Persoalannya, bagi warga Mandala yang mayoritas menggantungkan hidup sebagai nelayan, meninggalkan kawasan tersebut bukan perkara mudah. “Kami tidak mungkin pindah. Kami punya surat pelepasan, dan kami ini nelayan. Tidak mungkin tinggal jauh dari laut,” katanya.
Karena itu, yang paling dibutuhkan warga saat ini bukan sekadar bantuan, tetapi kepastian. “Kami hanya butuh kepastian, agar kami bisa bangun kembali rumah-rumah di sini,” ucap Bakran.
Berbeda dengan Bakran yang mulai membangun gubuk sementara, Akbar belum mampu melakukan hal yang sama. Keterbatasan ekonomi membuat dirinya bersama keluarga terpaksa bertahan di bawah lorong tribun Lapangan Mandala.
Akbar merupakan nelayan dengan tanggungan keluarga besar. Ada orang tua, istri dan anak-anak yang harus dipikirkan. “Mau bagaimana lagi, saya ini keluarga besar. Ada orang tua, istri dan anak-anak. Kami tidak bisa tinggal di kos. Sementara saya seorang nelayan. Kami hanya berharap pemerintah bisa cepat bangun rumah,” ujarnya.
Kebakaran juga membuat aktivitas melautnya terhenti. Perahu yang biasanya digunakan untuk mencari ikan kini justru menjadi tempat tinggal sementara keluarganya. “Jadi siang kami di Lapangan Mandala, kalau malam kami tidur di perahu,” tuturnya.
Kondisi itu membuat Akbar belum dapat kembali bekerja seperti biasa. Perahu yang semestinya menjadi alat untuk mencari nafkah, kini harus digunakan untuk bertahan hidup.
Ia sebenarnya ingin segera membangun kembali rumah di lokasi bekas kebakaran. Namun, seperti warga lainnya, ia masih menunggu keputusan pemerintah terkait rencana pembangunan dan penataan kawasan tersebut.
“Kami dapat imbauan dari pemerintah sementara belum bisa bangun, jadi kami masih tunggu keputusan itu saja,” katanya.
Akbar berharap pemerintah tidak membiarkan warga terlalu lama berada dalam ketidakpastian. Sebab, setelah kehilangan rumah, warga kini dihadapkan pada pertanyaan lain di mana mereka akan tinggal dan kapan mereka boleh kembali membangun kehidupan.
“Kami berharap pemerintah tidak bertele-tele, tapi beri kepastian kepada korban terkait pembangunan di kawasan tersebut. Karena kami ini nelayan, tidak mungkin tinggal jauh dari laut,” pungkasnya (*/tri)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos
UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q
Penertiban dilakukan setelah polisi menerima informasi dari masyarakat terkait aktivitas penjualan Boplas yang dinilai meresahkan.…
Aktivitas kantor di Sekretariat DPR Papua, Jumat (25/9) mendadak tegang. Ini lantaran sejumlah penyidik kejaksaan…
Kedatangan para tokoh adat dipimpin Ketua Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Waropen di Tanah Tabi, Karlos…
Alih-alih masuk ke blok hunian utama, tim Ombudsman justru menemukan deretan bangunan yang menarik perhatian.…
Presiden Prabowo Subianto memutuskan membentuk Badan Pengelola Gambut dan Mangrove Nasional (BPGMN) untuk memperkuat pencegahan…
Juru Bicara BGN Tysa Novenny mengatakan keterlibatan sekolah menjadi bagian penting dalam membangun sistem pengawasan…