Categories: METROPOLIS

LAN: Pahami Akar Persoalan, Baru Buat Program!

JAYAPURA-Kepala Daerah  diminta tidak tergesa-gesa menawarkan program sebelum memahami akar persoalan yang dihadapi masyarakat. Setiap kebijakan harus disusun berdasarkan data, kondisi lapangan, konteks adat, serta pemetaan kepentingan para pihak.

   Pesan tersebut disampaikan Deputi Bidang Penjaminan Mutu Pengembangan Kapasitas dan Pembelajaran ASN Lembaga Administrasi Negara (LAN) RI, Army Winarty, dalam Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat II Provinsi Papua yang bekerja sama dengan LAN RI bagi aparatur di lingkungan Pemerintah Provinsi Papua dan kabupaten se-Tanah Papua, di Aula BPSDA, Jumat (28/8).

   Army mengatakan, terdapat lima kapasitas kepemimpinan yang perlu diasah peserta selama mengikuti PKN Tingkat II. Kemampuan pertama adalah diagnosis sistemik, yakni kemampuan memahami persoalan secara menyeluruh sebelum menentukan program atau kebijakan.

   “Jangan tergesa-gesa menawarkan program sebelum memahami akar persoalan. Gunakan data, dengarkan masyarakat, pahami konteks adat, dan petakan relasi antar pemangku kepentingan,” tegasnya dalam sambutannya.

   Menurut Army, pemimpin tidak cukup hanya menyelesaikan persoalan yang muncul hari ini. Mereka juga harus mampu membaca perubahan dan menyiapkan berbagai kemungkinan yang dapat terjadi di masa depan.

  Kemampuan kedua yang perlu dibangun adalah berpikir antisipatif. Pemimpin dituntut menyusun beberapa skenario masa depan, sekaligus mengidentifikasi risiko dan peluang dari setiap pilihan kebijakan.

  Army menekankan pentingnya kepemimpinan kolaboratif. Menurut dia, persoalan seperti kemiskinan, pendidikan, kesehatan dan peningkatan daya saing tidak dapat diselesaikan oleh satu perangkat daerah secara sendiri.

  “Era pemimpin serba tahu telah selesai. Tidak ada satu perangkat daerah yang mampu menyelesaikan kemiskinan, pendidikan, kesehatan, dan daya saing secara sendiri. Kepemimpinan hari ini bukan hanya tentang kewenangan, tetapi tentang pengaruh dan kemampuan membangun tujuan bersama,” ujarnya.

   Kemampuan keempat adalah keberanian melakukan eksperimen kebijakan. Army menegaskan inovasi bukan berarti mengabaikan aturan, melainkan menemukan cara baru yang tetap sah, etis, sesuai konteks dan memberikan dampak.  “Mulailah dari skala terukur, evaluasi hasilnya, lalu perluas apabila terbukti berhasil,” katanya.

Page: 1 2

Juna Cepos

Recent Posts

25 Tahun Menanti Ganti Rugi, Ahli Waris Kembali Palang Kantor PUPR

Persoalan tanah adat kembali mencuat di lingkungan Pemerintah Provinsi Papua. Gerbang Kantor Dinas Pekerjaan Umum…

11 hours ago

Berkeliaran dan Membahayakan, Keberadaan ODGJ Resahkan Warga

   Laporan yang masuk ke kepolisian tidak lagi sekadar gangguan ketertiban biasa, melainkan ancaman fisik…

12 hours ago

Pura-pura Beli Susu, Hajar Pemilik Kios Hingga Tangan Patah

   Guntur menjelaskan, kejadian bermula ketika korban didatangi seorang pria yang tidak dikenal dengan alasan…

13 hours ago

Pedagang Angkat Isu Pasar Dalam Torang Tanya Wali Kota Jawab

Pemerintah Kota Jayapura segera mengambil langkah untuk membenahi kondisi Pasar Mama Papua yang saat ini…

14 hours ago

Pemprov Papua Siapkan Sekolah Khusus di Empat Kabupaten

Pemerintah Provinsi Papua melalui Dinas Pendidikan berkomitmen memperkuat layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus. Salah…

15 hours ago

Soal Kasus di SMAN 4,  Sekolah Diminta Ambil Keputusan Tegas

  Rustan mengatakan, persoalan tersebut diketahui setelah adanya laporan dari masyarakat dan pemberitaan di media…

16 hours ago