Categories: BERITA UTAMA

Gaji Hakim Naik 300 Persen, Akademisi: Gaji Selangit Tak Jamin Bersih

JAYAPURA – Kebijakan pemerintah menaikkan gaji hakim hingga mencapai 300 persen terus memicu gelombang diskusi di tengah masyarakat. Kritik tajam salah satunya datang dari Akademisi Hukum Tata Negara Universitas Cenderawasih (Unce), Lily Bauw, yang mempertanyakan arah politik hukum dan politik anggaran negara di tengah masih terseok-seoknya kesejahteraan pelayanan publik lain, khususnya di wilayah Papua.

Dalam pandangannya, kenaikan drastis ini melahirkan pertanyaan mendasar di benak publik: “Gaji hakim naik, rakyat dapat apa?” Menurut Lily, respons kritis dari masyarakat merupakan hal yang wajar, mengingat kontrasnya kebijakan ini dengan realitas sosial di daerah. “Di Papua, pertanyaan seperti ini terasa lebih tajam. Masyarakat setiap hari melihat sekolah dengan fasilitas terbatas, guru honorer yang hidup pas-pasan, serta pelayanan kesehatan yang belum merata,” ujar Lily dalam keterangannya.

Menurut Lily, ini bukan sekadar angka, tapi soal konstitusi. Jelasnya dari perspektif Hukum Tata Negara, ia menjelaskan bahwa persoalan ini bukan sekadar urusan nominal angka, melainkan esensi dari arah politik anggaran. Berdasarkan konstitusi, Indonesia adalah negara hukum rechtsstaat sekaligus negara kesejahteraan (welfare state).

Artinya, pemenuhan keadilan hukum dan keadilan sosial harus berjalan beriringan. Ia tidak menampik bahwa hakim sebagai pilar negara hukum memang wajib dijaga kehormatannya, termasuk melalui pemenuhan kesejahteraan agar terhindar dari godaan suap dan mafia perkara. Namun, ia mengkritik cara pandang yang menganggap kenaikan gaji sebagai obat tunggal pemberantasan korupsi di sektor peradilan.

“Kalau akar masalah peradilan hanya dianggap soal gaji, maka cara berpikir seperti ini terlalu sederhana. Faktanya, banyak pejabat yang gajinya sudah besar tetap saja tertangkap korupsi. Persoalan utamanya bukan hanya kesejahteraan, tetapi moral kekuasaan dan sistem pengawasan,” tegasnya.

Selain itu, Lily juga menyoroti ketimpangan politik anggaran yang dirasakan langsung oleh masyarakat di pedalaman Papua. Di saat negara mampu menggelontorkan anggaran besar untuk menaikkan gaji hakim secara instan, nasib guru tetap, fasilitas belajar anak-anak, dan tenaga kesehatan di daerah terpencil masih sering terabaikan.

Hal ini memicu pertanyaan kritis: apakah negara lebih takut kehilangan kepercayaan hakim daripada kehilangan masa depan anak-anak di ruang kelas? “Anggaran negara pada dasarnya adalah cermin keberpihakan kekuasaan. Dari anggaranlah rakyat bisa membaca siapa yang paling diprioritaskan oleh negara,” kata Lily menambahkan.

Page: 1 2

Juna Cepos

Recent Posts

Kejari Mimika Eksekusi Rp5,4 Miliar Uang Pengganti Korupsi Proyek Aerosport 

Kejaksaan Negeri Mimika mengeksekusi barang bukti uang tunai sebesar Rp5,43 miliar dari terpidana kasus korupsi…

5 hours ago

Operator Bulldozer Tewas dalam Kecelakaan Kerja di Jagebob

Kecelakaan kerja terjadi di areal perkebunan PT Murni Nusantara Mandiri (MNM), tepatnya di Blok 006–012…

6 hours ago

Seorang Pria Ditemukan Tak Bernyawa di Kompleks Barak Penerangan 

Warga kompleks barak penerangan, Jalan Bhayangkara, Kota Wamena, Kabupaten Jayawijaya, dikejutkan dengan penemuan jenazah seorang…

7 hours ago

Jalan Yongsu Sapari Jadi Salah Satu Proyek Infrastruktur Besar 2026

Pemerintah Kabupaten Jayapura terus mendorong pembangunan infrastruktur sebagai salah satu prioritas pembangunan daerah. Salah satunya…

8 hours ago

Bupati Keerom Tegaskan Tidak Boleh Ada Sekolah Kekurangan Guru

Bupati Keerom, Piter Gusbager dengan tegas memastikan tidak ada lagi sekolah di Kabupaten Keerom yang…

10 hours ago

Produksi Petani Lokal Berkurang Turut Pengaruhi Inflasi Daerah

Bupati Jayawijaya Atenius Murib, SH, MH menyatakan koordinasi dan sinergi antara lembaga ini, diperlukan untuk…

11 hours ago