Categories: BERITA UTAMA

Semester Pertama 2024 Ditemukan 1006 Kasus Stunting di Kab Jayapura

SENTANI – Situasi miris terkait program pemberantasan stunting yang digalakkan secara nasional ternyata masih banyak ditemukan. Ini tak hanya terjadi di kawasan yang jauh dari kota  karena berbagai faktor pendukung namun ada juga yang masih disekitar kota yang notabene masih mudah diakses. Salah satunya di Kabapaten Jayapura.

Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Jayapura, Edward Sihotang mengatakan, kasus stunting hingga semester pertama (I) tahun 2024 mencapai 13,3 persen atau 1006 kasus yang ditemukan di Kabupaten Jayapura. Menurut Edwar, kasus stunting tersebut ditemukan berdasarkan dari proses analisis dan pengukuran pada aksi konvergensi Ke -7 yang ditemukan kasus stunting baru karena terdapat balita gizi buruk dan berat bayi rendah sejak lahir.

“Data tersebut sebanyak 13,3 persen itu menjadi data sekarang, dan data gizi buruk kita itu 1,5 persen, dan itu kemungkinan bisa mensuplai stunting baru sekitar 1,5 persen, serta bayi berat kurang 5,6 persen inilah dua hal yang nanti kita akan coba menanganinya,” ungkapan, Jumat (4/10) kemarin.

Menurutnya, kasus stunting dan gizi buruk yang terjadi pada balita ada beberapa faktor yang mempengaruhi, yakni pola asuh yang menyebabkan balita gizi kurang, akses terbatas kepada masyarakat atau balita, dan kurangnya pemanfaatan Posyandu oleh masyarakat.  Dan dari 19 Distrik memang tidak semua mengalami hal di atas tapi ada  yang ditemukan balita gizi buruk, dicatat ada kasus di Airu, Waibu, Nimboran, memang sudah dilakukan penanganan, memang ada peningkatan berat badan, namun tidak akan bisa maksimal dalam waktu singkat.

Edward berharap dengan berbagai upaya yang dilakukan mulai dari Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi balita selama 56 hari, serta peran aktif masyarakat untuk memeriksakan balita ke Posyandu, agar pemantauan berkala dapat dimaksimalkan sehingga tidak terjadi stunting baru.

Ditambah lagi, untuk mencegah stunting, hal yang dilakukan adalah meluncurkan program PMT berbahan pangan lokal, melakukan pengukuran dan intervensi serentak, melakukan kampanye nasional dan komunikasi perubahan perilaku,  melakukan konvergensi program pusat, daerah, dan kampung, melakukan upaya ketahanan pangan dan gizi. Selain itu, pemerintah juga melakukan program percepatan penurunan stunting yang merupakan program prioritas Presiden RI. Program ini menargetkan penurunan angka prevalensi stunting menjadi 14% di tahun 2024.(dil/ade)

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

Juna Cepos

Recent Posts

Nasib Rahmad Darmawan Ditentukan Pekan Depan

Menurut RD, Manajer Persipura, Owen Rahadiyan telah menjalin komunikasi untuk mengadakan pertemuan tatap muka di…

27 minutes ago

Lagi, 7 Jenazah Korban Jembatan Roboh Ditemukan

Kapolres Jayawijaya AKBP. Anak Agung Made Satriya Bimantara, S.IK menyatakan sejak hari pertama kejadian, 6…

1 hour ago

Polda Papua Pastikan Seleksi Bintara Polri Transparan

Pelaksanaan tes akademik tersebut berlangsung di beberapa lokasi, di antaranya IPDN Papua, Ian Fattahul Muluk…

2 hours ago

Siap Bentuk Mutiara Digital di Batas Kota, Melawan Keterbatasan dengan Prestasi

Berbeda dengan sekolah-sekolah di jantung kota yang memiliki ribuan murid, SMKN 8 Jayapura memiliki jumlah…

3 hours ago

Abisai Rollo : Keberhasilan Implementasi Otsus Diukur dari Dampak yang Dirasakan Langsung oleh Warga Papua

Wali Kota Jayapura Abisai Rollo menegaskan, kepala daerah memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan seluruh…

4 hours ago

2027, Pemkam Holtekam Fokus Perkuat Ekonomi Masyarakat Berbasis Potensi Lokal

Pemerintah Kampung Holtekam akan memfokuskan program pembangunan tahun 2027 pada penguatan ekonomi masyarakat melalui pengembangan…

5 hours ago