Categories: METROPOLIS

Guru Korban Penyerangan KKB Jalani Pemulihan Psikologis

JAYAPURA-Sejumlah guru dari Yayasan Serafim yang menjadi korban penyerangan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Distrik Anggruk, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, mengikuti kegiatan Training as Healing yang digelar di Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Provinsi Papua.

Pelatihan yang berlangsung sejak Selasa (17/6) hingga Kamis (19/6) ini merupakan bentuk pemulihan psikologis bagi para guru yang mengalami trauma pasca insiden kekerasan yang terjadi pada 21 Maret 2025 lalu.

Kegiatan tersebut digagas oleh Direktorat Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus (PKLK) Kemendikbudristek bekerja sama dengan Korps Relawan Bencana Himpunan Psikologi Indonesia (KRESNA HIMPSI).

Pelatihan ini dibuka secara resmi oleh Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Pendidikan dan Moderasi Beragama, Kemenko PMK, Ojat Darojat. Ia menyebut bahwa Training as Healing merupakan program strategis untuk memberikan penguatan bagi guru-guru yang bertugas di daerah rentan konflik.

“Peristiwa di Anggruk sangat melukai kita semua. Dengan kegiatan ini, kami ingin memberikan penguatan kepada para guru agar trauma yang mereka alami tidak mematahkan semangat mereka, tapi justru memotivasi untuk terus mengabdi dan meningkatkan kualitas SDM Papua,” ujar Ojat.

Sementara itu, Direktur Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus Kemendikbudristek, Saryadi, mengatakan bahwa pelatihan ini merupakan bentuk dukungan terhadap para guru penyintas. Ia menyebut insiden di Anggruk sangat berdampak terhadap proses pembelajaran di Yahukimo.

“Program ini tidak hanya bertujuan menghilangkan trauma, tetapi juga menjadikan para guru sebagai agen pemulih bagi guru-guru lainnya yang mungkin mengalami peristiwa serupa,” jelasnya.

Saryadi menambahkan, pihaknya akan terus berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Yahukimo untuk memastikan rehabilitasi layanan pendidikan berjalan baik dan aman. Ia berharap berbagai pihak ikut serta dalam mencegah terulangnya kekerasan terhadap tenaga pendidik di Papua.

“Kejadian seperti ini sangat berdampak pada pendidikan anak-anak kita. Karena itu, kami mengajak semua pihak untuk berperan aktif menciptakan lingkungan belajar yang aman dan damai,” harapnya.

Page: 1 2

Juna Cepos

Recent Posts

Atasi Ketimpangan Layanan Medis, Dokter dan Perawat Papua Harus Perkuat Skill

Papua Surgical Update (PSU) 2026 ini diikuti oleh ratusan peserta yang terdiri dari dokter spesialis,…

17 hours ago

Pasca Penertiban, Pemkot Didesak Data Ulang Pedagang

Pares menyatakan, Komisi C secara penuh mendukung langkah tegas Pemkot Jayapura dalam menertibkan area pasar.…

24 hours ago

Terindikasi Melanggar, Ribuan Barcode BBM Bersubsidi Diblokir

   Area Manager Communication, Relation & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Papua dan Maluku Ispiani…

1 day ago

Pemilihan Rektor Uncen Jadi Agenda Prioritas

   Untuk memastikan roda organisasi dan pelayanan akademik tidak terhenti, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan…

1 day ago

Gubernur: Layanan Pertanahan Harus Menjangkau Pelosok!

Gubernur Papua Matius D. Fakhiri mendorong pelayanan pertanahan dapat menjangkau masyarakat hingga wilayah pelosok melalui…

1 day ago

Manfaatkan Dana Kampung untuk Kembangkan Potensi Lokal

  Abisai menilai, kearifan lokal dan berbagai potensi yang dimiliki setiap kampung merupakan kekayaan yang…

1 day ago