Categories: FEATURES

Tak Perlu Lagi Ke Luar Daerah, RSUD Abepura Punya Alat Canggih Tangani Pneumoia

Ngobrol Bareng dr. Jumilarita Menyoal Secercah Harapan Penderita Pneumonia di Papua

RS Abepura resmi mengoperasikan alat bronkoskopi anak. Sebuah fasilitas medis canggih yang menjadi satu-satunya di seluruh wilayah Papua. Tabung tipis dengan kamera dan lampu di ujungnya untuk memeriksa saluran pernapasan dan paru-paru.

Laporan: Jimianus Karlodi_Kota Jayapura

Bagi seorang anak, saluran pernapasan adalah jalur utama kehidupan. Namun, ketika infeksi dan penyakit merenggut fungsi vital tersebut, setiap tarikan napas berubah menjadi perjuangan yang cukup berat apalagi dengan usia yang belum sepenuhnya kuat menahan dampak dari infeksi.

​Pneumonia atau yang kerap dikenal masyarakat awam sebagai paru-paru basah masih menjadi “pembunuh” nomor satu pada balita, baik di tingkat global maupun nasional. Di wilayah Papua, ancaman ini kian meluas dengan tingginya kasus Tuberkulosis (TB) paru, TB ekstra paru yang menyerang organ di luar paru seperti kelenjar atau selaput otak), hingga asma berat yang tak kunjung membaik.

Jumilarita, M.Kes., Sp.A., Subsp.Respi (K) – Jimi Cepos

​Sistem respirasi manusia membentang luas mulai dari lubang hidung, tenggorokan, pipa pernapasan (trakea), hingga ke kantung-kantung udara (alveolus) di dalam paru-paru. Pada tubuh anak-anak, saluran pernapasan ini ukurannya jauh lebih kecil dan fleksibel dibandingkan orang dewasa. Ketika terjadi infeksi akibat bakteri atau virus, dinding saluran ini mudah membengkak dan dipenuhi lendir kental.

​Akibatnya, kantung udara yang seharusnya terisi oksigen justru tersumbat oleh cairan atau nanah. Inilah yang membuat anak mengalami sesak napas berat, dada tertarik ke dalam, hingga kekurangan oksigen yang berujung fatal jika tidak segera ditangani. ​Selama bertahun-tahun, ketika anak-anak di Papua mengalami masalah pernapasan kompleks seperti infeksi berulang atau sumbatan saluran napas, keluarga pasien dihantui satu opsi tersulit yakni rujukan ke Pulau Jawa.

Kota-kota seperti Jakarta (RSCM), Yogyakarta (RS Sardjito), hingga Bandung (RS Hasan Sadikin) menjadi tujuan utama karena keterbatasan fasilitas dan tenaga ahli di Indonesia Timur. ​Skenario rujukan antarpulau yang memakan waktu dan biaya besar itulah yang memanggil hati dr. Jumilarita, M.Kes., Sp.A., Subsp.Respi (K). Mengawali kariernya sebagai dokter umum di RSUD Abepura pada 2001, ia kemudian menyelesaikan pendidikan spesialis anak pada 2006 hingga 2011.

Page: 1 2 3

Juna Cepos

Recent Posts

SMAN 8 Jayapura Pasca Siswinya Jadi Pembawa Baki Paskibraka Nasional

  Namun, Neeltje bukan sekadar anggota Paskibraka. Pada puncak peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia…

9 hours ago

LAN: Pahami Akar Persoalan, Baru Buat Program!

   Pesan tersebut disampaikan Deputi Bidang Penjaminan Mutu Pengembangan Kapasitas dan Pembelajaran ASN Lembaga Administrasi…

11 hours ago

Tak Kunjung Direnovasi, Warga Dok IX Tagih Janji Mendagri

  “Saat datang, Mendagri kasih waktu pengerjaan dua minggu dan paling lambat satu bulan. Namun…

14 hours ago

Cegah Penyakit Jantung, Aktifkan Deteksi Dini dan Pola Hidup Sehat

Wakil Wali Kota Jayapura, Rustan Saru, bersama Ketua Yayasan Jantung Indonesia (YJI) Provinsi Papua, Susana…

15 hours ago

Prioritaskan Program yang Bersentuhan Langsung dengan Masyarakat

   Menurutnya, perhatian khusus perlu diberikan kepada OPD yang menjalankan pelayanan publik secara langsung. “Program-program…

16 hours ago

Rumah Singgah ODGJ dan Anak Terlantar Diminta Segera Direalisasikan

Anggota DPRK Kota Jayapura, Barend Bartolomeus Taniauw atau akrab disapa Barto, mendorong Pemerintah Kota Jayapura…

17 hours ago