Categories: FEATURES

Tiap Kampung Adat Punya Ciri Khas, Tidak Bisa Dijual Sembarangan

Sementara itu, dari Kampung Skouw Sae, lahir karya unik berupa Waa, (Tas) sebuah wadah tradisional dari daun pohon nibun. Bentuknya khas bagian bawahnya meruncing, bagian atas melebar. “Ini biasa dipakai untuk bawa hasil kebun,” kata Mama Sarlota Lomo sambil memperlihatkan hasil anyamannya. Ada pula tas tradisional disebut bae yang kuat dan tahan lama, meski proses pembuatannya hanya memakan waktu sehari.

Di sudut lain, mama-mama dari Kampung Enggros sembari duduk lesehan di sudut ruangan, mereka tampak sibuk merangkai kalung yang disebut Yajwi. Sebuah aksesoris lengkap yang terdiri dari kalung dada, gelang, hingga hiasan pinggang.

Sementara Kampung Skouw Yambe menampilkan rumbai-rumbai dari daun sagu muda, yang biasa digunakan dalam tarian adat. Semua karya itu memiliki fungsi yang sama bukan sekadar hiasan, melainkan bagian dari identitas. Dipakai saat menari, menyambut tamu, hingga upacara adat aksesoris ini adalah bahasa budaya yang diwariskan turun-temurun. Yang menarik, hampir seluruh bahan berasal dari alam sekitar, diantaranga rumput liar, daun sagu, kulit kerang, hingga bambu. Alam bukan hanya sumber kehidupan, tetapi juga sumber estetika dan filosofi.

“Port numbay ini menyimpan banyak barang barang hias yang unik, hanya saja anak muda sekarang jarang berlatih sehingga kadang mereka lihatnya biasa saja,” ungkap Mama Sarlota.

Pelatihan yang digelar selama 24–25 April 2026 ini awalnya berlangsung di Kampung Holtekamp sebelum dipindahkan ke Hotel Horison Kotaraja. Kegiatan ini melibatkan istri-istri Ondoafi, kepala suku, hingga perempuan dari masing-masing kampung adat. Meski dirangkai dengan pelatihan, namun sesungguhnya lebih dari sekadar belajar membuat aksesoris, kegiatan ini menjadi ruang kebangkitan. Karce Awy dari Kampung Nafri menyebut kegiatan ini sebagai langkah penting untuk menghidupkan kembali warisan budaya. “Anak-anak perempuan harus diajarkan. Ini identitas kita orang Port Numbay,” ujarnya.

Ia berharap pemerintah tidak berhenti pada pelatihan, tetapi juga menyediakan ruang seperti galeri agar karya-karya ini bisa diperkenalkan sekaligus menjadi sumber penghasilan. “Supaya kami tidak hanya jadi ibu rumah tangga, tapi juga bisa menghasilkan,” tambahnya.

Ketua MRP sekaligus penggagas kegiatan, Nerlince Wamuar, menegaskan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari upaya menjaga jati diri masyarakat Port Numbay. “Ini bukan hanya keterampilan, ini budaya. Ini identitas orang Port Numbay,” tegasnya.

Page: 1 2 3

Juna Cepos

Recent Posts

Pemprov Papeg Terima Sertifikat KIPP Gunung Susu Seluas 72,5 Hektar

Gubernur Papua Pegunungan, Dr (HC) John Tabo,S.E.,M.B.A, mengatakan Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) Provinsi Papua…

22 hours ago

Perubahan APBD Papua Dikebut, Sejumlah DBH Belum Masuk

  Ia menjelaskan, tambahan DAU tersebut berkaitan dengan kebutuhan belanja kepegawaian yang belum terselesaikan. Di…

23 hours ago

Tahan Rasa Nyeri di Tulang Belakang, Demi Pulang Bawa Uang Untuk Keluarga

  Di sepanjang jalan utama menuju pelabuhan, sejumlah kendaraan datang silih berganti. Di antara suara…

24 hours ago

Warga Kampung Amunkay Harus Rela Antre Panjang untuk Dapatkan Mitan

Pantauan media ini, antrean panjang didominasi kaum ibu. Di bawah terik matahari,  mereka datang dengan…

1 day ago

Ada Monopoli Lapak Ilegal hingga Potensi Konflik di Pasar Otonom

   Langkah tegas Pemerintah Kota Jayapura tersebut, menurut Wakil Ketua Komisi C DPRD Kota Jayapura,…

1 day ago

250 Anak Terlantar di Mimika, Tidak Adanya Rumah Singgah Jadi Kendala

Untuk mendata dan menjangkau ratusan anak tersebut, Dinsos memobilisasi 24 kader yang tersebar di berbagai…

1 day ago