Categories: BERITA UTAMA

Kalah Medan, Pemerintah Dianggap Tak Mampu Bebaskan Pilot Susi Air?

JAYAPURA – Pemerintah Indonesia dianggap tak mampu membebaskan Pilot Susi Air Philip Mark Merthens, yang disandera kelompok kriminal bersenjata (KKB) pimpinan Egianus Kogoya sejak 7 Februari 2023 di Paro, Kabupaten Nduga, Provinsi Papua Pegunungan.

Hal itu disampaikan Direktur Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua (Pembela Ham) Theo Hesegem saat dikonfirmasi Cenderawasih Pos, Minggu (21/5) kemarin.

Menurut Theo, sudah mau empat bulan berjalannya waktu. Namun Philip Marthen masih berada di tangan TPNPB, sehingga itu. Harus ada komunikasi dengan TPNPB untuk pembebasan pilot asal Selandia Baru tersebut.

“Adapun yang bisa membangun komunikasi adalah orang orang yang dipercaya antara kedua belah pihak dalam hal ini pemerintah dan TPNPB. Namun perlu diingat, bukan dari sisi politik atau sisi lainnya, melainkan mereka percaya dari lembaga seperti gereja atau organisasi mana dan itu harus ada persetujuan dari TPNPB,” tegas Theo.

Selain itu kata Theo, beberapa hari terakhir, tak ada lagi kabar dari Philip Mark Merthens yang biasa disampaikan oleh Juru Bicara TPNPB atau mereka yang berada di lapangan. Baik melalui info foto yang disebarkan, maupun berupa vidio.

“Seiring dengan disanderanya pilot tersebut, pemerintah pusat kerap mengirim berbagai macam pasukan di Papua. Termasuk pasukan yang dilatih, tetapi sampai saat ini. Tidak ada  yang berhasil membebaskan pilot, justru banyak anggota yang menjadi korban di lapangan,” tuturnya.

Lanjut Theo, bagian ini juga pemerintah harus melihatnya. Bahwa standar tiga bulan menunjukan ketidak mampuan pemerintah untuk menyelamatkan pilot. Sehingga, disarankan untuk mendorong adanya dialog.

“Dialog yang diharapkan seperti yang dilakukan di aceh dan bagian itu penting untuk dilakukan pemerintah pusat, kenapa Aceh bisa lantas Papua tidak bisa ?,” tegasnya.

Menurut Theo, tidak mampunya aparat TNI-Polri dalam membebaskan pilot dikarenakan medan Papua yang sulit. Selain itu, prajurit juga tidak menguasai medan yang berujung pada jatuhnya korban jiwa dalam jumlah yang banyak.

“Yang menjadi kekuatan TPNPB adalah mereka menguasai medan dan dimungkinkan didukung dengan kode kode alam. Sehingga, pasukan non organik yang datang ke Nduga kerap mengalami kesulitan untuk membebaskan sandera,” bebernya.

Kata Theo, perlunya komunikasi dengan TPNPB untuk melakukan pembebasan dengan cara yang mereka mau. Musabab, TPNPB inilah yang buat masalah.

“Dengan begitu, apa yang diinginkan dan diharapkan TPNPB bisa disampaikan kepada pemerintah pusat secara resmi dan transparan. Bisa menampug aspirasi mereka sekalipun itu berbeda pandangan politik dan ideologinya,” pungkasnya. (fia/wen)

newsportal

Recent Posts

Kebakaran di Dok IX, Polisi Tetapkan Satu Tersangka

  Kapolresta Jayapura Kota Kombes Pol Fredrickus W.A. Maclarimboen mengatakan, penetapan tersangka dilakukan setelah penyidik…

7 hours ago

Serapan APBD Baru 45 Persen, Pimpinan OPD Diwarning

Wakil Wali Kota Jayapura, Dr. Ir. H. Rustan Saru, MM., melontarkan peringatan keras kepada seluruh…

8 hours ago

OPD Kolektor Harus Kejar Target PAD Rp313 Miliar

  Rustan mengatakan, Pemkot Jayapura sebelumnya telah melaksanakan rapat koordinasi (rakor) PAD yang menghasilkan sejumlah…

9 hours ago

Papua Jaga Inflasi 3,5 Persen Jelang Natal dan Tahun Baru

   Penjabat Sekda Papua, Christian Sohilait mengatakan, pengendalian inflasi dilakukan secara rutin setiap pekan. Berdasarkan…

10 hours ago

Pemkot Buka Seleksi Tiga Jabatan Kepala OPD

   Ketiga jabatan tersebut yakni Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM Kota Jayapura, Kepala…

11 hours ago

Ditemukan dengan Kondisi Kurus Setelah 20 Hari Bertahan

Meski tak menceritakan secara detail bagaimana proses korban bisa melarikan diri atau diamankan dari pihak…

12 hours ago