Ia menambahkan, tidak semua obat dapat dikonsumsi bersamaan. Beberapa jenis antibiotik memiliki interaksi dengan obat lain maupun makanan tertentu yang dapat memengaruhi efektivitas pengobatan. Karena itu, peran apoteker sangat penting untuk memberikan informasi dan pendampingan kepada pasien.
“Apoteker dapat mengarahkan obat mana yang boleh dikonsumsi bersamaan, mana yang harus dipisahkan, termasuk menjelaskan pengaruh makanan terhadap khasiat obat yang digunakan masyarakat,” katanya.
Atas capaian tersebut, IAI Papua berharap program pengendalian resistensi antimikroba dapat terus diperkuat pada tahun 2026 sehingga angka resistensi di Papua dapat ditekan lebih rendah lagi dan kualitas pelayanan kesehatan kepada masyarakat semakin meningkat. (ana/wen)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q
Page: 1 2
Pertamina Patra Niaga mengungkap alasan di balik kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis…
"KTT ASEAN dengan Rusia? Ya di Kazan ya, tanggal 17," kata Havas di Kompleks Istana…
Berdasar laporan yang diterima oleh Komjen Ramdani, lebih dari 90 persen kejahatan jalanan, insiden, dan…
Ia merupakan striker yang membunuh mimpi Persipura pada partai penentu lolos tidaknya kedua tim melaju…
Gubernur Papua Matius D. Fakhiri menilai RSUP Jayapura telah menghadirkan pelayanan kesehatan yang berkualitas, nyaman,…
Sidang yang dipimpin oleh Ketua Majelis Hakim Merna Cinthia, didampingi hakim anggota Irfan Amos Sampe…