Categories: FEATURES

Hampir Pulang Karena Takut, Pengguna Daun Bungkus Justru Lebih Beresiko

Cerita Dibalik Sirkumsisi dalam Pengobatan Massa Peringati HUT Cepos Ke 33

Laporan: Priyadi_Jayapura

SUASANA di halaman Gedung Graha Pena Papua (Kantor Cepos), Entrop, Sabtu (4/4), pekan kemarin, perlahan mulai lengang. Tenda sunat massal yang sejak pagi dipenuhi anak-anak kini hampir kosong. Tawa dan tangis kecil telah reda, menyisakan cerita keberanian 68 anak yang lebih dulu menjalani proses sunat.Untungnya fokus ini bisa dipecah dengan Hp di tangan sehingga kehawatiran hilangnya kulit di ujung kelamin bisa terkikis.

Namun, di balik itu, ada kisah lain yang tak kalah menyentuh. Empat peserta lainnya berusia remaja dan dewasa. Ada yang berusia 17 tahun dan ada juga yang telah berusia 52 tahun. Mereka semua menunggu giliran. Wajah mereka tampak tegang, sesekali saling melempar senyum canggung. Rasa malu bercampur gugup menyelimuti, maklum, di usia yang tak lagi muda, mereka baru mengambil langkah besar itu. Memilih untuk melakukan sirkumsisi.

Panitia sebenarnya telah menyiapkan ruang khusus demi menjaga kenyamanan. Namun, demi efisiensi waktu dan kelancaran proses, akhirnya keempat peserta dewasa tersebut ditangani bersamaan di tenda yang sama, dengan penjagaan ketat untuk memastikan privasi tetap terjaga.

Di balik tenda sederhana itu, bukan hanya tindakan medis yang berlangsung, tetapi juga cerita tentang keberanian, kesadaran, dan perubahan cara pandang. Lebih dari Sekadar prosedur bagi tenaga medis operator sunat, mengaku menyunat peserta dewasa bukan perkara sederhana. Operator sunat, Ari Susanto, mengungkapkan bahwa sunat pada orang dewasa atau orang tua memiliki tingkat risiko yang lebih tinggi dibandingkan anak-anak.

“Kalau dewasa atau orang tua, risikonya lebih besar, terutama pendarahan. Struktur kulit juga sudah lebih tebal, apalagi jika ada yang alat vitalnya di suntik silikon atau menggunakan praktik tradisional seperti daun bungkus,” jelasnya. Penerapan daun bungkus ini dilakukan dipercaya untuk memperbesar alat kelamin namun tak sedikit yang akhirnya bermasalah. Cara ini juga masih ditemui di beberapa wilayah Papua sehingga membutuhkan penanganan ekstra dan pengalaman.

Page: 1 2 3 4

Juna Cepos

Share
Published by
Juna Cepos

Recent Posts

Waspadai Peningkatan Intensitas Hujan

Berdasarkan hasil monitoring, wilayah Zona Musim (ZOM) seperti Kabupaten Jayapura, Keerom, dan Sarmi saat ini…

1 hour ago

Kogabwilhan Klaim Lumpuhkan Sejumlah Tokoh TPNPB-OPM

Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Pangkogabwilhan) III, Letjen TNI Lucky Avianto, menyatakan satuan tugas TNI…

23 hours ago

Maraknya Kebakaran, Wali Kota Minta Damkar Siaga Penuh

Menurut Abisai Rollo, tingginya angka kebakaran dalam beberapa waktu terakhir harus menjadi perhatian serius semua…

23 hours ago

Bupati Keerom: Perlunya Juknis Penggunaan Dana Otsus

Para Gubernur dan Bupati/Wali Kota se-Tanah Papua melakukan Forum Koordinasi Strategi Percepatan Pembangunan. Pertemuan ini…

24 hours ago

Masyarakat Adat Diminta Dilibatkan dalam Saham PT PDM

Gubernur Papua Matius D Fakhiri meminta masyarakat adat dilibatkan dalam pengelolaan saham PT Papua Divestasi…

1 day ago

Presiden Bantu 10 Sapi Kurban, Berat di Atas 800 Kg

Plh Kabid Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Papua, Irene Pagawak mengatakan seluruh sapi bantuan presiden…

1 day ago