Categories: FEATURES

Ada Empat Kasus Kekerasan Menonjol Awal 2026, Dorong Dialog Untuk Redam Konflik

Dari Pertemuan Komnas HAM Papua Bersama Pengurus BEM PTN/PTS di Jayapura

Komnas HAM Papua menggelar pertemuan dengan sejumlah pengurus Badan Ekesekutif Mahasiswa (BEM) dari sejumlah perguruan tinggi negeri dan swasta (PTN/S) di Kota Jayapura. Lantas apa saja yang terungkap?

Laporan: Elfira_Jayapura

Komnas HAM Perwakilan Papua menggelar pertemuan bersama paralel pandangan masyarakat sipil tentang trend kekerasan di Papua dan upaya penyelesaian konflik. Kegiatan yang berlangsung di Kantor Komnas HAM Papua, Selasa (14/4) dihadiri sejumlah pengurus BEM dari perguruan tinggi negeri dan swasta di Kota Jayapura.

Dalam kesempatan ini, Komnas HAM Papua memaparkan sejumlah temuannnya. Di mana sepanjang awal 2026 ini, Komnas HAM Papua mencatat ada empat kasus kekerasan menonjol terjadi sepanjang awal 2026. Peristiwa tersebut menelan korban jiwa, memicu penyiksaan warga sipil, hingga menyebabkan pengungsian.

Kepala Perwakilan Komnas HAM Papua, Frits Ramandey, menyebut empat kasus yang disoroti meliputi pembunuhan dua pilot di Bandara Korowai Batu, penyerangan pos TNI di Kampung Sori, Kabupaten Maibrat, pembunuhan tenaga kesehatan di Kampung Bamusbama, serta kekerasan di Kabupaten Dogiyai.

“Dari rangkaian peristiwa itu, sekitar 14 orang meninggal dunia, 13 warga sipil mengalami penyiksaan, dan puluhan lainnya mengungsi,” ujarnya.

Komnas HAM menyatakan telah melakukan pemantauan dan koordinasi penanganan terhadap kasus-kasus tersebut. Dalam pertemuan itu, 15 pengurus BEM dari perguruan tinggi negeri dan swasta di Jayapura dilibatkan untuk membahas tren kekerasan dan upaya penyelesaian konflik.

Menurut Frits, mahasiswa merupakan mitra strategis yang perlu dilibatkan dalam merumuskan langkah penanganan konflik dan mitigasi kekerasan di Papua. “Masukan mahasiswa penting untuk mendorong situasi HAM yang lebih kondusif,” katanya.

Dalam forum tersebut, mahasiswa mendesak Komnas HAM menginisiasi forum nasional yang melibatkan berbagai elemen masyarakat Papua guna merumuskan solusi penyelesaian konflik secara menyeluruh.

“Pertemuan ini menjadi bagian dari upaya membuka ruang dialog dan memperkuat koordinasi dalam meredam kekerasan di Papua,” katanya.

Frits Ramandey menegaskan pihaknya tidak dalam posisi mengeluarkan rekomendasi, tetapi membuka ruang untuk menyerap pandangan mahasiswa terkait upaya mitigasi konflik di Papua.

“Kami tidak membuat rekomendasi. Kami ingin mendengar masukan mahasiswa karena mereka punya posisi strategis dalam menyebarkan upaya mitigasi konflik di masyarakat,” ujarnya.

Page: 1 2

Juna Cepos

Recent Posts

Atasi Ketimpangan Layanan Medis, Dokter dan Perawat Papua Harus Perkuat Skill

Papua Surgical Update (PSU) 2026 ini diikuti oleh ratusan peserta yang terdiri dari dokter spesialis,…

22 hours ago

Pasca Penertiban, Pemkot Didesak Data Ulang Pedagang

Pares menyatakan, Komisi C secara penuh mendukung langkah tegas Pemkot Jayapura dalam menertibkan area pasar.…

1 day ago

Terindikasi Melanggar, Ribuan Barcode BBM Bersubsidi Diblokir

   Area Manager Communication, Relation & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Papua dan Maluku Ispiani…

1 day ago

Pemilihan Rektor Uncen Jadi Agenda Prioritas

   Untuk memastikan roda organisasi dan pelayanan akademik tidak terhenti, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan…

1 day ago

Gubernur: Layanan Pertanahan Harus Menjangkau Pelosok!

Gubernur Papua Matius D. Fakhiri mendorong pelayanan pertanahan dapat menjangkau masyarakat hingga wilayah pelosok melalui…

1 day ago

Manfaatkan Dana Kampung untuk Kembangkan Potensi Lokal

  Abisai menilai, kearifan lokal dan berbagai potensi yang dimiliki setiap kampung merupakan kekayaan yang…

1 day ago