

JAYAPURA- Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menagih janji Panglima Kodam XVII/Cenderawasih terkait insiden yang terjadi di Fayit, Kabupaten Asmat, 27 Mei tahun 2019 lalu.
Kepala Perwakilan Komnas HAM wilayah Papua, Frits Ramandey meminta Kodam XVII/Cenderawasih agar insiden Fayit, pelakunya diproses secara hukum dan disidangkan secara terbuka agar masyarakat mengetahuinya.
“Kami meminta proses penegakan hukum harus dilakukan cepat dan transparan bahwa kemudian nanti dalam proses hukum memenuhi unsur yang bersangkutan dipecat maka harus dipecat,” tegas Frits saat dikonfirmasi Cenderawasih Pos, Rabu (12/6).
Dikatakan, pelaku penembakan berinisial F oknum anggota Zeni Tempur Kodam XVII/Cenderawasih sedang dilakukan penahanan di Merauke. Sedang John Tatai salah satu korban penembakan yang mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Bhayangkara sudah dikembalikan kepada keluarganya di Asmat.
John Tatai dalam kesaksiannya menyebutkan bagaimana dirinya bersama empat rekannya ditembak dalam jarak yang dekat, sementara orang yang melakukan penembakan mereka tidak kenal.
“Dalam tradisi masyarakat Papua mereka saat itu sebatas menari-nari sembari memegang alat tajam. Namun, tembakan peringatan Fajar saat itu memicu masyarakat untuk melakukan reaksi lebih luas.
Frits melihat dalam penyelesaian penembakan di Distrik Fayit yang dilakukan oleh oknum anggota TNI Kodam sendiri memiliki keseriusan. Misalnya dengan Kodam melibatkan Komnas HAM dan publik untuk mengawasi proses sidang ini dalam kasus ini.
Dengan Panglima memerintahkan untuk investigasi dan Dandrem yang memimpin langsung tim investigasi, menunjukkan bahwa keseriusan Kodam untuk mengusut tuntas kasus tersebut. “Saya pastikan Kodam kesatria, dan publik menunggu penyelesaian terhadap insiden ini,” ucap Frits.
Terkait dengan insiden penembakan di Asmat yang melibatkan anggota TNI, Komnas HAM menuturkan setiap anggota TNI yang di tempatkan di Pos Koramil ataupun saat menjadi Bhabinkamtibmas harus memahami tentang adat istiadat yang ada beberapa wilayah di Papua.
“Sehingga, dalam mengambil tindakan dan pendekatan humanis menjadi peluru yang tepat. Menjadi kemampuan yang ampuh untuk citra tantara kembali dicintai masyarakat,” katanya.
Selain itu, Panglima Kodam harus melibatkan stakeholder lain untuk melakukan pemulihan pembinaan terhadap anggota yang BKO maupun kewilayahan di wilayah Kodam XVII/Cenderawasih.
“Dalam insiden Fayit, Pemda setempat telah melakukan tanggung jawab dia secara baik untuk memulihkan korban,” pungkasnya. (fia/nat)
Aktivitas kantor di Sekretariat DPR Papua, Jumat (25/9) mendadak tegang. Ini lantaran sejumlah penyidik kejaksaan…
Kedatangan para tokoh adat dipimpin Ketua Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Waropen di Tanah Tabi, Karlos…
Alih-alih masuk ke blok hunian utama, tim Ombudsman justru menemukan deretan bangunan yang menarik perhatian.…
Presiden Prabowo Subianto memutuskan membentuk Badan Pengelola Gambut dan Mangrove Nasional (BPGMN) untuk memperkuat pencegahan…
Juru Bicara BGN Tysa Novenny mengatakan keterlibatan sekolah menjadi bagian penting dalam membangun sistem pengawasan…
Banyak sekali kebun yang dibuat oleh warga. Lokasi yang harusnya ditumbuhi pepohonan besar tiba-tiba berubah…