Categories: MERAUKE

Kejari Merauke Hentikan Penuntutan Dua Perkara Penganiayaan

MERAUKE – Kejaksaan Negeri (Kejari)  Merauke menghentikan penuntutan 2 perkara penganiayaan lewat penyelesaian restorative justice. Kepala Kejaksaan Negeri Merauke, Radot Parulian, SH, MH melalui Kasi Tindak Pidana Umum, Chatarina S. Brotodewi, SH, MH mengungkapkan,  Kamis, (17/11), di  Kantor Kejaksaan Negeri Merauke, pihaknya menyerahkan Surat Ketetapan Penyelesaian Perkara (SKP2) berdasarkan Keadilan Restoratif terhadap tersangka HSK dan tersangka RNS. Kedua tersangka tersebut disangkakan melanggar Pasal 351 ayat (1) KUHP.

    ‘’Hari ini, surat ketetapan penyelesaian perkara berdasarkan Keadilan Restoratif atau Restorative Justice telah kita serahkan kepada kedua tersangka tersebut yang perkaranya kita hentikan setelah mendapat persetujuan dari Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum,’’ katanya saat ditemui media ini, Kamis (17/11).   

   Sebelumnya, kata dia, Jaksa Penuntut Umum yang menangani perkara tersebut yaitu Chatarina S. Brotodewi, SH. MH dan Leily Sriwidianti, SH, selaku Jaksa Fasilitator telah melakukan upaya dan proses penyelesaian perkara berdasarkan Keadilan Restoratif sebagaimana diatur dalam Peraturan Kejaksaan RI No.15 Tahun 2020 tentang Penghentian Penuntutan Berdasarkan Keadilan Restoratif.

      ‘’Setelah upaya dan proses penyelesaian perkara berdasarkan keadilan restoratif dilalui, selanjutnya Senin, (14/11), Kepala Kejaksaan Negeri Merauke, Radot Parulian, SH. MH mengajukan permohonan penghentian penuntutan berdasarkan Keadilan Restoratif terhadap perkara kedua tersangka tersebut kepada Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum (Jampidum) Dr. Fadil Zumhana, SH. MH secara virtual yang dihadiri oleh Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi Papua beserta jajaran dan Kepala Kejaksaan Negeri Merauke beserta jajaran serta jaksa yang menangani perkara tersebut,’’jelasnya.

     Dalam kegiatan tersebut, lanjut dia,  Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum menyambut baik dengan menyetujui permohonan tersebut sehingga perkara atas nama tersangka HSK dan RNS dinyatakan dihentikan.

Dikatakan,  Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum menyampaikan apresiasi kepada Kepala Kejaksaan Negeri Merauke serta jaksa yang menangani perkara tersebut yang telah berperan aktif menjadi fasilitator sehingga terwujudnya proses Penghentian Penuntutan Berdasarkan Keadilan Restoratif, di mana Penghentian Penuntutan Berdasarkan Keadilan Restoratif ini adalah salah satu upaya Kejaksaan untuk mendekatkan diri dengan masyarakat. (ulo/tho)

newsportal

Share
Published by
newsportal
Tags: MERAUKE

Recent Posts

OPD Diingatkan Jangan Kerja Ketika Injury Time

Ia menargetkan seluruh kegiatan dan program dapat terealisasi hampir seluruhnya sebelum memasuki akhir tahun. Bahkan,…

23 hours ago

Selecao Wajib Waspadai Singa Atlas

Timnas Brasil akan menghadapi Timnas Maroko pada laga perdana Grup C Piala Dunia 2026 di…

23 hours ago

Gunakan Sebo Buff, Delapan Anggota OPM Cium Merah Putih

Delapan orang yang disebut sebagai anggota Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) Kodap…

24 hours ago

Disosialisasikan, Rencana Pembangunan Bandar Antariksa Mendapat Dukungan

Selain itu, juga disepakati hasil sosialisasi ini akan ditindaklanjuti dalam penantanganan nota kesepahaman antara masyarakat…

1 day ago

Pendistribusian BBM Diawasi Polisi

Publik juga khawatir dari kenaikan ini justru ada upaya mencari keuntungan sepihak termasuk menerapkan cara-cara…

1 day ago

Belum Ada Razia Lagi, Kendaraan Modifikasi Tangki Kembali Ikut Antrian Pengisian BBM

Pengelola APMS Lasminingsih dan Anwarudin Wamena, Suyono mengaku sebenarnya kalau dikatakan pembiaran itu tidak, sebab…

1 day ago