Categories: EKONOMI BISNIS

Omzet Penjahit dan Permak Baju Turun

Penjahit di Riska Tailor Abepura saat mengerjakan pesanan pakaian pelanggannya, Rabu (7/5). Di masa pandemi Covid-19,  permintaan menjahit baju dan permak baju di usaha menjahit turun, sehingga mempengaruhi omzet para pelaku usaha penjahit baju, Rabu (7/5)kemarin. ( FOTO: Priyadi/Cepos)

JAYAPURA-Usaha menjahit (tailor) di wilayah Kota Jayapura semenjak ada korona hingga saat ini lesu, tidak banyak pesanan. Baik pemesanan jahit maupun permak.

Yayan selaku penjahit di Riska Tailor Abepura mengatakan,  semenjak ada wabah Corona di bulan Maret 2020 lalu,  pendapatan di Riska Tailor Abepura menurun hingga 40 persen, karena sangat jarang warga yang permak pakaian atau permintaan menjahit baju untuk seragam sekolah, kampus, perkantoran, gereja dan lainnya.

  Lain dengan sebelum adanya korona, setiap tahun ada pemesanan permintaan menjahit baju secara banyak atau berkelompok dari instansi pemerintah, gereja, kampus, sekolah dan lainnya atau bisa dari pribadi.

“Adanya wabah corona sejak tahun 2020 memang permintaan menjahit baju sangat turun sekitar 40-50 persen dari tahun sebelumnya sebelum ada korona. Apalagi anak sekolah juga tidak masuk sekolah tentu ini sangat berpengaruh sekali, apalagi sempat ada lockdown pembatasan waktu aktivitas warga dan pelaku usaha,’ungkapnya, Rabu (7/4).

Diakui, dengan kondisi ini pihaknya tetap bertahan karena mau tidak mau usaha inilah yang harus ditekuni. Meski demikian ia  bersyukur karena perekonomian sudah mulai menggeliat semenjak adanya pelonggaran waktu oleh pemerintah dan adanya penurunan kasus penyebaran Covid ditambah lagi sudah dilakukan vaksinasi.

  “Saya harap tahun ini ekonomi bisa segera pulih maksimal dan Virus Korona segera berlalu,’’pintanya.

Hal senada juga dikatakan Rima,  penjahit di Pasar Kelapa Dua Entrop. Ia mengaku pemasukan selama ada Covid-19 sangat kurang sekali. Dulunya ia banyak menerima permak pakaian,  namun kini jarang, termasuk pemesanan menjahit baju.

Jika pada saat menjelang Natal banyak warga yang menjahit baju untuk sekeluarga tapi saat natal tahun lalu jarang sekali, termasuk permintaan menjahit seragam baju sekolah maupun dari instansi pemerintah, kampus dan lainnya juga sepi. Walaupun ongkos kerjanya tetap untuk pakaian biasa Rp 250 ribu, tergantung dari tingkat kesulitandan permintaan pelanggan.(dil/ary)

newsportal

Recent Posts

Tiap Kampung Adat Punya Ciri Khas, Tidak Bisa Dijual Sembarangan

Sesekali, ketika lelah menyapa, beberapa mama berdiri, menggoyangkan tubuh mengikuti irama musik, tawa pecah seketika.…

19 hours ago

Kantor Dipalang, Pelayanan Dialihkan ke Rumah Pribadi

Kantor Distrik Sentani kembali dipalang oleh pihak yang mengklaim sebagai pemilik lahan, Kamis (23/4). Aksi…

21 hours ago

Berharap Ada Anak Selatan Papua Masuk Pembinaan Timnas Futsal

Seleksi dilakukan langsung Pelatih Kepala Timnas Futsal Putra Indonesia Hector Souto. Pelatih asal Spayol ini…

22 hours ago

BBPJN Tangani Longsor di Ruas Jalan Trans Papua Segmen Yetti-Mamberamo

Satuan Kerja (Satker) Pelaksana Balai Jalan (PJN) Wilayah II pada Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional…

23 hours ago

KONI Audiens denan Gubernur Papsel Bahas Persiapan Pra-PON

Audiensi tersebut untuk membahas persiapan menghadapi Pra Pekan Olahraga Nasional (Pra-PON) sekaligus menyampaikan laporan persiapan…

24 hours ago

Respon Cepost Polres Jayapura Bongkar Pemalangan

Kegiatan diawali dengan apel kesiapan yang dipimpin langsung oleh Kasat Samapta Polres Jayapura Iptu Slamet…

1 day ago