Categories: LINTAS PAPUA

Papua Tidak Butuh Senjata, Tapi Dialog Kemanusiaan

NABIRE – Senator Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) asal Provinsi Papua Tengah, Eka Kristina Murib Yeimo, menegaskan bahwa penyelesaian konflik di Tanah Papua tidak dapat dilakukan melalui pendekatan senjata, melainkan harus ditempuh melalui dialog yang berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan.

Penegasan tersebut disampaikan dalam diskusi publik bertajuk “Dampak Pendekatan Militer di Papua” yang diselenggarakan oleh Pemuda Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Pusat di Kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Selasa (3/1).

Kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah narasumber, antara lain Senator DPD RI Paul Finsen Mayor, Senator DPD RI Eka Kristina Murib Yeimo, Direktur YLBHI Imanuel Gobay, serta Romo Setyo Wibowo dari Sekolah Tinggi Filsafat (STF).

Dalam pemaparannya, Senator Eka Yeimo menyampaikan bahwa pendekatan militeristik yang selama ini diterapkan di Papua tidak menyelesaikan akar konflik, justru menimbulkan dampak serius bagi masyarakat sipil di wilayah-wilayah konflik.

“Pendekatan militeristik tidak menyelesaikan persoalan Papua, tetapi memperburuk kondisi ekonomi, pendidikan, kesehatan, serta menimbulkan gangguan psikososial hingga dugaan pelanggaran Hak Asasi Manusia,” ujar Eka Yeimo kepada media ini via seluler, Rabu, (4/2).

Ia menjelaskan, pernyataan tersebut didasarkan pada hasil temuan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) periode 2023–2025, laporan Tim Panitia Khusus (Pansus) Papua Tengah, serta hasil kunjungan langsung ke sejumlah daerah konflik, seperti Kabupaten Puncak, Intan Jaya, Dogiyai, dan Distrik Sinak, Kabupaten Puncak, Provinsi Papua Tengah.

Sebagai perwakilan Papua Tengah di DPD RI, Eka Yeimo mengaku telah menyampaikan secara langsung kepada Presiden Republik Indonesia agar negara segera memfasilitasi dialog damai yang melibatkan seluruh pihak yang bertikai, termasuk kelompok bersenjata dan aparat keamanan, guna menyelesaikan akar persoalan Papua.

“Saya menyampaikan kepada Bapak Presiden sebagai Kepala Negara agar memfasilitasi dialog untuk menyelesaikan konflik Papua dengan melibatkan semua pihak, serta menghadirkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai mediator,” ungkapnya.

Eka Yeimo menegaskan bahwa sikap yang ia sampaikan bukan berpijak pada kepentingan politik tertentu, melainkan murni atas dasar kemanusiaan. Menurutnya, manusia diciptakan bukan untuk saling membunuh, melainkan untuk menjaga kehidupan.

“Saya tidak bicara soal Papua Merdeka atau NKRI harga mati. Saya bicara soal kemanusiaan. Kasihan, saling tembak seperti binatang. Baik TNI maupun TPNPB harus sadar dan menghentikan kekerasan,” tegasnya.

Page: 1 2

Juna Cepos

Share
Published by
Juna Cepos

Recent Posts

Laga Pamungkas

Nah sebagai tim tanpa beban ini justru kadang menjadi ancaman bagi kubu tuan rumah karena…

1 day ago

Longsor Susulan di Tembagapura, Dua Honai Hanyut

Cuaca ekstrem yang melanda dataran tinggi Kabupaten Mimika, Papua Tengah, memicu bencana tanah longsor susulan…

2 days ago

Dekai Menghangat, Dua Warga Jadi Sasaran Tembak

Wakil Kepala Satuan Tugas Humas Operasi Damai Cartenz-2026, AKBP Andria, menjelaskan dalam peristiwa tersebut, dua…

2 days ago

Depapre Jadi Basis Perikanan Papua

Gubernur Papua, Matius D. Fakhiri, mengatakan Depapre akan dijadikan pusat pengembangan sektor perikanan di Provinsi…

2 days ago

Pusara Demo Bukan di Papua Harusnya Aksi Menyesuaikan Lokasi

"Karena dulu Papua belum dimekarkan menjadi enam provinsi sehingga demo-demo masih terpusat di Kota Jayapura.…

2 days ago

Cuaca Ekstrem Membayangi Sejumlah Wilayah di Papua

Secara umum kata Finnyalia pola curah hujan di Provinsi Papua dipengaruhi oleh Angin Monsun, sehingga…

2 days ago