

WAMENA – Petani Kopi di Jayawijaya mengaku untuk pengembangan kopi arabika ini, mereka kewalahan dalam memetik kopi tiap harinya. Masalahnya dengan lahan yang luas tak bisa dikerjakan dengan jumlah tenaga yang minim. Hal ini menyebabkan, banyak buah kopi yang sudah masuk usia panen harus jatuh ke tanah begitu saja.
Salah satu Petani Kopi Kampung Perabaga Distrik Pyramid Tersina Wenda mengakui jika lahannya ada 1 hektar dengan jumlah tanaman kopi 1.600 pohon yang dikelola oleh 12 kepala keluarga, untuk panen biasanya dilakukan perminggu dan hasilnya bisa mencapai 200 sampai 300 kilogram dan langsung diolah menjadi biji kopi.
“Kita biasanya pasarkan PT Garuda Mas, Cartenz, dengan harga perkilo yang masih berbentuk biji kopi basah itu seharga Rp 60.000, kalau yang sudah kering untuk kopi biasa itu Rp 100.000, sedangkan yang kualitasnya natural itu dipasarkan dengan harga Rp 250.000 per kilo,”ungkapnya saat ditemui Distrik Pyramid Selasa (5/3) kemarin.
Dalam pengembangan kopi di Distrik Pyramid, kata Tersina Wenda, ada 4 jenis kopi yang dikembangkan, yaki kopi biasa (namanya asal –asalan), Kopi Boks, Kopi Handi dan Kopi Natural, dan yang paling mahal kopi natural itu kopi yang dijemur dalam bentuk masih buah,
“Kami di sini hanya kewalahan untuk memetik kopi, artinya saya harus membayar orang lagi untuk memetik buah kopi ini, karena kalau panen raya 12 kepala keluarga yang mengelola ini tidak mampu memetik buah kopi sendiri,”katanya.
Tersina berharap kepada Pemerintah Kabupaten Jayawijaya segera membuat brand atau produk yang dihasilkan dari Jayawijaya, sehingga pengembangan kopi ini bisa terus dipertahankan oleh masyarakat,
Sementara itu, Bupati Jayawijaya Jhon Richard Banua mengaku Jayawijaya telah memiliki brand kopi sendiri yang diuruskan lewat Kementrian Hukum dan Ham, namun kalau masyarakat mampu untuk terus memasok kopi maka pemerintah daerah akan membuat satu tempat produksi kopi,
“Kami juga akan melihat dan memberikan kendaraan bagi petani kopi seperti Tarsina Wenda untuk menjangkau 6 Distrik guna mengepul kopi, karena sebagai petani kopi ia juga sebagai pengepul kopi dari masyarakat,”bebernya.
Pemerintah Jayawijaya memberikan apresiasi kepada Tersina Wenda karena sudah mau menjadi pengembang kopi dan memacu masyarakat untuk menanam kopi agar masyarakat tidak merasa sulit untuk melakukan penjualan.
“Saya minta kepada OPD terkait untuk tidak berpikir untuk terus membuka lahan, tetapi bagaimana menghidupkan lahan tidur yang bisa dikembangkan, contoh seperti di Distrik Yalengga ada perkebunan kopi tidak terurus hingga menjadi hutan,”tegasnya.(jo/tri)
“Untuk saat ini semua masih bisa terjadi. Pemain asing yang pasti kita sedang mencari. Tiga-tiganya…
Direktur Eksekutif POHR, Thomas Ch. Syufi, menegaskan bahwa karya tersebut bukan sekadar dokumenter biasa, melainkan…
Menurutnya, film Pesta Babi membuka ruang diskusi publik terkait persoalan besar yang selama ini dirasakan…
Sejak pukul 05.30 WIT panitia hari-hari besar Islam (PHBI) Provinsi Papua sudah mempersiapkan tempat di…
TPNPB Kodap XVI Yahukimo juga lanjut Sebby mengancam akan terus melakukan patroli dan operasi terhadap…
Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menetapkan empat warga negara asing (WNA) asal China sebagai tersangka dalam kasus…