

JAYAPURA- Majelis Rakyat Papua (MRP) Pokja Adat menjaring aspirasi masyarakat menyangkut sejauh mana pelaksanaan Otonomi Khusus (Otsus) Papua. Jaring aspirasi ini terbagi dalam beberapa tim. Salah satunya yang dilaksanakan oleh MRP Pokja Agama bersama masyarakat di Kampung Koya Tengah Distrik Muara Tami Kota Jayapura, Sabtu (18/7) lalu.
Dalam siaran pers yang diterima Cenderawasih Pos, Ketua Tim MRP Pokja Agama, Minggus Madai mengatakan, masyarakat jujur menyampaikan bahwa sejak bergulir sampai berakhirnya masyarakat tidak merasakan Otsus.
Salah satu mahasiswa, Wambo Awom mengatakan, pihaknya benar-benar tidak mengerti dan tidak tahu sejauh mana penerapan Otsus tersebut. “Kami tidak merasakan Otsus yang sebenarnya. Bunyinya saja besar, implementasi melenceng,kami mahasiswa dan orang di kampung jadi korban Otonomi khusus,” katanya melalui siaran pers tersebut.
Sementara itu, Minggus Madai, ketua tim dalam arahannya mengatakan, pihaknya ada di sini untuk melakukan kegiatan dengar pendapat dengan masyarakat terkait evaluasi Otonomi Khusus di Papua. Apapun usulan dan saran dari masyarakat.
Apapun usulan dan saran dari masyarakat kami siap menyalurkan aspirasi serta memfasilitasi tindaklanjutnya seperti apa menyangkut hak-hak orang asli Papua,” ujarnya.
Di tempat yang sama, Pastor Paul Tan, Pr sebagai pastor wilayah Koya mengatakan, kehadiran Otsusu di Papua selama ini hingga mau berakhir. Diakui, banyak sekali umat tidak mendapatkan arahan yang jelas atau semacam sosialisasi menenai mengenai Otsus itu sendiri.
“Itu yang saya lihat, sepertinya umat kami, tidak mendapatkan pengarahan yang jelas mengenai Otsusu ini. Kalau kita dengar dana Otsus dengan bunyi yang begitu besar. Misalnya, sekian persen untuk pendidikan dan lainnya. Itu hanya cerita yang didengar umat. Sebagai tokoh Agama, saya sering menangis,kami tidak tahu persisi,” jelasnya.
Pastor Paul berharap, MRP sebagai orang tua bagi masyarakat Papua. Dalam hal ini, bukan saja mengawas, tetapi MRP tolong sampaikan ke pemerintah, pelaku Otsus, untuk benar-benar dalam pelaksanaannya.
“Harapan saya sebagai tokoh agama bukan saja mengawas tolong kasi tahu. Hari ini dengan masyarakat kami bicara, supaya tanah yang dibilang tanah surga ini bisa kita nikmati,” harapnya. (bet/wen)
Gubernur menegaskan, keputusan tersebut merupakan kebijakan yang tidak populer, namun harus diambil demi menjaga stabilitas…
Insiden pertama terjadi pada Senin (27/4), disusul kejadian serupa pada Selasa (28/4) sekitar pukul 11.22…
Ia menegaskan, tujuan utama negara adalah melindungi seluruh rakyat Indonesia. Karena itu, pendekatan keamanan tidak…
Hingga hari ini, meski zaman berubah, Pasar Lama Sentani tidak pernah benar-benar sepi. Di setiap…
Pertemuan tersebut dihadiri Ketua Bidang Pengawasan Hakim dan Investigasi KY, Abhan, yang memaparkan materi sekaligus…
Langkah ini diambil guna memastikan integritas pelayanan publik tidak terganggu oleh aktivitas pribadi di platform…