Categories: FEATURES

Picu Gangguan Jiwa, Ironisnya Rata-rata Usia Produktif dan Didominasi OAP

   Maka dari itu, tegas dr Izak, penting untuk selalu mempertimbangkan manfaat dan dampaknya saat mengonsumsi tanaman terlarang tersebut. “Selain dapat merugikan tubuh, kamu juga dapat ditangkap atas tuduhan penyalahgunaan obat-obatan terlarang atau narkoba.”ujarnya.

   Selain itu dampak buruk ini umumnya terjadi saat digunakan dalam waktu yang berkepanjangan. Salah satu risiko kesehatan yang dapat terjadi akibat kecanduan ganja adalah gangguan psikotik.

  Gangguan psikotik atau disebut juga psikosis terjadi ketika seseorang tidak mampu membedakan realita dan imajinasi atau khayalan. Ketika mengalami psikotik, seseorang mungkin saja mendengar, merasakan, atau bahkan percaya pada hal-hal yang sebenarnya tidak nyata bagi orang lain.

   “Ganja memang dikenal karena efek yang lebih ringan dibandingkan zat-zat adiktif lainnya. Meski begitu, seseorang yang mengalami kecanduan tetap rentan untuk mengalami beberapa kondisi kesehatan, khususnya psikotik yang diinduksi oleh kandungan di dalam ganja. Hal ini menyebabkan seseorang mengalami kerusakan atau pemutusan hubungan dengan kenyataan,” jelas dr Izak.

   Masalah ini umumnya terjadi akibat kecanduan ganja, pemaparan yang berkepanjangan, dan usia pada awal penggunaannya yang dapat menjadi faktor risiko terjadinya psikotik. Gejala lebih buruk juga dapat terjadi pada seseorang yang sudah mengidap penyakit mental.

   Selain itu kata dr Izak adanya faktor lainnya selain konsumsi ganja secara berlebihan. Faktor ini juga dapat memicu terjadinya gangguan kesehatan mental, yakni Konsumsi alkohol dan obat tertentu dan kecanduan narkotika selain ganja.

   Di Papua, khususnya Kota Jayapura setidaknya 80 persen pasien Orang Dalam Ganggu Jiwa (ODGJ) di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Abepura disebabkan karena konsumsi narkoba jenis ganja, dengan umur rata-rata usia produktif 15-35 tahun ke atas dan didominasi Orang Asli Papua (OAP)

   “Terutama para pemakai ganja dengan umur rata-rata usia produktif 15-35 tahun   dan didominasi Orang Asli Papua (OAP). Ini sangat mengkhawatirkan untuk generasi Papua kedepannya,” ungkapnya.

   Jadi dampak ganja sangat berpengaruh bagi kejiwaan seseorang. Jika ganja sudah masuk dalam tubuh, maka zatnya itu akan merubah pola pikir si pemakainya. Ia menjadi emosional, tidak stabil mengendalikan emosi, curiga berlebihan, bahkan menjadi temperamen yang memicu perkelahian, saling memukul dan menyerang.

Page: 1 2 3

Juna Cepos

Share
Published by
Juna Cepos

Recent Posts

Pemkot Pastikan Kelompok Rentan Mendapat Perhatian

Kegiatan tersebut dibuka oleh Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Daerah Kota Jayapura, Muchlis Karim, yang hadir…

6 hours ago

Keterbatasan Anggaran, GOR Toware Minim Perawatan

Pemerintah Kabupaten Jayapura melalui Dinas Pemuda dan Olahraga mengakui pengelolaan dan perawatan GOR Toware di…

7 hours ago

Pemkot Diminta Perhatikan Jangkauan Program Perlindungan Sosial

Menurutnya, kondisi tersebut harus menjadi perhatian serius Pemerintah Kota Jayapura, terutama dinas teknis terkait, agar…

7 hours ago

Piter Gusbager Kembali Nakhodai DPD Golkar Kabupaten Keerom

Bupati Keerom, Piter Gusbager kembali dilantik sebagai Ketua Umum Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Golkar…

8 hours ago

Sempat Kabur ke Laut, Pejambret Dibekuk

Sekitar pukul 10.30 WIT, tim gabungan bergerak cepat menuju lokasi menggunakan kapal cepat milik Direktorat…

8 hours ago

Pemerintah Hadir Untuk Meringankan Beban Masyarakat

Bupati Jayapura, Yunus Wonda memastikan visi dan misi pemerintahannya bersama Wakil Bupati harus benar-benar dirasakan…

9 hours ago