Categories: BERITA UTAMA

300-an Murid SD YPK Onomi Flafouw Masih Belajar di Halaman Gereja

BELAJAR: Siswa SD YPK Onomi  Flafouw melaksanakan kegiatan belajar mengajar di luar gedung gereja GKI Onomi Flafouw, Sentani, Kamis (18/7).( FOTO : Robert Mboik/Cepos)

SENTANI-Sejak sekolahnya dipalang April lalu, hingga Kamis (18/7), sekira 300-an murid SD Yayasan Pendidikan Kristen  Onomi Flafouw,  Sentani, Kabupaten Jayapura masih mengikuti kegiatan belajar mengajar di di halaman gereja GKI Onomi Flafouw Sentani.

Bahkan pada saat ujian kenaikan kelas tahun ajaran 2018-2019, mereka harus mengikuti ujian di alam terbuka. “Sebelum ujian naik kelas, kami sudah belajar di sini,” ucap Florentina Mahue salah satu murid yang ditemui koran, Kamis (18/7).

Florentina berharap, pemerintah bisa segera mencari solusi agar persoalan ini segera diatasi. “Mungkin bapak pemerintah bisa lihat kami,” ujarnya polos.

Persoalan ini sebenarnya sudah ada upaya penyelesaian bersama antara pihak pemilik ulayat dan pihak yayasan. Bahkan Bupati Mathius Awoitauw juga pernah turun langsung menyelesaikan persoalan itu. Tapi nyatanya hingga saat ini murid dan guru masih harus belajar di halaman gereja.

Dari pantauan Cenderawasih Pos, kegiatan belajar mengajar di lakukan di sisi depan, samping dan belakang gedung gereja. “Sejak April sebelum ujian kenaikan kelas anak anak sudah belajar diluar ruangan, ini sangat memperihatinkan.  Kami tidak punya pilihan,” ungkap Wakil Kepala Sekolah SD YPK Onomi  Flafouw, Marican Hutajulu.

Dari informasi yang  diterimanya, pihak yayasan dan pemilik lahan akan kembali bertemu untuk membicarakan masalah tanah ulayat itu. Hanya saja belum diketahui pasti kapan pertemuan itu berlangsung.
Tahun ini sekolah itu  menerima murid baru sekira 40-an orang. Meski baru, tak ada keistimewaan bagi murid baru ketika mengikuti proses kegiatan belajar mengajar. 

Pantauan koran ini, murid kelas 1 sampai 6  semuanya belajar sambil melantai. Kondisi ini memang sangat memprihatinkan. Bagaimana tidak saat belajar, beberapa murid terlihat menulis di lantai dan beberapa orang lagi menggunakan pahanya untuk menahan buku yang digunakan untuk mencatat mata pelajaran. 

“Kami sangat tidak nyaman belajar di gereja, karena ribut dan pokoknya tidak nyaman saja. Di sini belajarnya gabung, sehingga sulit untuk fokus,” ucap seorang murid. (roy/nat)

newsportal

Recent Posts

Temuan Pemborosan Anggaran Jadi Perhatian DPRP di APBD Perubahan

   Ketua DPR Papua, Denny Henrry Bonai, mengatakan pembahasan tindak lanjut akan dilakukan oleh masing-masing…

11 hours ago

DPR Kota Jayapura Tetapkan 12 Raperda Dibahas Tahun Ini

  Regulasi ini mencakup empat (4) Raperda kategori APBD dan Delapan (8) Raperda Non-APBD guna…

12 hours ago

Mantan Bendahara Bunda PAUD Papsel Divonis 4 Tahun Penjara

Putusan Majelis Hakim Tipikor Jayapura tersebut  lebih rendah dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum sebelumnya yang…

13 hours ago

Pergaulan Bebas dan Faktor Ekonomi Jadi Penyebab 1000 Lebih Anak Berhenti Sekolah

  Sejumlah mama Papua datang dari berbagai Distrik di Kota Jayapura mengenakan sandal jepit, menggandeng…

14 hours ago

Stok Obat Menipis, Pelayanan Puskesmas Mopah Baru Terancam Terganggu

Kepala Puskesmas (Kapus) Mopah Baru Severina SH. Wiratwanti menyampaikan, stok obat, terutama jenis obat yang…

15 hours ago

Kemarau Panjang di Papua Pegunungan, Sejumlah Sumur Bor Milik Warga Mulai Mengering

Forecaster BMKG Wamena Ahmad Armanda menyatakan musim kemarau di wilayah Papua Pegunungan ini dimulai dari…

16 hours ago