Ke depan, para mama akan kembali ke kampung masing-masing untuk mengajarkan keterampilan ini kepada generasi muda. Bahkan, pelatihan serupa juga direncanakan bagi kaum bapak untuk membuat perlengkapan adat lainnya. Semua karya itu nantinya akan ditampilkan dalam karnaval budaya 17 Agustus di Kota Jayapura berjalan di jalanan kota, dikenakan dengan bangga oleh anak-anak Papua.
“Biar semua orang tau bahwa jati diri orang papua khususnya port numbay masih hidup dietengah perkembangan zaman yang ada saat ini,” tegas perempuan asal Kampung Nafri tersebut.
Di tengah arus modernisasi yang kian deras, mama-mama Port Numbay memberi pesan sederhana namun kuat, budaya tidak akan hilang selama masih ada yang merawatnya.
Di tangan-tangan mereka, manik-manik kecil berubah menjadi simbol besar tentang identitas, kebanggaan, dan masa depan yang tetap berakar pada tradisi. “Karena kami ingin membuktikan kepada semua orang bahwa Papua ini kaya bukan hanya alamnya yang penuh emas tapi juga budayanya,” tegas Nerlince Wamuar. (*/tri)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q
anitia Pelaksana (Panpel) Persipura Jayapura memastikan pengamanan laga terakhir Persipura menjamu Persiku Kudus di Stadion…
Sebanyak 100 unit rumah permanen yang dibangun pemerintah pusat melalui Kementrian Transmigrasi RI di Kampung…
Persiker merupakan juara Liga 4 zona Papua dan menjadi wakil Papua pada seri nasional. Mereka…
Dari 47 CHJ, terdiri dari 18 laki-laki dan 29 perempuan. Jemaah tertua atas nama Kislam…
Ketua NPCI Papua, Jayakusuma menghadiri rapat kerja nasional (Rakernas) NPCI Pusat di Kota Solo, Jawa…
Pemerintah Provinsi Papua menegaskan komitmen kuat dalam menyukseskan penyelenggaraan ibadah haji tahun 1447 H/2026 M.…