Categories: BERITA UTAMA

Berharap Upaya Komunikasi dan Negosiasi Bisa Terus Dilakukan

JAYAPURA – Kapten Philip Mark Merthens, disandera kelompok kriminal bersenjata (KKB) pimpinan Egianus Kogoya pada 7 Februari 2023. Itu artinya, sudah 18 hari Pilot asal Selandia Baru itu berada di tangan KKB. Dan Egianus Cs, melalui Juru Bicara Sebby Sambom baru sekali memunculkan keberadaan Kapten Philip Mark Merthens. Itu pun melalui vidio dan foto yang dikirimkan kepada wartawan. Terkait dengan kondisi Pilot Susi Air, Komisi Nasional (Komnas) Hak Asasi Manusia (HAM) Papua, atas nama kemanusiaan meminta Egianus Kogoya mengeluarkan statment yang baik menjelaskan tentang keberadaan dan kondisi Kapten Philip yang saat ini masih disandera. Kepala Komnas HAM Papua Frits Ramandey mengaku, hingga kini Komnas HAM telah mendapatkan 3 kali konfirmasi bahwa pilot dalam keadaan baik, diperlakukan secara manusiawi dan ada publikasi tentang keberadaan pilot tersebut. “Dari berbagai informasi yang kita dapatkan, Pilot Susi Air dikabarkan dalam keadaan sehat dan diperlakukan secara baik. Karena itu, kita harap upaya komunikasi dan negosiasi bisa terus dilakukan dengan pihak pihak yang bertanggungjawab,” kata Frits Ramandey saat dikonfirmasi Cenderawasih Pos, Jumat (24/2). Komnas HAM meminta Egianus Kogoya bisa memberikan rasa aman kepada Pilot Susi Air. Termasuk memberikan akses untuk bisa berkomunikasi paling tidak dengan negaranya atau keluarganya, sebab hal ini penting. “Penyanderaan Kapten Philip Mark Merthens menjadi perhatian Internasional. Bahkan, New Zealand melalui kedutaannya dan timnya sedang berada di Mimika untuk mencari tahu kondisi warga negara mereka,” ungkapnya. Frits berharap tim yang sedang bekerja untuk membangun komunikasi dengan pihak Egianus Kogoya berjalan baik. Sebagaimana, sudah ada beberapa pihak yang sedang berupaya melakukan negosiasi demi dibebaskannya pilot asal Selandi Baru itu. “Dalam sejarah penyanderaan, perlu ada komunikasi dan tawaran. Sehingga itu, komunikasi harus bisa dilakukan secara terus menerus. Kita berharap Egianus selain punya juru bicara Sebby Sambom, tetapi ditingkat lokal perlu ada orang yang bisa berkomunikasi langsung dengan Egianus,” pintanya. Sebagaimana kata Frits, penyanderaan warga asing bukan kali pertama terjadi. Namun sebelumnya, pada tahun 1996 sebanyak 26 anggota tim Ekspedisi Lorentz disandera. Sehingga itu, perlu mempertimbangkan segala hal terkait dengan  pembebasan itu. (fia/wen)

newsportal

Recent Posts

Gubernur: PAD Jangan Ditahan-tahan, Segera Disetor!                  

Gubernur Papua, Matius D Fakhiri meminta seluruh pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) tidak menahan Pendapatan…

3 hours ago

Selain Pakaian Layak Pakai, Kebutuhan Balita Masih Kurang

  Kepala Dinas Sosial Kota Jayapura, Mathius Pawara, mengatakan kebutuhan susu bagi balita menjadi salah…

4 hours ago

Insentif Kader Posyandu Nunggak 6 Bulan

   Rustan menjelaskan, setelah menerima laporan tersebut, pihaknya langsung berkoordinasi dengan Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan…

5 hours ago

Pemprov Salurkan Tiga Truk Bantuan

  Penjabat Sekretaris Daerah Papua, Christian Sohilait, mengatakan bantuan yang disalurkan telah disesuaikan dengan kebutuhan…

6 hours ago

Ribuan Jiwa Terdampak Kebakaran, Pemkot Siapkan Penanganan Terpadu

Pemerintah Kota Jayapura memperkuat penanganan pascakebakaran yang melanda kawasan Dok V, Kelurahan Mandala, dengan melibatkan…

7 hours ago

TPP Tiga Bulan ASN Pemprov Papua Cair September ini

  Gubernur Papua, Matius D Fakhiri mengatakan, pembayaran TPP tersebut telah disiapkan dan anggarannya dipastikan…

8 hours ago