Categories: FEATURES

Ada Batu Bogor yang Harus Bunyikan Klakson

Kisah Perjuangan Kapten Kapal Pengangkut Barang ke Daerah Terisolir Papua

Di tengah keterbatasan akses menuju daerah terisolir, ada kelompok “pejuang rupiah” yang siap membelah lautan. Satu jalur yang palign sering dilalui adalah menuju Mamberamo Raya. Cenderawasih Pos akhirnya diajak ngobrol oleh mereka.

Laporan: Priyadi_Jayapura

Nadi perekonomian di beberapa daerah terisolir nampaknya tak lepas dari tangan-tangan hebat para nahkota dan awak kapal yang selama ini kerap ngetem di Porasko, Jayapura. Jika berjalan ke arah laut akan ketahuan bahwa ada banyak kapal kayu berukuran besar yang sedang menunggu waktu untuk berangkat.

Ada sejumlah rute dan salah satunya menuju Mamberamo Raya. Ya jika hanya mengandalkan pesawat tentu cost yang dikeluarkan tak sedikit. Selain itu barang yang dibawa juga terbatas. Sementara jika menggunakan kapal tentunya bahan material termasuk kendaraan juga bisa diangkut serta. Secara kapasitas, kapal kayu ini bisa mengangkut beban seberat 100 ton sehingga tentunya sangat membantu warga di daerah terpencil.

Hanya saja semua perjalanan laut yang diarungi tentu memiliki cerita yang menarik karena butuh perjuangan, efort untuk bisa lolos dari gelombang dan sampai ke tujuan. Bukan hal mudah untuk melewati semua namun berkat pengalaman dan jam terbang akhirnya barang dan semua narkoda serta awak kapal bisa tiba selamat sampai tujuan. Ya, di balik setiap pelayaran, ada cerita tentang gelombang tinggi, habisnya ribuan liter solar dan perjuangan awak kapal menyusuri jalur sungai.

Dari sekian banyak kapal, bisa dibilang Kapal Segara Wangi ini menjadi langganan warga. Jadi jika kapal ini tak beroperasi maka dampaknya akan sangat terasa. “Bisa dibilang kapal ini paling primadona karena paling sering melakukan perjalanan untuk pendistribusian barang,” kata,” kata Kapten Kapal, Zainudin saat ditemui di Porasko, Senin (13/7). Saat bertemu Kapten Zainudin sedang menikmati makan bersama enam anak buah kapal (ABK).

Setelah selesai, pria berusia lebih dari 60 tahun itu menghampiri dan mulai bercerita tentang perjalanan panjangnya sebagai pelaut. Dengan bangga ia menyampaikan bahwa puluhan tahun hidupnya dihabiskan bersama kapal. Tidak hanya di Papua, ia juga pernah bekerja sebagai juru mudi di tanah kelahirannya, Sulawesi Selatan. Ia pernah meninggalkan Segara Wangi untuk pulang kampung, sebelum akhirnya kembali lagi menakhodai kapal tersebut. Menurut Zainudin, jumlah kapal barang yang melayani pengangkutan menuju Mamberamo Raya kini sangat terbatas.

Ada kapal yang hanya mengangkut kebutuhan sendiri, sementara kapal lainnya mengalami kerusakan dan belum kembali beroperasi. Dalam kondisi normal, perjalanan menuju Mamberamo Raya membutuhkan waktu sekitar dua hari. Namun waktu tempuh bisa bertambah menjadi tiga hari ketika kondisi cuaca dan gelombang tidak bersahabat. Bulan Desember dan Januari menjadi periode yang cukup menantang.

Gelombang lebih tinggi membuat perjalanan kapal kayu seperti Segara Wangi harus dilakukan dengan lebih hati-hati.Menjadi kapten di jalur ini bukan sekadar memegang kemudi. Zainudin harus memahami karakter sungai, memperhitungkan muatan dan membaca kondisi alam. Kesalahan perhitungan dapat membawa risiko besar. Kapal berbahan kayu lebih kuat merasakan ayunan gelombang dibandingkan kapal berbadan besi. Karena itu, keseimbangan muatan menjadi perhatian penting sebelum kapal meninggalkan dermaga.

Untuk sekali perjalanan menuju Mamberamo Raya, Segara Wangi membutuhkan sekitar 2.000 liter solar atau sekitar 4.000 liter untuk perjalanan pergi-pulang. Bahan bakar menjadi salah satu kebutuhan vital. Selain untuk perjalanan kapal, awak terkadang membawa persediaan tambahan untuk mengantisipasi kebutuhan selama perjalanan.

