“Mereka tidak beroperasi melayani penumpang, tetapi justru mengambil solar satu hari bisa dua sampai tiga kali dan kemudian dijual. Inilah yang menyebabkan antrean panjang di SPBU dan sangat mengganggu masyarakat,” ujarnya.
Untuk itu, Wali Kota meminta Pertamina dan seluruh pengelola SPBU di Kota Jayapura agar lebih selektif dan ketat dalam melayani pengisian solar subsidi, terutama melalui penerapan sistem barcode.
“Kepada SPBU yang menjual solar subsidi, saya minta agar lebih selektif lagi menggunakan barcode. Jangan sampai satu mobil bisa mengambil dua sampai tiga kali dalam satu hari,” tegasnya.
Menurut Abisai, secara logika dan perhitungan operasional, pengisian solar subsidi seharusnya cukup untuk digunakan hingga keesokan hari. Jika ada kendaraan yang mengisi berulang kali dalam satu hari, maka patut dicurigai sebagai praktik penjualan BBM ilegal.
“Kalau satu kali isi itu bisa dipakai sampai besok, kenapa harus ambil sampai tiga kali? Berarti dia jual. Ini yang menyebabkan antrean mobil panjang di SPBU,” katanya.
Suasana di lingkungan Lapas Abepura, Kamis (23/4) terlihat lain dari biasannya. Jajaran Lapas Abepura terlihat…
Wakil Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Wamendes PDT), Ahmad Riza Patria menguraikan sejumlah program…
Untuk itu, Kepala Kakanwil Dijenpas Papua, Herman Mulawarman, menyatakan perang terhadap barang terlarang dan pungutan…
Ketua MRP Nerlince Wamuar menegaskan pentingnya kolaborasi antara Pemerintah Provinsi Papua, DPR Papua (DPRP), dan…
Bupati Jayapura, Yunus Wonda, menegaskan larangan keras terhadap aktivitas konsumsi minuman keras (miras) di lingkungan…
Kondisi tim lawan dapat dimanfaatkan oleh penggawa Mutiara Hitam untuk misi tiga poin. Persipura wajib…