Categories: METROPOLIS

Pembangungan Tidak Boleh Lupakan Akar Budaya Masyarakat

JAYAPURA-Wali Kota Jayapura Abisai Rollo mengingatkan bahwa Jayapura bukanlah kota yang lahir begitu saja. Sejarah mencatat, wilayah ini pertama kali didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda pada 7 Maret 1910 dengan nama Hollandia.

Dalam perjalanan sejarahnya, nama itu kemudian berubah menjadi Sukarnopura, hingga akhirnya melalui Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1969 resmi bernama Jayapura, yang berarti Kota Kemenangan.

Namun bagi masyarakat adat, tanah ini jauh lebih dulu dikenal sebagai Port Numbay—sebuah tanah leluhur yang kaya akan nilai budaya, tradisi, dan kearifan lokal.

“Port Numbay bukan sekadar wilayah geografis, tetapi identitas masyarakat asli yang diwariskan turun-temurun,” ujar Abisai Rollo.

Ia menegaskan bahwa pembangunan kota tidak boleh melupakan akar budaya masyarakatnya. Nilai-nilai adat yang hidup di tanah ini mengajarkan keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Dalam filosofi hidup masyarakat Port Numbay, ketiganya adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Alam dijaga karena ia adalah sumber kehidupan, sementara kebersamaan menjadi dasar hubungan sosial di tengah masyarakat.

Momentum bulan Maret bagi masyarakat Jayapura juga tidak hanya berkaitan dengan hari lahir kota. Pada 10 Maret mendatang, masyarakat di wilayah Tabi akan memperingati 116 tahun masuknya Injil di Tanah Tabi, sebuah peristiwa yang membawa perubahan besar dalam perjalanan kehidupan masyarakat.

Menurut Wali Kota, pekabaran Injil telah menghadirkan terang melalui pendidikan, pelayanan kesehatan, serta pembentukan karakter masyarakat Papua yang religius dan penuh kasih.

“Nilai-nilai iman yang bertumbuh di Tanah Tabi telah memperkokoh fondasi moral dan spiritual masyarakat Kota Jayapura,” katanya.

Kini, setelah 116 tahun perjalanan, Jayapura telah berkembang menjadi pusat pemerintahan, pendidikan, perdagangan, dan jasa di kawasan timur Indonesia. Kota ini menjadi ruang hidup bagi berbagai suku, agama, dan latar belakang budaya yang hidup berdampingan.

Page: 1 2

Juna Cepos

Recent Posts

DPRK Jayawijaya Sidak Dinsos dan RSUD Wamena

Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Jayawijaya melalui Komis C melakukan Sidak ke Dinas Sosial untuk…

21 minutes ago

Proposalnya Ditolak ITS, Eh Malah Raih S3 di Berlin

Setahun berikutnya, ia menuntaskan S2 di jurusan Informatika dari kampus yang sama pada 2013. Sejak…

51 minutes ago

Efisiensikan Biaya Operasional Penerbangan, Trigana Batasi Penerimaan Barang Cargo ke Wamena

Aviasi Penerbangan Trigana Air Service saat ini sedang melakukan efisiensi biaya operasional penerbangan yang cukup…

1 hour ago

Pemprov Papua Selatan Bentuk Forum Energi Daerah

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Selatan menggandeng Global Green Growth Institute (GGGI) dan para pemangku kepentingan…

2 hours ago

Longsor di Distrik Walaik Rusak Lahan Pertanian Rumah Warga

Setelah bencana longsor yang terjadi di Distrik Tagineri, Tanggime dan Bolakme (Banjir), kini giliran Distrik…

2 hours ago

Banyak Guru Belum Nikah, Pemkab Merauke Akan Gelar Nikah Massal

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Merauke Romanus Kande Kahol mengatakan, salah satu alasan nikah…

3 hours ago