Ia menduga hewan ini mati karena perkirakan terhempas ombak kemudian terbentur batu atau karang. Bisa juga karena ukuran tubuh yang besar membuat hewan ini perlu lebih banyak energi. Untuk menjaga energi maka cenderung berenang lambat di perairan yang tenang.
“Pada kondisi ikan ini terdampar diperairan Holtekamp yang arus dan ombak relative tinggi, maka hewan ini lebih cepat kehilangan energi dan mudah lemas, sangat mudah mati jika diberikan pertolongan,” tambahnya.
Namun dijelaskan penyebab lain dari kematian bisa seperti penyakit dan umur Dugong itu sendiri.
“Kalau pada kejadian kali ini, saya pikir peluangnya sangat kecil. Kalau sumber pencemaran itu bisa limbah dan sampah perkotaan, limbah sampah rumah tangga, sampah industri, sampah lainnya restoran, rumah makan, perhotelan, dan usaha-usaha lainnya.
“Bisa juga limbah pertanian, perikanan. Kondisi ini menyebab pencemaran di teluk Youtefa tinggi dan saya pikir memang perlu ada penelitian tentang angka peningkatan pencemaran di teluk (Teluk Yotefa),” tutupnya. (kar/ade)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos
Page: 1 2
Kebijakan tersebut tertuang dalam Permenkomdigi Nomor 2 Tahun 2026 yang merupakan petunjuk teknis pelaksanaan dari…
Prabowo Subianto menegaskan bahwa pemerintah tidak ingin ketahanan energi Indonesia hanya bergantung pada cadangan jangka…
Menurut Kepala Center for Intermestic and Diplomatic Engagement (CIDE) itu, status siaga 1 TNI yang…
Terkait dengan THR, Pemerintah Kabupaten Keerom telah menyiapkan dana yang cukup besar, yakni mencapai Rp18…
Sebagai wujud nyata kepedulian pemerintah, Bupati mengumumkan total anggaran sebesar Rp 2 miliar yang dialokasikan…
Pulau kecil ini menjadi saksi awal masuknya Injil di wilayah Tabi—yang meliputi Jayapura, Sarmi, dan…