihan baris-berbaris. Mereka juga mendapat pengarahan langsung dari Kapolres Jayapura AKBP Umar Nasatekay, S.I.K., serta Wakil Bupati Jayapura.
Kapolres Umar Nasatekay mengimbau para orang tua untuk lebih mengawasi anak-anak mereka dan menandatangani surat pernyataan bermeterai sebagai jaminan agar peristiwa serupa tidak terulang kembali. ”Orang tua yang memiliki anak-anak harus menandatangani surat pernyataan. Jika hal ini terulang lagi, kami akan tindak tegas,” tegasnya kepada wartawan, Jumat (24/10).
Kapolres juga mengingatkan para pelajar agar tidak mudah terprovokasi oleh pesan-pesan hoaks di media sosial karena tindakan tersebut dapat merugikan banyak pihak, termasuk diri mereka sendiri.
Sementara itu, Kapolsek Sentani Kota AKP Sunardi menuturkan, bahwa tawuran ini telah berlangsung selama tiga hari dan dipicu oleh informasi palsu yang beredar di media sosial. “Informasi hoaks antar sekolah memicu kemarahan pelajar yang akhirnya berujung pada aksi saling serang,” ujarnya.
Page: 1 2
Hanya saja dari banyaknya "pembantu" ini pemerintah diharapkan tak lupa bahwa ada hak dari ribuan…
Pembela HAM Papua, Theo Hesegem menyampaikan, konflik bersenjata yang terjadi di berbagai daerah seperti Kabupaten…
Data Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Kota Jayapura melalui layanan P2TP2A…
Program ini menyasar warga lanjut usia berusia di atas 75 tahun yang hidup sendirian serta…
Menurut Wilem, sejarah mencatat bahwa gaung pemekaran Papua Utara sudah dimulai sejak tahun 2012. Ia…
Dari video yang sudah ditonton ribuan orang ini tak sedikit yang tidak setuju dengan cara…