Categories: METROPOLIS

Hutan Primer Makin Terkikis

Puluhan anggota Komunitas di Jayapura ketika melakukan penanaman bibit mangrove di Ciberi, Teluk  Youtefa, Ahad (21/4) kemarin. Di lokasi  ini hutan primer mangrove yang berstatus hutan lindung makin terkikis timbunan. ( FOTO : Gamel Cepos )

JAYAPURA – Kondisi hutan primer mangrove yang berada di Teluk Yotefa makin terkikis seiring dikebutnya pembangunan jalan jembatan Hamadi – Holtekam.  Dengan pembangunan jalan di bawah fly over membuat bagian hutan harus ada yang dikorbankan. Alhasil sejumlah pohon mangrove primer yang berada di kawasan hutan lindung menjadi korban. Ini terungkap saat sejumlah komunitas melakukan penanaman di lokasi yang sempat disebut sebagai kesalahan di awal pembangunan jalan hamadi holtekam ini. 

 Lokasi hampir 1 Hektar tersebut  dibabat rata dengan rencana akan dilewati bagian jalan. Namun ternyata lokasi jalan bergeser sekitar 20 meter sehingga lokasi yang sudah dibabat habis ini terbiar kosong. Tak hanya itu, ada juga dampak abrasi yang nyata dimana jalan selebar 4 meter terkikis habis termasuk makam adat di Kampung Engros yang juga terancam abrasi. “Ini menjadi agenda teman-teman di komunitas Lindungi Hutan dengan tajuk rawat bumi jadi yang dilakukan selain menanam tetapi ada juga monitoring atau merawat hingga ia tumbuh,” kata Ketua Komunitas Lindungi Hutan Jayapura, Iznillah.

 Dengan menggandeng BBKSDA Papua termasuk Saka Wanabakti dan sejumlah komunitas yang tergabung dalam Forum Komunitas Jayapura (FKJ) rombongan tak hanya melakukan penanaman tetapi juga mengecek bibit yang sudah ditanami sebelumnya. “Ini diakhiri dengan pembersihan  lokasi disekitar jembatan,” kata Iznilah. Ia membenarkan bahwa dipilihnya lokasi Ciberi, Teluk Yotefa ini lantaran ada lahan yang kosong dan tidak ditanami. “Kami mendengar jika lokasi ini sempat menarik perhatian ibu Menteri Siti Nurbaya karena kesalahan di awal tadi, harusnya pihak yang salah pekerjaannya yang menanami tapi itu tidak dilakukan dan kami coba masuk (menanam),” jelasnya. 

 Ketua Forum Peduli Port Numbay Green (FPPNG) Fredy Wanda juga mengaku kaget jika ada badan jalan di bawah jembatan yang ikut dibangun dan kembali mengikis hutan primer mangrove tersebut. “Kami bingung, yang kemarin babat dan dibiarkan tidak ditanami tapi kini ditimbun lagi. Kami penasaran apakah ada surat dari dinas untuk mengambil bagian dari hutan mangrove ini atau tidak. Jangan-jangan tidak ada surat karena setiap meter jika ingin digunakan  harus tetap sesuai aturan,” sindirnya. Ia berharap dari bibit yang sudah ditanami ini tidak lagi menjadi korban karena pembangunan. “Ingat disini juga ada makan adat, ada hutan adat  yang menjadi dapur bagi masyarakat setempat. Jangan karena pembangunan akhirnya semua dikorbankan. Pemerintah tak bisa  beralasan demi pembangunan begitu saja sebab ada nilai kearifan yang juga harus dijaga,” tegasnya. (ade/wen)

newsportal

Recent Posts

Suara Perempuan Papua Diduga Ada 107 Ribu Warga Mengungsi

Jelasnya praktik kekerasan berbasis gender, kekerasan seksual, serta diskriminasi struktural maupun kultural dialami perempuan Papua…

2 days ago

Pembangunan Terminal Khusus Masih Dalam Tahap Pembahasan

Kepala Dinas Pertanian, Pangan, Kelautan dan Perikanan Papua Selatan, Paino ditemui media ini disela-sela pembahasan…

2 days ago

Siap Sambut Rencana Investasi Rp 100 Triliun

Petrus Assem menjelaskan, penanaman tebu di Merauke tersebut untuk industry gula dengan produk turunannya bioethanol…

2 days ago

Pengukuhan Lembaga Adat Belum Dilakukan

Di tengah desakan kelompok warga yang menuntut pengukuhan lembaga adat, Bupati Mimika Johannes Rettob memilih…

2 days ago

Disinyalir Terjadi Pelanggaran HAM Berat

al ini disampaikan langsung Direktur Eksekutif ALDP, Latifah Anum Siregar kepada Cenderawasih Pos melalui keterangan…

2 days ago

Bulog Salurkan Bantuan Pangan untuk 27 Ribu Warga

Perum Bulog Kantor Cabang (KC) Timika mulai mematangkan persiapan penyaluran bantuan pangan berupa beras dan…

2 days ago