Categories: BERITA UTAMA

Polisi Mulai Panggil Saksi Pemukulan Dokter

JAYAPURA – Kasus penganiayaan yang menimpa seorang dokter di RSUD Jayapura ditindaklanjuti secara hukum. Pihak rumah sakit rupanya tak main – main dengan bentuk kekerasan terhadap petugas medis tersebut.

Dari laporan yang disampaikan pihak RSUD Jayapura langsung direspon Ditkrimum Polda Papua dengan melakukan pemanggilan terhadap saksi – saksi.

“Iya pihak rumah sakit sudah membuat laporan resminya dan kami telah menyiapkan pemanggilan untuk saksi – saksi,” kata Direskrimum Polda Papua Kombes Pol Faisal melalui ponselnya, Senin (18/4).

Dari pemanggilan ini nantinya dikembangkan kepada para pihak yang disebut terlibat. “Kami mulai dari saksi korban dulu,” tambah Faisal.

Sementara untuk jenazah sendiri pada Minggu (17/4) telah tiba di Jayawijaya untuk selanjutnya dimakamkan. Pihak keluarga masih tidak terima dengan kejadian kematian Ricko Elopere yang disebut merupakan korban mal praktek. Pihak keluarga masih yakin jika almarhum meninggal tak lepas dari bentuk penanganan yang tak sesuai standart yang dilakukan oleh pihak medis dalam hal ini dokter yang menangani pasien tersebut.

“Jadi pasien dirujuk dari hasil pemeriksaan bahwa ia mengalami tumor dan harus dirujuk dan kami berusaha kirim ke Jayapura dengan harapan anak kami bisa sembuh namun ternyata tidak ditangani sehingga kondisinya semakin berat. Dada bengkak dan sesak nafas serta darah keluar hidung namun ia masih bisa berdiri ke kamar mandi. Ini tak lepas karena lambat penanganan,” kata Roni Elopere, keluarga almarhum.

Melihat kondisi pasien yang makin parah, kata Roni pihak keluarga sudah menyampaikan ke suster yang merawat namun ketika itu suster menyampaikan bahwa penanganan pasien adalah ranah dokter. Namun pihak keluarga terus menunggu 1 minggu lebih hingga akhirnya setelah ditangani malah meninggal.

“Kami anggap menyalahi prosedur karena saat dioperasi ternyata stok darah tidak tersedia dan trombosit pasien rendah sekali. Seharusnya ini (darah) disiapkan dulu lalu trombositnya dinormalkan dulu, bukan langsung dioperasi,” kata Roni melalui ponselnya, Senin (18/4) kemarin.

Ia menjawab, jika dokter merasa benar maka silakan buktikan. Sebab pihaknya juga mendengar bahwa jika pasien diantar ke ruang OK hanya untuk ganti selang tapi ternyata ada lubang baru.

“Dan itu nyata, ada lubang baru yang lebih besar. Setelah penindakan ketika itu ada tenaga medis datang dan menangis seraya menyampaikan bahwa pasien sudah meninggal dan ia turut berduka,” ceritanya.

“Ingat dokter juga lambat menangani pasien sehingga kondisi semakin berat, ditelepon juga marah – marah serta memberikan keterangan yang membingungkan. Mengatakan tidak dilakukan operasi tapi akhirnya mengakui melakukan operasi,” tutup Roni. (ade/nat)

newsportal

Recent Posts

Seorang Sopir Maxim Dibekuk Terciduk Jual Puluhan Amunisi

Pelaku yang berprofesi sebagai sopir transportasi online (Maxim) ditangkap di Jalan Manokwari, tepatnya di samping…

14 hours ago

Kasus Pembakaran Anak di Sentani Harus Tuntas

Selain penegakan hukum, pemerintah juga menekankan pentingnya penguatan perlindungan anak dan pola pengasuhan dalam keluarga…

14 hours ago

Tujuh Jadi Tersangka Pembunuhan Pilot AMA

Ketujuh tersangka masing-masing berinisial MB, AB (23), LS (26), DA, NS, KB, dan SP. Seluruhnya…

15 hours ago

Lapangan Terbang Rawan Mulai Didata

Langkah ini diambil sebagai respons cepat pasca-insiden pembakaran pesawat milik PT Associated Mission Aviation (AMA)…

15 hours ago

Masyarakat Berhak Tahu Kemana Dana Cadangan Papua Mengalir

Akademisi Program Studi Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Cenderawasih, Yakobus…

16 hours ago

Cafe dan Resto di Holtekamp Jadi Sumber Pajak Menjanjikan

Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Jayapura, Rory Cony Huwae, mengatakan penyumbang terbesar penerimaan pajak…

16 hours ago