Categories: FEATURES

Tetap Jalan Seperti Biasa, Tapi Sebagian Stok Obat Kosong dan CT Scan Rusak

Aktifitas Pelayanan di RSUD Jayapura di Tengah Polemik Pejabat Direktur

Di tengah polemik jabatan direktur RSUD Jayapura yang saat ini menjadi sorotan masyarakat, tidak elok jika akhirnya berdampak pada pelayanan kesehatan kepada para pasien yang dirawat di rumah sakti tersebut. Untuk melihat dampak polemic tersebut, Cenderawasih Pos melihat langsung pelayananan di rumah sakit termasuk keluhan dari pasien.

Laporan: Elfira_Jayapura

Meski saat ini masih terjadi polemik kepemimpinan/jabatan  Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dok II, namun dari pantauan Cenderawasih Pos, secara kasat mata, aktifitas di rumah sakti masih berrjalan seperti baiasa.

  Terlihat masih banyak masyarakat yang tetap sabar mengantri di loket pendaftaran rumah sakit demi untuk mendapatkan pelayanan medis, Senin (15/5) pagi. Ada yang duduk di kursi roda sembari didorong petugas medis, ada yang memilih berdiri, dan ada juga yang duduk di kursi besi sembari mengerutu lantaran sudah lama antre, namun namanya tak kunjung dipanggil di loket pendaftaran.

  Senin kemarin, pelayanan medis di Rumah Sakit Dok II tetap berjalan sebagaimana mestinya di tengah polemik yang terjadi. Bahkan, sebagian warga yang datang berobat mengaku tidak tahu menahu dengan polemik yang terjadi.

  Desiana, salah satu warga yang Keerom yang dirujuk ke RSUD Dok II mengaku tidak tahu dengan persoalan yang terjadi di rumah sakit. Meski begitu, dia mengeluhkan pelayanan di rumah sakit.

“Saya datang sejak pukul 8:30 WIT hingga pukul 11:30 WIT. Namun belum juga dilayani di loket pendaftaran,” terang Desiana yang merupakan pasien rujukan dari Puskesmas Senggi ini.

  Desiana mengaku, pelayanan di RSUD Dok II lambat jika dibandingkan dengan rumah sakit lainnya tempat dimana ia biasa berobat.

  Warga lainnyam Yeki Kaba menyampaikan, anaknya masuk RSUD Jayapura sejak Jumat (12/5). Sejauh ini, tidak ada kendala dalam pelayanan di rumah sakit yang berlokasi di Dok II itu.

  “Kami merupakan pasien rujukan dari Yalimo dengan menggunakan KPS, hingga saat ini tidak ada kendala dalam pelayanan kesehatan kepada anak dan isteri saya,” ungkap warga Yalimo ini.

  Di sudut ruang rumah sakit lainnya, Sule keluarga salah satu pasien menyampaikan pelayanan medis berjalan seperti biasa tanpa ada kendala. Hanya saja, ada beberapa dokter  yang tidak pernah masuk hingga kini berkaitan dengan pasien yang dia bawa.

  Kata Sule, pelayanan Nakes yang baik namun tidak dibarengi dengan beberapa fasilitas kesehatan yang memadai di RSUD Dok II. Contohnya, CT Scan yang mengalami kerusakan di rumah sakit tersebut.

  “Keluarga saya terpaksa melakukan pemeriksaan di rumah sakit lain lantaran CT  Scan yang rusak di RSUD Dok II. Akibatnya, kami mengeluarkan uang sebesar Rp 4 juta untuk pemeriksaan tersebut,” bebernya.

  Persoalan lainnya di RSUD Dok II, kata Sule, stok obat-obatan untuk penyakit tertentu tidak tersedia di rumah sakit. Akibatnya, keluarga pasien terpaksa membeli obat di luar rumah sakit.

  “Bangunannya megah, pelayanannya baik. Sayangnya semua itu tidak dibarengi dengan peralatan dan obat-obatan. Apakah pasien mau diobati dengan bangunan rumah sakit?,” singgungnya.

  Terkait dualisme kepemimpinan, Sule manyampaikan bahwa siapa pun yang menjadi pejabat di RSUD Dok II itu demi masyarakat. Karena itu,  apa yang menjadi kekurangan di rumah sakit itu menjadi tanggungjawab pimpinan.

  “Dualisme kepemimpinan jangan sampai korbankan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Sebab, harapan masyarakat Papua siapapun yang menjadi pemimpin di RSUD Dok II dia harus bermanfaat bagi masyarakat. Jangan lantaran polemik menjadikan masyarakat korban,” tuturnya.

  Menurut Sule, masyarakat hanya membutuhkan pelayanan penanganan medis ketika mengalami sakit. Bukan hal lainnya.

   Sementara itu, Wakil Direktur Pelayanan Medik dan Keperawatan dr. Andreas Pekey, Sp.PD menyampaikan, dampak dari kekuranagan obat-obatan di RSUD Dok II, jika berlarut larut akan menghambat pelayanan di rumah sakit.

  Bukan hanya obat-obatan yang menjadi masalah, kata dr Andreas, melainkan juga beberapa peralatan medis yang ada di RSUD Dok II. “Dampak dari kekurangan tersebut maka harus ada hal-hal tertentu yang harus diputuskan oleh seorang direktur rumah sakit. Kami berharap polemiknya tidak berkepanjangan,” pintanya.

  Menurut dr Andreas, sejauh ini pelayanan medis di RSUD Dok II tetap berjalan seperti biasa.(*/tri)

newsportal

Share
Published by
newsportal
Tags: RSUDJAYAPURA

Recent Posts

Sempat Tak Percaya Saat Disuruh Main Baki Sore

Bagi Kota Jayapura, keberhasilan Nelce bukan sekadar prestasi seorang pelajar. Ada nama sekolah, keluarga, Kota…

12 hours ago

Tiga Hari Lagi, Persipura Launching di Enam Kota

Ada yang berbeda dari launching Persipura kali ini. Untuk pertama kalinya, rangkaian launching akan digelar…

18 hours ago

Sensus Ekonomi Papua Terkendala Sinyal dan Keraguan Warga

   Plt. Kepala BPS Papua, Akhmad Jaelani, mengatakan karakteristik wilayah Papua membuat proses pendataan membutuhkan…

23 hours ago

Pemkot dan Bulog Salurkan 1.122 Ton Beras untuk 37.401 Penerima

Penyaluran bantuan pangan ini menyasar 37.401 penerima bantuan pangan yang tersebar di 25 kelurahan dan…

24 hours ago

PAN Papua Panaskan Mesin Politik

Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Partai Amanat Nasional (PAN) Papua bersama seluruh DPD PAN tingkat kabupaten/kota…

1 day ago

Terima SK, Ratusan ASN Diminta Bekerja Baik Melayani Masyarakat

   Status baru sebagai ASN membawa tanggung jawab yang lebih besar untuk mengabdi kepada negara…

1 day ago