Categories: FEATURES

Bertahun-tahun Tugas di Nusakambangan, Sempat Tegang Saat Tiba di Lapas Abepura

Memasuki usia 50 tahun, Edy kemudian kembali dipercaya untuk menahkodai Lapas kelas II A Abepura. Mengaku baru pertama kali ke Papua khususnya di Lapas Abepura, Kota Jayapura, ia justru disambut sebuah peristiwa yang cukup menegangkan, di mana situasi di dalam Lapas sempat memanas akibat kesalahpahaman antarwarga binaan.
Alih-alih mengerahkan pasukan pengamanan penuh, Edy justru melakukan hal yang tak terduga. Ia masuk ke tengah kerumunan, duduk bersama mereka, dan mendengarkan.

“Saat itu saya sadar, mereka hanya ingin didengar. Mereka ingin dianggap ada. Itulah titik balik saya dalam memimpin Abepura. Sejak saat itu, saya instruksikan kepada seluruh jajaran: jangan ada jarak yang membuat mereka merasa terhina. Kita pembina, bukan penyiksa,” kenangnya.

Di satu sisi, Edy turut mengapresiasi cara warga binaan lapas Abepura, dalam acara penyambutanya saat pertama kali menginjakkan kaki di Lapas Abepura. Ungkapnya memimpin Lapas Abepura bukan sekadar menjalankan tugas birokrasi, melainkan sebuah misi untuk memanusiakan manusia. Di balik seragamnya yang rapi itu, tersimpan pengalaman panjang dalam dunia pemasyarakatan yang telah membentuk karakternya menjadi sosok yang tenang namun solutif.

Sejak dipercaya menahkodai Lapas Abepura, Edy dikenal sebagai pemimpin yang “turun ke lapangan”. Ia tidak hanya duduk di balik meja. Ia sering terlihat berdiskusi langsung dengan warga binaan, mendengarkan keluh kesah mereka mulai dari soal makanan hingga kerinduan pada keluarga.

Salah satu pengalaman paling berkesan bagi Edy selama bertugas di Jayapura adalah saat ia harus menghadapi dinamika sosial yang unik di Papua. Lapas Abepura seringkali menjadi sorotan karena menampung berbagai latar belakang warga binaan dengan karakteristik yang kuat.

“Kuncinya adalah komunikasi hati ke hati. Di sini, kita tidak bicara sebagai penguasa dan narapidana, tapi sebagai sesama manusia yang ingin hari esok lebih baik,” ungkapnya.
Bagi Edy, melihat seorang warga binaan keluar dari Lapas dengan keterampilan baru seperti bertani atau kerajinan tangan adalah “bayaran” yang jauh lebih berharga daripada kenaikan pangkat. Inovasi Pembinaan menjadi program prioritas beberapa tahun kedepan, mulai dari Bengkel Kerja hingga Ibadah.

Page: 1 2 3

Juna Cepos

Share
Published by
Juna Cepos

Recent Posts

Total 527 Pasien yang Diduga Alami Keracunan MBG

dr. Beeri I.S. Wopari, M.Kes., mengatakan data tersebut mencakup warga yang mendapat pelayanan kesehatan, baik…

2 days ago

Butuh Tiga Tahun Lebih, Ribuan Artefak dan Rekaman Budaya Papua Akhirnya “Pulang”

   Ribuan objek yang berhasil dipulangkan mencakup, sekitar 1.000 unit artefak kehidupan sehari-hari dan ritual,…

2 days ago

Hentikan dulu Program MBG di Papua

Ia mengapresiasi langkah cepat Pemerintah Kabupaten Jayapura, tenaga kesehatan, TNI-Polri, serta masyarakat yang bergerak menangani…

3 days ago

Tolak Eksekusi Lahan, Warga Blokade Ruas Jalan Cenderawasih Mimika

Aksi pembakaran ban dan penutupan jalan dengan batang kayu ini dilakukan sebagai bentuk protes keras…

3 days ago

Bukan Berasal dari Menu Makanan, Melainkan Air yang Terkontaminasi Bakteri E. coli

Rama mengatakan BGN akan melakukan evaluasi total terhadap pelaksanaan MBG menyusul dua kejadian dugaan keracunan…

3 days ago

Pemprov Papua Selatan dan Kementrans Bahas Penyelesaian Masalah Tanah

Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pengembangan Kawasan Transmigrasi Kementerian Transmigrasi (Kementrans) bersama Pemerintah Provinsi Papua Selatan…

3 days ago