Dalam sebulan, Segara Wangi biasanya hanya mampu melakukan satu kali perjalanan pergi-pulang. Kapal baru berangkat setelah muatan dinilai mencukupi. Barang yang diangkut beragam, mulai dari sembako, material bangunan hingga suku cadang kendaraan. Pengirimnya pun berasal dari berbagai kalangan, mulai dari toko bangunan, bengkel hingga masyarakat umum.

Saat ditemui, Kapal barang Segara Wangi belum bersiap berangkat. Kapal masih menjalani perawatan selama beberapa hari, termasuk pengecatan bagian badan kapal. “Bos mau cat bagian bawah kapal supaya kelihatan bagus. Kapal juga butuh perawatan supaya tetap kuat, aman dan enak dipandang,” ujar Zainudin.

Untuk menuju Mamberamo Raya, kita bisa menggunakan dua jalur transportasi dari Jayapura, bisa naik pesawat perintis dari bandara Sentani yang mendarat langsung di bandara Kasonaweja, bisa juga menggunakan KM Cantika Lestari 77 yang berangkat sekali dalam satu minggu dari pelabuhan Jayapura atau kapal yang dioperasionalkan oleh Zainudin ini.

Perjalanan menuju Mamberamo Raya bukan hanya soal menaklukkan sungai. Selama dua hari pelayaran, kapal juga melewati dan singgah di sejumlah kampung. Menurut Zainudin, perjalanan tersebut melewati sekitar empat kampung hingga mencapai wilayah tujuan terakhir di Kampung Burmeso.

Soal jadwal keberangkatan, biasanya dari Jayapura, kapal berangkat sekitar pukul 15.00 WIT dan sekitar pukul 05.00 WIT kita akan sampai di muara sungai Mamberamo yang sangat lebar, dan warna air mulai coklat keruh. Di sini, kapal akan mulai berlayar pelan karena harus melawan arus sungai yang sangat deras. Tidak jauh dari muara, kapal akan bersandar selama setengah hingga satu jam di pelabuhan Teba. Biasanya penumpang akan turun untuk mencari sarapan pagi dengan makanan khasnya yaitu papeda, dilangkapi lauk dari hasil muara sungai seperti ikan, udang, dan kerang-kerangan yang biasa disebut “Bia” oleh masyarakat setempat.

Selain makanan, warga juga banyak berjualan berbagai jenis tanaman hias yang mereka ambil dari hutan, seperti berbagai jenis anggrek spesies, Caladium dan Oxalis. Dari pelabuhan ini, warga dapat menumpang kapal secara gratis menuju Kasonaweja.

Dari Pelabuhan Teba, kapal akan kembali berlayar menyusuri hilir sungai Mamberamo yang sangat lebar, diapit dataran rawa yang dipenuhi dengan tanaman sagu. Saat pagi mulai terang, teman-teman dapat melihat banyak batang-batang pohon besar yang hanyut dari hulu, burung-burung yang terbang menyebrangi sungai, dan jika beruntung dapat melihat buaya besar yang berjemur di tepian sungai.

Pada tengah hari, kapal akan bersandar di kampung Bagusa. Di sini, penumpang juga akan turun untuk makan siang dan berbelanja, selain warga lokal, penumpang sendiri juga ada yang turun untuk menjajakan dagangannya yang dibawa dari Jayapura. Orang-orang lokal sendiri sebagian sebagian besar menjual makanan, pinang dan ikan air tawar, yang mana ukuran ikan air tawar sungai Mamberamo jauh lebih besar daripada ukuran ikan air tawar biasanya.

Dari Bagusa, kapal akan kembali berlayar, dataran rawa mulai berubah menjadi perbukitan dengan pohon pohon yang tinggi dan lebat, awan terbang rendah di puncak-puncak bukit memberikan kesan mistis. Kapal akan melewati sebuah daratan kecil seperti pulau (sepertinya tidak lebih panjang dari 10m) di tengah-tengah sungai yang dikenal sebagai “Batu Bogor”.

Sebelum melewati batu tersebut, kapal harus membunyikan klakson sebanyak tiga kali. Kenapa? Konon, dulu ada sebuah kapal bernama KM Bogor yang tenggelam karena menabrak batu tersebut (itulah sebabnya disebut batu Bogor) dan semua penumpang meninggal. Untuk menghindari kejadian yang sama terulang kembali, sekarang setiap kapal yang melintasi batu tersebut harus membunyikan klaksonnya tiga kali.

