Categories: FEATURES

Trauma Dikucilkan di Sekolah, Sempat Ingin Bekerja Namun Dilarang

Kisah Fika, Remaja 16 Tahun yang Tinggal di Bantaran Rel Kereta Api

Bentuk perundungan di tempat pendidikan nampaknya belum sepenuhnya bisa dihapus. Semangat untuk meniadakan hanya ada pada tataran pengambil kebijakan. Dampaknya tentu dahsyat namun ada juga yang menjadikan sebagai motivasi untuk bangkit.

Laporan:Alfida Nurcholisah

Di sepetak bangunan sederhana di pinggir rel kereta api kawasan Jebres, Solo, Fika Pratiwi (16) kembali menemukan semangat untuk melanjutkan pendidikan. Saat ini ia belajar di PKBM Bunga Kantil setelah sempat mengalami putus sekolah selama 2 tahun akibat berbagai persoalan yang dihadapinya. Fika mengaku sempat melanjutkan pendidikan hingga kelas VIII di sekolah formal.

Namun, pengalaman yang tidak menyenangkan membuatnya kehilangan kenyamanan untuk belajar. “Temanku malah dari kelas lain. Cuma dua orang. Kalau di kelasku, satu kelas enggak mau temenan sama aku. Pas kerja kelompok sering gak dapat teman. Aku enggak nyaman, padahal kalau di sekolah kan butuh teman ngobrol,” ujarnya, Minggu (7/6).

Karena merasa tidak diterima oleh lingkungan sekolah, Fika akhirnya berhenti bersekolah selama sekitar 2 tahun. Selama di rumah, ia menghabiskan waktu membantu pekerjaan rumah tangga dan bermain game. “Di rumah saja bersih-bersih rumah sama main game. Sempat mau cari kerja, tapi pas aku bilang ke ibu, tidak dibolehkan,” katanya. Kondisi ekonomi keluarga yang sulit juga menjadi tantangan tersendiri.

Ayah Fika telah sakit selama 7 tahun terakhir dan tidak lagi tinggal di rumah.”Jadi hidupnya di Taman Sekartaji. Bapak sakit jantung dan bagian otak kecilnya itu sakit,” tutur Fika. Sementara itu, ibunya terpaksa meminta-minta untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. “Ibu jarang pulang, paling 3 hari sekali atau 5 hari sekali. Tapi ibu bilang yang penting aku sekolah dulu,” ungkapnya.

Kesempatan kembali belajar datang ketika keluarganya menerima surat dari Dinas Pendidikan untuk menghadiri kegiatan di Balai Kota Solo. Dalam pertemuan tersebut, Fika mendapatkan informasi mengenai PKBM Bunga Kantil yang membuka layanan pendidikan bagi anak tidak sekolah. “Nah waktu itu dapat surat dari dinas untuk datang ke balai kota, terus di sana dijelasin kalau ada PKBM Bunga Kantil ini akhirnya saya masuk,” katanya.

Meski menghadapi keterbatasan, Fika tetap berusaha hadir mengikuti kegiatan belajar. Karena ibunya jarang berada di rumah, ia terkadang diantar oleh pamannya. “Biasanya kalau ibu lupa nganter atau ibu nggak bisa nganter, aku diantar sama pakde. Aku sekolah dari Senin sampai Kamis jam 08.00 sampai jam 12.00,” ujarnya. Di PKBM Bunga Kantil, Fika merasakan suasana belajar yang jauh berbeda dibandingkan pengalaman sebelumnya.

Page: 1 2

Juna Cepos

Share
Published by
Juna Cepos

Recent Posts

AS Hentikan Sementara Serangan ke Iran, Stok Amunisi Dilaporkan Sudah Menipis

Jeda operasi militer ini muncul ketika perang yang semula diperkirakan hanya berlangsung beberapa pekan justru…

34 minutes ago

Resmi! Menpan RB Restui 9 Instansi Buka Rekrutmen CPNS 2026 via Sekolah Kedinasan

Regulasi ini mencabut Peraturan Menteri PANRB Nomor 20 Tahun 2021 yang dinilai sudah tidak sesuai…

2 hours ago

Pengelolaan Aset di DPRP Berpotensi Jadi Temuan

Hanya saja untuk mendapatkan data terkait ini pihak sekretariat nampaknya masih sulit memberikan penjelasan. Meski…

3 hours ago

Harta Terpidana Kasus Korupsi Dana Desa Lanny Jaya Masih Ditelusuri

Kepala Kejaksaan Negeri Jayawijaya Sunandar Pramono, SH, MH menyatakan masih ada terpidana lainnya yang aliran…

4 hours ago

Bangkai Kendaraan Korban Kerusuhan Dipindahkan

Kendaraan yang sebelumnya berada di area parkir Histora dipindahkan ke bagian belakang stadion. Langkah ini…

5 hours ago

Pemkab Jayapura Usul SPBU Doyo Layani Solar Subsidi untuk Truk Sampah

Antrean panjang pengisian BBM subsidi jenis solar di SPBU Hawai. Pemkab Jayapura berencana melakukan audien…

6 hours ago