Categories: BERITA UTAMA

Mandenas Nilai Bebaskan Sandera Kerja yang Sangat Lama dan Tidak efektif

JAYAPURA-Anggota DPR RI Dapil Papua Yan Mandenas mengaku proses TNI-Polri dalam pembebasan sandera asal Selandi Baru itu seakan berjalan di tempat.

“Pembebasan dan negosiasi pembebasan sandra menurut saya ini waktu yang sudah terlalu lama, sehingga ini perlu menjadi catatan dan evaluasi total. Masa aparat kita sekian banyak namun tidak bisa melakukan negosiasi untuk pembebasan sandera yang sudah mau 2 bulan,” papar Mandenas saat dikonfirmasi Cenderawasih Pos, Kamis (23/3)

Terlebih kata Mandenas, TNI-Polri harusnya bisa menggunakan berbagai macam pendekatan komunikasi agar bisa membebaskan sandera. “Menurut saya, proses pembebasan sandera merupakan kerja yang sangat lama dan tidak efektif,” tegasnya.

Terkait pembebasan Pilot Susi Air tersebut, Mandenas meminta perlunya komunikasi secara internal di TNI-Polri tetapi juga komunity intelejen. Sehingga pekerjaan mereka akan lebih terukur dan hasilnya akan lebih maksimal dan efektif dalam waktu yang tidak terlalu lama sudah bisa menyelesaikan persoalan ini.

“Jika kasus penyanderaan pilot dibiarkan berlarut larut, ini menunjukan titik lemah kita dalam mengendalikan berbagai macam kegiatan operasi yang dilakukan di Papua,” kata Mandenas.

Ia pun meminta TNI-Polri tidak jalan di tempat dalam kasus penanganan pembebasan penyanderaan pilot. Aparat harus menyelesaikan persoalan ini termasuk masalah penembakan yang masih terus terjadi di wilayah Papua juga teror kepada fasilitas umum, masyarakat, TNI-Polri termasuk teror kepada maskapai penerbangan.

“Yang jelas, dalam proses pembebasan sandera warga sipil tidak boleh dijadikan korban dari  kedua belah pihak yang bertikai yakni TNI-Polri dan KKB,” tegasnya.

Juga tidak boleh sampai terjadinya pengunsian, harusnya kita menjamin keamanan mereka termasuk menjamin mereka (warga sipil-red) hidup dan tinggal di tempat mereka dengan aman.

“Pola pengamanan operasi harus terukur dan tepat sasaran, terlebih kita punya kecanggihan teknologi untuk mendeteksi berbagai macam pergerakan dari setiap kelompok teror dan pelaku pelanggaran hukum,” kata Yan.

Diberitakan sebelumnya, KKB Pimpinan Egianus Kogoya membakar dan menyandera pilot Susi Air pada Selasa (7/2) lalu. Imbas dari kejadian tersebut, beberapa warga yang ada di Distrik Nduga melakukan pengunsian akibat operasi yang dilakukan TNI-Polri dalam rangka pembebasan sandera. (fia/wen)

newsportal

Recent Posts

Pendapatan Negara di Papua Tembus Rp2,9 Triliun

Pemerintah menargetkan pendapatan negara di wilayah Papua pada 2026 sebesar Rp6,7 triliun, yang terdiri atas…

2 days ago

Persipura Bermarkas di Gelora Delta Sidoarjo

Owen membeberkan bahwa mereka sudah menjajaki dua stadion di Jawa Timur. Dan saat ini masih…

2 days ago

Libatkan Pemda dan Masyarakat Adat Atau Hentikan!

Dari hasil peninjauan, pemerintah menemukan sejumlah aspek yang perlu segera dibenahi, di antaranya sanitasi tempat…

3 days ago

Boyolali Dinilai Cocok Bagi Persipura

Keputusan ini menjadi pengalaman pertama bagi skuad Persipura. Pada musim-musim sebelumnya, mereka lebih sering menggelar…

3 days ago

Selama ini pemerintah daerah tidak pernah dilibatkan dalam pelaksanaan MBG

Menurutnya, selama ini pemerintah daerah tidak pernah dilibatkan secara maksimal dalam perencanaan maupun pelaksanaan program.…

3 days ago

Petugas Avsec Bandara Sentani Gagalkan Penyelundupan 940 Gram Ganja

Penangkapan bermula saat D.H. menjalani pemeriksaan di Passenger Security Check Point (PSCP) Terminal Keberangkatan Bandara…

3 days ago