Dari Bagusa, kapal akan singgah di kampung Trimuris. Seperti halnya di Bagusa, sebelum kapal sandar, kita akan melihat penduduk berlarian menuju pelabuhan kecil (yang bahkan tidak memiliki dermaga) dan sibuk mempersiapkan dagangan untuk menyambut penumpang kapal turun. Sebentar di Trimuris, kapal melanjutkan perjalanan menuju tujuan terakhir, yaitu Kasonaweja.

Interaksi dengan masyarakat di sepanjang perjalanan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pelayaran. Ada kalanya masyarakat datang menggunakan perahu cepat untuk meminta bantuan bahan bakar maupun kebutuhan pokok. Dalam kondisi tertentu, awak kapal berusaha membantu sesuai kemampuan dan persediaan yang dimiliki. Setelah menurunkan muatan di Mamberamo Raya, kapal tidak selalu kembali dalam keadaan kosong. Jika tersedia, Segara Wangi membawa besi tua maupun barang lainnya kembali ke Jayapura.

Meski terbuat dari kayu dan telah sekitar 10 tahun beroperasi, Segara Wangi tetap dilengkapi perangkat navigasi, termasuk GPS. Perangkat tersebut membantu menentukan posisi, arah perjalanan, rute, kecepatan dan jarak tempuh kapal. Kecepatan Segara Wangi sekitar 7 knot. Namun bagi Zainudin, perjalanan di Sungai Mamberamo bukan tentang seberapa cepat kapal melaju. Keselamatan awak dan muatan tetap menjadi yang utama.

Sungai Mamberamo menyimpan karakter alam yang tidak mudah ditebak. Selain arus dan gelombang, sungai besar tersebut juga menjadi habitat satwa liar, termasuk buaya. Namun selama bertahun-tahun melintas, Zainudin mengaku satwa tersebut tidak pernah mengganggu perjalanan kapal.

Bagi Zainudin dan enam ABK-nya, setiap pelayaran membawa tanggung jawab besar. Muatan di dalam kapal bukan sekadar barang dagangan. Ada kebutuhan masyarakat yang menunggu di ujung perjalanan. Di tengah keterbatasan akses, kapal kayu itu terus menyusuri sungai, membawa kebutuhan dari kota menuju wilayah yang jauh dari jalur darat. Selama mesinnya masih menyala dan kemudinya masih dapat diarahkan, Segara Wangi akan terus membawa muatan. Sebab bagi masyarakat yang menunggu di sepanjang Sungai Mamberamo, kedatangan sebuah kapal bukan sekadar kapal yang bersandar tapi keberlangsungan hidup warga Mamberamo. (*)

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

 UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q

Juna Cepos

Share
Published by
Juna Cepos

Recent Posts

Dokter Spesialis Anak Jelaskan Penyebab Paru-paru Basah

Paru-paru basah atau pneumonia merupakan infeksi pada jaringan paru-paru yang menyebabkan kantung udara terisi cairan…

4 hours ago

Ratusan Ular Kobra Lepas saat Banjir , Warga Digigit hingga Dilaporkan Tewas

Peristiwa tersebut terjadi setelah hujan lebat selama beberapa hari yang dipicu Topan Maysak mengakibatkan banjir…

7 hours ago

Puskesmas Rimba Jaya Tak Luput dari Pemalangan

Puskesmas Rimba Jaya yang berlokasi di Lepro, Kelurahan Rimba Jaya, Merauke, berada dalam satu kawasan…

8 hours ago

Stunting di Merauke Capai 17,4 Persen

Berdasarkan data tahun 2025, prevalensi stunting di Kabupaten Merauke tercatat 17,4 persen atau sebanyak 1.462…

8 hours ago

Pemkab Jayawijaya-PLN UP3 Wamena Launching Program Jayawijaya Terang di Distrik Tailarek

Bupati Jayawijaya Atenius Murib, SH, MH menyatakan saat ini pemerintah sedang berupaya untuk menfokuskan pembangunan…

9 hours ago

Camporee Pathfinder Arafura International Bentuk Karakter Generasi Muda

Wakil Gubernur Papua Selatan, Paskalis Imadawa, menegaskan bahwa Camporee Pathfinder Arafura International 2026 menjadi wadah…

9 hours ago