Categories: SENTANI

Bermakna Kekeluargaan dan Kebersamaan bagi Masyarakat Sentani

Batu Menhir di Kampung Asei yang Memiliki Ukiran Berbentuk Fouw

Bapak Corry Ohee saat menunjukkan Batu Benhir atau Batu Tegak berukir yang berada di Kampung Asei, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, Sabtu (17/10). ( FOTO: Yewen/Cepos)

Batu Menhir atau Batu Tegak di Kampung Asei, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura ternyata mempunyai simbol dan makna sebagai lambang kekeluargaan, dan kebersamaan bagi masyarakat di Sentani.

Laporan: ROBERTHUS YEWEN, Sentani

Batu Menhir atau Batu Tegak dengan ukiran yang selama ini berada di Kampung Asei, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura ternyata tidak hanya menjadi simbol peninggalan pra sejarah masa lalu, tapi memiliki makna yang sangat berkaitan erat bagi kehidupan masyarakat yang berada di pesisir Danau Sentani.

Batu Menhir ini tertancap dengan kondisi tegak ke atas langit. Batunya sendiri berada di samping salah satu rumah warga masyarakat. Kondisi Batu Menhir ini masih terawat dengan baik oleh masyarakat setempat. Tidak hanya itu, Batu Menhir ini memiliki ukiran bermofit Fouw di tengah-tengahnya.

Batu Menhir ini memiliki lebar sekitar 30 Cm dan panjang sekitar 50 Cm. Batu  menhir ini diyakini telah berada pada saat masyarakat mengenal bercocok tanam  dan membangun perkampungan. Batu Menhir ini diyakini berusia sama dengan batu dengan ukiran yang ditemukan di Situs Megalitik Tutari.

“Fouw adalah motif milik ondoafi berbentuk spiral. Makna dari simbol ini dalah ikatan kebersamaan dan kekeluargaan. Makna inilah yang sampai saat ini terus dipertahankan oleh masyarakat di Danau Sentani,” kata Peneliti Balai Arkeologi Papua, Hari Suroto ketika mengajak tim untuk melihat langsung Batu Benhir yang berada di Kampung Asei ini.

Satu per satu dari tim mendengar dengan seksama penjelasan yang disampaikan oleh bapak Corry Ohee tentang simbol dan makna dari ukiran Fouw yang berada di Batu Menhir tersebut.  Untuk usia batu menhir ini sendiri memang Corry tidak tahu pasti.

Ukiran berbentuk ragam hias atau melingkar berbentuk Fouw ini merupakan ikatan kekeluargaan dan kebersamaan. Oleh karena itu, dalam kehidupan orang Sentani secara kekeluargaan hidupnya saling mengikat antara satu dengan yang lainnya.

Ukiran ini memang berbentuk Fouw, tetapi mempunyai makna keterikan rasa kekeluargaan atau persaudaraan. Ukiran ini biasanya diukir di ondoafi dan kepala suku. Karena kepala suku adalah tempat di mana warganya berkumpul dan berembuk membicarakan sesuatu yang berkaitan dengan kehidupan mereka sehari-hari.

“Ini lambang kekeluargaan dan kebersamaan. Sentani sangat terikat dengan hubungan kekeluargaan, sehingga diukir di dalam tiang rumah kepala suku di setiap Sentani,” ungkapnya sembari menunjuk ukiran berbentuk Fouw kepada tim yang melihatnya. (*)

newsportal

Recent Posts

Desak Perlindungan Warga Sipil di Tengah Konflik Bersenjata

Karenanya YKKMP berencana akan memasang baliho hak-hak masyarakat sipil khususnya di Distrik Sinak dan Kembru,…

4 hours ago

Harga Minyak Tanah Bersubsidi di Pengecer Semakin Tak Masuk Akal

arga penjualan minyak tanah (Mitan) bersubsidi di tingkat pengecer pada pasaran Wamena semakin meninggi. Sebab…

5 hours ago

Dua Bersaudara jadi Korban Curas di Kampung Tulem

Aksi pencurian dengan kekerasan kembali terjadi di Jayawijaya kembali terjadi. Kali ini tepatnya di Kampung…

6 hours ago

Rumah Sakit Pengampu Nasional dan Regional Cek Langsung RSUD Merauke

Saat di RSUD Merauke tersebut, para direktur utama rumah sakit tersebut didampingi Kepala Dinas Kesehatan…

8 hours ago

Mimika Diterjang Hujan Lebat dan Angin Kencang

Dalam pernyataan resmi yang dikeluarkan BMKG, sejak pukul 13.00 WIT, hujan dengan intensitas sedang hingga…

9 hours ago

Belasan OPD Absen, Wali Kota Beri Sinyal Ganti

Tak hanya di tingkat OPD, rendahnya partisipasi juga terjadi di jajaran wilayah. Dari lima kepala…

10 hours ago