“WFH hanya menahan konsumsi BBM di satu sisi saja. Ibarat menaruh ember di bawah atap bocor; air memang tertampung, tapi kebocoran rumahnya sendiri tidak diperbaiki,” tegasnya memberikan perumpamaan.
Lebih lanjut, ia menyoroti budaya birokrasi dan sektor logistik yang masih boros energi. Selama transportasi umum belum menjadi pilihan utama dan kendaraan pribadi masih mendominasi jalanan, maka hasil dari kebijakan WFH akan selalu terbatas. “Oleh karena itu, WFH semestinya diposisikan sebagai langkah pendukung saja, bukan menjadi sumbu utama dari kebijakan penghematan energi nasional,” ujarnya.(*/Jawapos)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q
Page: 1 2
Satuan Reserse Narkoba (Sat Resnarkoba) Polres Mimika melancarkan operasi senyap dengan menggerebek sebuah pabrik rumahan…
‘’Selama ini jarang anak-anak kita orang asli Papua yang masuk ke Akmil, Akpol maupun sekolah…
Dewan Pengurus Partai Golkar Papua Selatan melakukan percepatan melakukan konsolidasi untuk menghadapi Pemilu 2029 mendatang.…
‘’Untuk anak tidak sekolah ini, kita dorong melalui kolaborasi antara Pemerintah Provinsi Papua, pemerintah kabupaten,…
Bagi Yani, memberikan rasa aman kepada warga adalah harga mati, meski kini ia harus mengandalkan…
Kapolres Jayawijaya melalui Kabag Ops AKP Edy T Sabhara menjelaskan untuk insiden jembatan yang putus…