“WFH hanya menahan konsumsi BBM di satu sisi saja. Ibarat menaruh ember di bawah atap bocor; air memang tertampung, tapi kebocoran rumahnya sendiri tidak diperbaiki,” tegasnya memberikan perumpamaan.
Lebih lanjut, ia menyoroti budaya birokrasi dan sektor logistik yang masih boros energi. Selama transportasi umum belum menjadi pilihan utama dan kendaraan pribadi masih mendominasi jalanan, maka hasil dari kebijakan WFH akan selalu terbatas. “Oleh karena itu, WFH semestinya diposisikan sebagai langkah pendukung saja, bukan menjadi sumbu utama dari kebijakan penghematan energi nasional,” ujarnya.(*/Jawapos)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q
Page: 1 2
Kebijakan pembatasan yang dikeluarkan pemerintah daerah awalnya dimaksudkan untuk mengurai antrean, namun justru menimbulkan efek…
Biduran atau urtikaria adalah reaksi pada kulit yang menyebabkan bentol merah disertai rasa gatal. Bentol…
Michael Bambang Hartono mengembuskan napas terakhirnya pada pukul 13.15 waktu Singapura. “Keluarga Besar PT Djarum…
Paulinus Kristanto, pendiri and direktur CAN, menyebut hal itu bagian dari enrichment atau cara sederhana…
Ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Muhamad Isnur, menegaskan pentingnya transparansi dalam kasus ini.…
Seperti dilansir dari Antara, Araghchi juga menegaskan bahwa Teheran tidak memiliki alasan untuk memberikan akses…