Categories: FEATURES

Pendapatan Turun Drastis, Bayar Kos Saja Susah Terpaksa Tidur di “Hotel Suzuki”

   Ia, dan sopir angkot lainnya meminta ada kebijakan dari pemerintah dengan mengurangi keberadaan angkutan online. Sebab, di lain sisi ada kebijakan dan peraturan yang memberatkan bagi mereka.

   Memberatkan yang dimaksudkan Adnan adalah, sopir angkutan umum dengan segala peraturannya seperti harus membayar pajak setiap tahun, membayar izin  trayek meski kenyataannya tidak sampai ke trayeknya dan membayar perpanjangan izin trayek.

   “Kenapa kami dengan segala peraturan, sementara taksi online tidak ? taksi online bebas mau parkir di mana saja termasuk bebas menurunkan penunpamg di mana saja. Sementara kami tidak seperti itu, bahkan menurunkan penumpang tidak sesuai rute atau bahkan parkir di bahu jalan langsung ditilang sementara taksi online dibiarkan begitu saja. Bahkan, lokasi parkir kami pun diambil alih oleh mereka (taksi online-red)” keluhnya.

    Sebagai sopir angkutan umum, Adnan mengaku penuh  tekanan dari pihak Perhubungan. Misalkan ia trayek B4 dengan tujuan Entrop-APO, namun ia dipaksa menurunkan penumpang di Terminal Persinggahan (Terminal Mesran). Jika menyalahi aturan itu, maka mereka akan ditilang. Padahal, bayarnya sesuai trayek.

    “Pemerintah harus mengembalikan kami seperti semula sesuai izin trayek, dimana B4 dari Terminal Entrop-APO dan B2 kembali ke kota. Dengan begitu bisa menghasilkan uang,” tegasnya.

   Dengan sepinya penumpang saat ini, ayah lima anak ini mengaku terpaksa tidur di angkot sehabis narik. “Saya sementara tinggal di Hotel Suzuki (tidur dalam angkot), itu bantal dan sarung saya. Mau bayar kos sekarang sudah susah,” ucapnya.

    Sepinya penumpang juga dirasakan Nurdin, sopir angkutan umum dengan jalur B2 jalur Terminal Entrop-Percetakan. “Saat ini parah sekali, bayar uang kos saja susah. Lihat saja banyak mobil taduduk (terparkir-red) akibat sepinya penumpang. Hal ini dikarenakan taksi online yang merajalela,” ungkap ayah dua anak itu.

   Saat ditemui Cenderawasih Pos, pendapatan Nurdin saat itu sebesar Rp 50 ribu. Padahal dulu ia mengaku, jam segitu ia sudah mengumpulkan Rp 200 ribu. “Meski ongkosnya Rp 5000, namun susah dapat penumpang sekarang. Bagaimana mau dapat penumpang, Maxim setiap sudut jalan kota ini selalu  ada,” ucapnya sembari tersenyum. (*/tri)

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

Page: 1 2

Juna Cepos

Recent Posts

Tingkatkan PAD, BUMD Papua Diminta Optimalkan Aset

BUMD milik Pemprov Papua, PT Irian Bhakti Papua (Perseroda) terus mengoptimalkan aset perusahaan yang tersebar…

1 day ago

Miliki Peran Penting, Para Petani Diminta Diperhatikan

  Abisai menilai keberadaan petani memiliki peran penting dalam menjaga ketahanan dan ketersediaan pangan di…

1 day ago

ABR: Gereja Bukan Sekadar Bangunan, Tapi Benteng Iman

Wali Kota Jayapura, Dr. Abisai Rollo, SH., MH., meresmikan Gedung Gereja GKII Nehemia Skow, Klasis…

2 days ago

Agama Harus Jadi Dasar Berbagi Kasih dan Memperkuat Persaudaraan

   Wali Kota Jayapura, Dr. Abisai Rollo, SH., MH., mengatakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW…

2 days ago

Wali Kota: Awasi Pembangunan di Kawasan Rawan Bencana!

  Perhatian tersebut terutama menyangkut aktivitas pembangunan di kawasan yang memiliki potensi rawan bencana, seperti…

2 days ago

Jangan Biarkan Warga Sipil Jadi Korban Konflik

  Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua (YKKMP) memberikan perhatian serius terhadap pernyataan-pernyataan yang disampaikan…

2 days ago