Categories: BERITA UTAMA

Ratusan Warga Gome Utara Dikabarkan Mengungsi

TNI dan OPM Harus Menahan Diri ! 

JAYAPURA-Konflik senjata antara TNI-Polri dengan TPNPB-OPM kembali terjadi di Kabupaten Puncak sejak beberapa hari terakhir. Akibatnya sebanyak 628 warga di Kampung Gome Utara dilaporkan mengunsi di Kota Ilaga, Kabupaten Puncak.

Kepala Dinas Sosial Kabupaten Puncak, Peniel Waker menyampaikan, ratusan jiwa yang mengunsi tersebut terdiri dari anak-anak, perempuan dan laki-laki. Mereka mengungsi pasca kontak tembak dan pembakaran sebanyak 37 unit honai.

“Mereka memilih mengunsi lantaran kontak tembak di kampung mereka pada (16/8), dua hari kemudian tepatnya Rabu (18/8) honai mereka dibakar,” ungkap Peniel Waker saat dikonfirmasi Cenderawasih Pos melalui telepon selulernya, Minggu (22/8).

Dikatakan, ratusan warga tersebut saat ini mengungsi di posko pengungsian yang ada di Ilaga. Dimana sebelumnya posko tersebut menjadi posko pengungsian saat konflik yang pernah terjadi di Kabupaten Puncak beberapa bulan lalu. “Selain mengamankan diri di posko, ada juga warga yang lari ke hutan dan memilih tinggal dengan kerabat mereka yang ada di Ilaga akibat ketakutan,” jelasnya.

Ia juga mengaku ada salah satu ibu rumah tangga yang terkena rekoset saat kontak tembak yang terjadi di Gome. Korban sudah dibawa pihak keluarga untuk dirawat di rumah setelah sebelumnya mendapatkan perawatan medis di Puskesmas setempat.

“TNI dan OPM harus menahan diri. Sebab kontak tembak yang mereka lakukan imbasnya ke masyarakat yang tidak tahu persoalan. Saya juga menyayangkan kontak tembak dilakukan di tengah masyarakat, ini yang membuat kami tidak senang,” ungkapnya.

Untuk situasi di Puncak terutama di daerah yang sempat terjadi kontak tembak, diakuinya sudah kondusif.

Sementara itu Danrem 173/PVB Brigjen TNI Iwan Setiawa menyampaikan, sejak Minggu (15/8) lalu terjadi kontak tembak antara TNI dan kelompok separatis di Gome. Kontak tembak tersebut menyebabkan satu prajurit TNI bernama Letda Inf Rudi Sipayung mengalami luka tembak.

Korban saat itu langsung diterbangkan ke Mimika untuk mendapatkan perawatan medis. Saat dilakukan penyisiran pada Senin (16/8), angota mengamankan barang bukti berupa 1 pucuk senjata M16.

“Pada Kamis (19/8),Pos TNI diserang kelompok separatis dan anggota kita tetap bertahan sembari membalas tembakan dari serangan tersebut. Dari kontak tembak tersebut, kita menemukan barang bukti berupa selongsong amunisi dan senapan angin dari titik penembaan pada saat penyerangan Pos TNI,” bebernya.

Lanjut Danrem, seorang ibu rumah tangga  baru diketahui terkena tembakan sehari sebelum kejadian. Korban langsung dilarikan ke Puskesmas saat itu. “Dia (korban-red) terkena tembak dari siapa kita tidak tahu, begitu juga dengan informasi pembakaran honai, yang jelas TNI korban dan diserang oleh kelompok separatis,” kata Danrem.

Danrem tak tahu pasti siapa pelakunya. Namun dari catatan yang ia miliki terdapat beberapa kelompok seperatis yang ada di Puncak di antaranya kelompok Goliath Tabuni, Lekagak Telenggen dan Militer Murib. “Kelompok kelompok ini yang selalu meresahkan masyarakat, melakukan gangguan termasuk  menembak TNI hingga anggota kami menajadi korban,” jelasnya.

Terkait dengan kejadian di Puncak, Danrem mengaku telah memerintahkan Dandim dan Kasrem untuk berangkat ke lokasi guna melakukan koordinasi lapangan terkait apa yang terjadi di daerah tersebut. “Yang pasti kita datang untuk memberikan solusi dan memberikan rasa nyaman serta aman kepada masyarakat,’ kata Danrem.

Terkait adanya permintaan penarikan pasukan dari warga setempat, Danrem menegaskan bahwa TNI datang untuk memberikan solusi menjaga keutuhan NKRI. “Pasukan ada di sekitaran ilaga untuk membantu masyarakat, kalau TNI-Polri ditarik dari Ilaga, lantas siapa yang akan mengamankan daerah tersebut. Padahal kita tau sendiri kelompok seperatis ini pernah membakar sekolah, dan menembak guru,” tuturnya.

Danrem juga mengatakan situasi di Puncak hingga saat ini terkendali. Ia berharap semunya bisa menjaga stabilitas keamanan di aderah tersebut. Bupati, kepala suku dan para kepala kampung untuk menenangkan masyarakat dan laporkan kepada aparat jika ada gangguan dari pihak separatis. (fia/nat)

newsportal

Recent Posts

Perkuat Pengawasan Telur Anpu, Pemprov Siapkan  Surat Edaran Baru

Pemerintah Provinsi Papua menyiapkan surat edaran gubernur yang baru untuk memperkuat pengawasan masuknya telur antarpulau…

12 minutes ago

RDP Panja Pelayanan Publik Tak Dihadiri Pihak DLHK

   Kondisi itu memicu kekecewaan Panja Pelayanan Publik DPRK Kota Jayapura. Bahkan, panja menilai ketidakhadiran…

1 hour ago

Realisasi Fisik PUPR Papua Hampir 70 Persen

  Natirmalus menjelaskan, pada Bidang Bina Marga realisasi fisik telah mencapai 68,63 persen, sedangkan realisasi…

2 hours ago

500 Kendaraan Terjaring Operasi Patuh DLHK

  Kegiatan yang melibatkan personel gabungan dari DLHK, Polsek Jayapura Selatan, Satuan Polisi Pamong Praja…

3 hours ago

Akhiri Antrean BBM, DPRP Beri Deadline Pertamina

DPR Papua memberi deadline atau batas waktu selama satu pekan kepada PT Pertamina Patra Niaga…

4 hours ago

Bunda PAUD Dorong Gerakan Wajib Belajar 1 Tahun Prasekolah

  Bunda PAUD Kota Jayapura, Nerlince Wamuar Rollo, menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kota Jayapura, Balai…

5 hours ago