Categories: FEATURES

Panggilan Hati Namun Kerap Terjadi Ancaman Untuk Mati

Bahkan guru-guru yang telah lama mengabdi pun mulai mengundurkan diri atau meminta dipindahkan. Di banyak distrik, sekolah kekurangan guru karena, berbagai alasan diantaranga ancaman keamanan, risiko kekerasan dari kelompok bersenjata, dan kses geografis yang sangat sulit.

“Jika situasi ini terus berlanjut, pendidikan di pedalaman Papua akan semakin tertinggal,” tandasnya.

Hal lain yang disoroti Tiurlina adalah pola penerimaan tenaga guru. Menurutnya, pemerintah daerah kini lebih banyak merekrut guru dari luar Papua ketimbang memprioritaskan alumni FKIP Universitas Cenderawasih, yang selama bertahun-tahun dibentuk untuk memahami konteks sosial budaya Papua.

“Lulusan dari luar Papua belum tentu tahu medan, tradisi, dan dinamika sosial di pedalaman. Sementara alumni Uncen justru dipinggirkan. Ini sangat mengecewakan,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa prioritas seharusnya diberikan kepada putra-putri Papua terlebih dahulu, baru kemudian mengisi kekurangan dengan guru dari luar. Peringatan Hari Guru Nasional ke-80 seharusnya menjadi momentum untuk refleksi mendalam, khususnya di Papua. Prof. Tiurlina memberikan pesan agar kedepannya nasib kesejahteraan guru lebih diperhatikan.

“Pemerintah dan masyarakat harus melindungi mereka. Tanpa perlindungan, tanpa keamanan, tidak akan ada guru yang mau ke pedalaman. Karena Guru adalah pilar masa depan. Ketika pilar itu retak, maka generasi yang ditopangnya ikut rapuh,” tegas Prof. Tiurlina Ia pun menurutkan bahwa usia 80 tahun Hari Guru Nasional adalah usia matang namun bagi para guru di Papua, kematangan itu belum terasa.

Mereka masih hidup dalam bayang-bayang ancaman, bekerja dengan rasa takut, dan sering kali tak mendapatkan penghormatan ataupun perlindungan yang seharusnya mereka terima.

Sementara negara merayakan Hari Guru dengan pidato dan seremoni. Para guru di pedalaman Papua merayakannya dalam diam di tengah trauma yang belum pulih, dan ketidakpastian yang terus mengintai. “Hari Guru ke-80 menjadi pengingat pahit bahwa perjuangan guru Papua belum sejahtera, belum aman, dan belum merdeka,” pungkas Prof. Tiurlina.

Page: 1 2 3 4

Juna Cepos

Share
Published by
Juna Cepos

Recent Posts

Bupati Piter Gusbager Launching Safari Ramadhan dan Alokasikan 2 Miliar

Sebagai wujud nyata kepedulian pemerintah, Bupati mengumumkan total anggaran sebesar Rp 2 miliar yang dialokasikan…

16 hours ago

Menjejak di Debi, Tahun 1900 an Ondoafi Ikut Menerima Injil

Pulau kecil ini menjadi saksi awal masuknya Injil di wilayah Tabi—yang meliputi Jayapura, Sarmi, dan…

17 hours ago

Ada Ledakan Saat 22 Rumah Prajurit Terbakar

Meski tidak menimbulkan korban jiwa, insiden ini menyebabkan kerugian material yang diperkirakan cukup besar karena…

18 hours ago

Pergantian Pemimpin Iran Tak Sesuai Harapan Trump, Konflik Diprediksi Rumit

Pemerintah Teheran kemudian mengumumkan masa berkabung nasional selama 40 hari. Ketidaksenangan Trump mencerminkan harapan Washington…

19 hours ago

Sikapi Situasi di Timur Tengah, Indonesia Siapkan Skenario Terburuk

Ketua Umum (Ketum) Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengungkapkan, Presiden Prabowo telah memitigasi berbagai…

20 hours ago

Kisah Mobil Listrik Cello Buatan Indonesia yang Gagal Produksi

Mobil listrik Cello pun lahir sebagai salah satu prototipe yang cukup ambisius pada masanya. Secara…

21 hours ago