

Kapolresta Jayapura Kota, AKBP Fredrickus W.A. Maclarimboen saat audiensi dengan Wartawan di Rumah Bakau Jayapura, Jumat (25/4). (foto:Karel/cepos)
Kapolresta Jayapura Soal Kasus Kekerasan Terhadap Anak di Bawah Umur
Kasus dugaan kekerasan terhadap anak di bawah umur, penyebab kematian dari Nur Aulya di Koya Barat dan hilangnya Tapasya di Dok IX Jayapura, masih menjadi misteri yang sedang diungkap penyidik Polresta Jayapura Kota. Kasus ini pun menyita perhatian masyarakat dan banyak pihak di Kota Jayapura, yang menantikan pengungkapan kasus ini.
Laporan: Karolus Daot-Jayapura.
Nama Nur Aulya dan Tapasya, dua gadis kecil yang seharusnya tumbuh berlari mengejar impian mereka, kini bergema bukan lewat tawa dan ceria, melainkan lewat deru doa panjang yang mengudara memohon keadilan, berharap kepastian.
Nur Aulya, bocah mungil berusia 3,5 tahun, terakhir terlihat di depan ruko kecil tempat kedua orang tuanya mencari nafkah di Koya Barat, Distrik Muara Tami pada 30 Maret 2025 sore. Bermula tak ada firasat buruk, namun hanya hitungan menit, Aulya lenyap dari pandangan.
Empat hari kemudian, tubuh kecil itu ditemukan di tengah rawa tempat yang mustahil ia capai seorang diri. Naasnya ia ditemukan dengan kondisi lengan mungilnya tak lagi utuh. Sungguh kisah polosnya direnggut dalam cara yang sulit diterima akal sehat.
Hingga kini kasus hilangnya Nur Aulya ini masih menjadi perhatian aparat kepolisian. Pasalnya dari 19 saksi telah diperiksa, dua di antaranya melalui metode ilmiah Lie Detector. Penyidik belum juga mampu mengungkap sosok pelaku dibalik kematian tragis dari bocah mungil tersebut.
Adapun barang bukti yang telah diperiksa adalah sandal korban yang awalnya diduga mengandung percikan darah. Namun, setelah dilakukan pemeriksaan forensik, dugaan tersebut tidak terbukti.
Naasnya lagi dari hasil autopsi, ditemukan bahwa dalam lambung korban masih terdapat sisa makanan yang diperkirakan dikonsumsi enam jam sebelum korban meninggal. Namun, keterangan dari ibu korban mengenai makanan terakhir yang diberikan tidak sesuai dengan hasil autopsi.
“Perbedaan keterangan ini membuat proses penyelidikan semakin kompleks. Kami mencoba mengurai kembali kronologi kejadian dari awal sebelum korban dinyatakan hilang,” jelas Kapolresta Jayapura Kota, AKBP Fredrickus W.A. Maclarimboen di Jayapura Jumat (25/4).
"Kemendikbud telah melakukan visitasi bersama FK Uncen dan beberapa rumah sakit pengampu di Provinsi Papua…
Gubernur Fakhiri mengungkapkan, Provinsi Papua memiliki 999 kampung yang seluruhnya telah diupayakan memiliki koperasi. Namun,…
Khusus Bansos yang bersumber dari pemerintah pusat, Pemerintah Kota Jayapura bertugas memastikan bantuan tersebut tersalurkan…
Sejumlah titik yang kerap dijadikan lokasi pasar liar di antaranya kawasan Expo Waena, Perumnas III…
Ketua Panitia Pembangunan, Benhur Tomi Mano, mengungkapkan bahwa pembangunan ini merupakan kerinduan jemaat yang telah…
Kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah narasumber, antara lain Senator DPD RI Paul Finsen Mayor, Senator DPD…