“Dulu saya duduk paling belakang dan peringkat ke 34 dari 35 siswa, artinya kedua dari belakang. Tapi hari ini, Puji Tuhan saya bisa jadi pilot, bupati, dan gubernur,” ujarnya.
Selain itu, ia menyoroti program beasiswa yang kerap diberikan tanpa proses seleksi yang ketat. Menurutnya, yang dibutuhkan Papua bukanlah banyaknya pelajar yang dikirim ke luar daerah atau luar negeri, melainkan kualitas lulusan yang benar-benar siap membangun negeri.
“ Satu atau dua, tapi dia qualified. Satu atau dua, tapi dia bisa kerja dan dihargai orang lain. Itu yang kita butuhkan untuk merubah negeri ini,” jelas mantan Bupati Paniai.
Melalui kebijakan pembangunan sekolah dan asrama, Nawipa berharap anak-anak dari daerah konflik maupun wilayah terpencil memiliki kesempatan pendidikan yang setara. Ia menegaskan program ini gratis sehingga tidak ada lagi alasan dari orang tua untuk menolak.
“Kalau orang tua tidak datang waktu pertemuan, ada sanksi SP1, SP2, dan SP3 hingga anaknya dikeluarkan. Karena pendidikan ini tanggung jawab bersama,” pungkas Gubernur Papua Tengah.(tft/fia)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos
Page: 1 2
Pertamina Patra Niaga mengungkap alasan di balik kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis…
"KTT ASEAN dengan Rusia? Ya di Kazan ya, tanggal 17," kata Havas di Kompleks Istana…
Berdasar laporan yang diterima oleh Komjen Ramdani, lebih dari 90 persen kejahatan jalanan, insiden, dan…
Ia merupakan striker yang membunuh mimpi Persipura pada partai penentu lolos tidaknya kedua tim melaju…
Gubernur Papua Matius D. Fakhiri menilai RSUP Jayapura telah menghadirkan pelayanan kesehatan yang berkualitas, nyaman,…
Sidang yang dipimpin oleh Ketua Majelis Hakim Merna Cinthia, didampingi hakim anggota Irfan Amos Sampe…