“WFH hanya menahan konsumsi BBM di satu sisi saja. Ibarat menaruh ember di bawah atap bocor; air memang tertampung, tapi kebocoran rumahnya sendiri tidak diperbaiki,” tegasnya memberikan perumpamaan.
Lebih lanjut, ia menyoroti budaya birokrasi dan sektor logistik yang masih boros energi. Selama transportasi umum belum menjadi pilihan utama dan kendaraan pribadi masih mendominasi jalanan, maka hasil dari kebijakan WFH akan selalu terbatas. “Oleh karena itu, WFH semestinya diposisikan sebagai langkah pendukung saja, bukan menjadi sumbu utama dari kebijakan penghematan energi nasional,” ujarnya.(*/Jawapos)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q
Page: 1 2
Abisai juga mengingatkan pentingnya menjaga persatuan di kalangan pemuda pasca Musyawarah Daerah (Musda). Ia…
Menurut Evert, buku cerita rakyat tersebut akan menjadi jembatan yang menghubungkan masa lalu, masa…
Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Provinsi Papua menggelar sosialisasi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) serta Pencegahan,…
–Kelompok Kerja (Pokja) Perempuan Majelis Rakyat Papua (MRP) mendorong lahirnya Rancangan Peraturan Daerah Khusus (Raperdasus)…
Kejuaraan yang berlangsung selama tiga hari, mulai 25 hingga 27 Juni 2026, dibuka secara…
Bupati Keerom, Piter Gusbager menyalurkan Dana Desa tahap I dan Bantuan Langsung Tunai (BLT) triwulan…