Categories: NASIONAL

Presiden Tegaskan Wartawan Tidak Boleh Kalah dengan Algoritma

SERANG – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dalam sambutan tertulisnya menyoroti perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan Artificial Intelligence (AI) dengan peran fungsi dan peran insan pers.

Hal itu disampaikan Presiden Prabowo dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan oleh Menyeri Bidang Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Republik Indonesia, Muhaimin Iskandar pada puncak peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 yang digelar di pelataran Masjid Raya Al-Bantani, Serang, Banten, Senin (9/2).

Menurut Prabowo, zaman bergerak dengan sangat cepat. Dunia tidak lagi sekedar berjalan tetapi buruh navigasi oleh informasi data algoritma.

Ia menceritakan, dulu terdapat sebuah grup musik di Indonesia bernama Nasidaria yang mana dalam salah satu lagunya menyatakan bahwa wartawan adalah ratunya dunia. Maka, bisa dikatakan algoritma telah menduduki rajanya dunia.

“Kita hidup di dalam ruang nyata dan digital yang hampir tidak lagi memiliki batas. Begitu pula antara fakta dan rekayasa hanya terbatas sebuah benang tipis bernama verifikasi,” kata Prabowo. “Satu-satunya hal yang bisa saya katakan hanya bisa dimiliki oleh semangat jurnalisme,” imbuhnya.

Hari ini, ketika setiap detik, ada miliaran keputusan yang diambil oleh mesin algoritma dan sistem kecerdasan AI. Maka, arah bangsa dan baik buruknya demokrasi tetap harus berada di tangan insan pers.

Jurnalisme harus menjadi peradaban, motor perubahan, serta menjadi kekuatan yang sampah membuka kabut yang membumbungkan arah.

Oleh karena itu, kepentingan bangsa tidak akan pernah lepas dari bagaimana pers bekerja, bagaimana pers menjaga nuraninya, dan bagaimana pers memaknai tanggungjawab sejarahnya.

“Di tengah derasnya arus teknologi, kita harus jujur mengakui satu hal, pers yang tidak berbasis pada kualitas dan mutu, yang hanya mengandalkan kecepatan dan kecanggihan AI akan kehilangan maknanya,” ujar Prabowo.

Prabowo menegaskan bahwa tanpa sentuhan manusia, jurnalisme beresiko kehilangan empati. Selain itu, tanpa verifikasi dan etika, ia hanya dapat melahirkan pemberitaan bersifat halusinasi. Tanpa berpihak pada kebenaran, ia akan menjauh dari publiknya sendiri.

Di sinilah peran krusial pers yang human center menjadi sangat penting. Rakyat tidak hanya membutuhkan informasi yang cepat, tetapi juga akurat, jujur dan membawa arah kebaikan. “Oleh karena itu kita perlu terus menegaskan jurnalisme tidak boleh kalah oleh algoritma,” katanya.

Page: 1 2

Juna Cepos

Share
Published by
Juna Cepos

Recent Posts

Gereja Membela Harkat dan Martabat Manusia, Jangan Dinilai Gerakan Politik Praktis

   Mofu mengungkapkan bahwa HONAI dibentuk sebagai ruang bersama untuk menjawab berbagai persoalan kemanusiaan, terutama…

6 hours ago

Dorong Penyelesaian Hukum, Jangan Biarkan Pemalangan Jadi Kebiasaan

   Menurutnya, setiap penggunaan tanah masyarakat adat untuk kepentingan umum seharusnya telah melalui proses yang…

14 hours ago

Polisi Ungkap Hasil Labfor Pecahan Botol di Komnas HAM

   Direktur Reserse Kriminal Umum (Dirkrimum) Polda Papua, Kombes Pol Parasian H. Gultom, mengungkapkan bahwa…

15 hours ago

Siapkan Konsolidasi Besar Masyarakat Adat Tabi-Mamta

  Pertemuan yang dikemas dalam bentuk sidang pleno ini menjadi momentum penting untuk merumuskan agenda…

17 hours ago

Amankan Kendaraan Dinas, Pemprov Papua Libatkan Jaksa dan BPK

  Penjabat Sekretaris Daerah Papua Christian Sohilait, mengatakan penertiban kendaraan dinas dilakukan karena masih terdapat…

18 hours ago

Masa Tanggap Darurat Diperpanjang 7 Hari

   Rustan meminta seluruh warga terdampak, khususnya para pengungsi, untuk tetap bersabar sembari pemerintah mematangkan…

19 hours ago