Categories: METROPOLIS

Paskah dan Ramadan Bersamaan, Bangun  Sikap Toleransi

JAYAPURA-Peringatan Paskah bagi umat kristiani tahun ini bertepatan dengan ramadan. Beberapa rangkaian ibadah  dilakukan umat kristiani, mulai dari jalan salib hingga pawai obor dalam memperingati Paskah.

  Tokoh Agama di Papua Pdt. Jhon Baransano STh. M.Mis menyampaikan, paskah kali ini bertepatan dengan ramadan. Sehingga itu, harus dibangun dengan toleransi antar umat beragama.

“Paskah yang bertepatan dengan ramadan harus kita bangun dengan toleransi, saling menghargai dan salin kasih,” kata Pdt Baransano kepada Cenderawasih Pos, Jumat (15/4) kemarin.

  Lanjut Pdt Baransano, kasih dan pengorbanan Kristus menjadi makna untuk kita membangun relasi dengan semua orang. Diakuinya bahwa perayaan Paskah yang besamaan dengan ibadah puasa di bulan Ramadan, bukan secara kebetulan melainkan sebuah suka cita, dimana teman teman  muslim juga sedang menjalankan ibadah puasa.

  “Kita percaya bahwa dalam perayaan secara bersamaan ini toleransi saling menghargai menjadi makna untuk kita semua,” tegasnya.

  Dikatakan, Papua tak terlepas dari konflik dan kekerasan. Namun, sebagai umat yang percaya di atas tanah Papua harus kembali bahwa injil itu mempersatukan. Sebagaimana Papua tidak  dibuka dengan kekerasan, apalagi moncong senjata.

   “Papua tidak dibuka dengan kekerasan dan moncong senjata, Papua dibuka dengan nama Tuhan dan injil. Pesan saya sebagai tokoh agama, semua orang harus  kembali dan merenungkan bahwa tanah ini adalah tanah yang diberkati, dibuka dengan nama Tuhan,” terangnya.

   Sehingga itu lanjut Pdt Baransano, kekerasan pembunuhan, konfik harus dihentikan. Ada ruang ruang dialog untuk semua orang. “Untuk apa kita berkelahi, saling marah, saling tembak dan saling membunuh.  Sedang orang  Kristen sendiri mempunya nilai kasih, mengasihi Allah dan sesama,” ucapnya.

  Lanjutnya, perbedaan adalah hal yang biasa. Namun tidak boleh dengan kekerasan dan saling membunuh. Segala sesuatu perlu dibicarakan secara baik, saling menghargai dan menghormati satu dan lainnya. “Kita belajar dari konflik sarah yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia, dan konflik sarah itu tidak boleh terjadi di Papua. Sebab Papua adalah tanah injil,” pungkasnya. (fia/tri)

newsportal

Recent Posts

Suara Perempuan Papua Diduga Ada 107 Ribu Warga Mengungsi

Jelasnya praktik kekerasan berbasis gender, kekerasan seksual, serta diskriminasi struktural maupun kultural dialami perempuan Papua…

3 days ago

Pembangunan Terminal Khusus Masih Dalam Tahap Pembahasan

Kepala Dinas Pertanian, Pangan, Kelautan dan Perikanan Papua Selatan, Paino ditemui media ini disela-sela pembahasan…

3 days ago

Siap Sambut Rencana Investasi Rp 100 Triliun

Petrus Assem menjelaskan, penanaman tebu di Merauke tersebut untuk industry gula dengan produk turunannya bioethanol…

3 days ago

Pengukuhan Lembaga Adat Belum Dilakukan

Di tengah desakan kelompok warga yang menuntut pengukuhan lembaga adat, Bupati Mimika Johannes Rettob memilih…

3 days ago

Disinyalir Terjadi Pelanggaran HAM Berat

al ini disampaikan langsung Direktur Eksekutif ALDP, Latifah Anum Siregar kepada Cenderawasih Pos melalui keterangan…

3 days ago

Bulog Salurkan Bantuan Pangan untuk 27 Ribu Warga

Perum Bulog Kantor Cabang (KC) Timika mulai mematangkan persiapan penyaluran bantuan pangan berupa beras dan…

3 days ago