Categories: METROPOLIS

​BPS: Angka Kemiskinan Naik Signifikan

​JAYAPURA – Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Jayapura menyampaikan laporan resmi terkait perkembangan profil dan tingkat kemiskinan daerah periode tahun 2025. Berdasarkan hasil pendataan makro BPS, tingkat kemiskinan di Kota Jayapura mencatatkan kenaikan yang cukup signifikan dibandingkan dengan periode tahun sebelumnya.

    Kenaikan grafik kemiskinan tersebut tidak hanya terjadi di wilayah perkotaan Jayapura, melainkan menggambarkan tren yang merata di tingkat regional Provinsi Papua. Peningkatan angka kemiskinan ini dipengaruhi oleh berbagai dinamika ekonomi makro dan pola penyerapan anggaran pemerintah daerah.

  Kepala BPS Kota Jayapura, Sugiyanto, S.ST., M.Si., mengonfirmasi secara langsung perubahan data persentase penduduk miskin di wilayahnya tersebut. “Untuk Kota Jayapura, jumlah tingkat kemiskinan Kota Jayapura di tahun 2025 meningkat. Jadi dari 10,72 persen menjadi 12,3 persen di tahun 2025. Jumlah penduduknya yang miskin juga meningkat,” kata Sugiyanto kepada Cenderawasih Pos, Kamis (3/9).

   Sugiyanto membeberkan bahwa kondisi perekonomian di wilayah Papua dan Kota Jayapura sepanjang tahun 2025 memang menghadapi tantangan yang cukup berat. Hal ini berdampak langsung pada daya beli dan tingkat kesejahteraan masyarakat di lapangan.

  Peningkatan persentase penduduk miskin di Kota Jayapura sebesar 1,58 persen tersebut sejalan dengan kurva kenaikan kemiskinan di tingkat Provinsi Papua. Secara umum, grafik pergerakan kemiskinan di daerah memang bersifat fluktuatif dari tahun ke tahun.

  Menanggapi pergerakan grafik tersebut, Kepala BPS Kota Jayapura menegaskan bahwa lonjakan angka pada tahun 2025 murni mencerminkan penambahan jumlah warga miskin.

“Jadi memang kondisi ekonomi di Papua dan Kota Jayapura di tahun kemarin itu memang lagi kurang bagus ya, karena penduduk miskin makin meningkat. Dan peningkatannya bukan cuma di Kota Jayapura, di Provinsi Papua juga ikut meningkat, dari 17 persen di tahun 2024 menjadi 19,16 persen,” tegasnya.

   Menjelaskan faktor pemicu utama di balik kenaikan angka kemiskinan tersebut, BPS menguraikan dua alasan fundamental berdasarkan hasil analisis data. Faktor pertama berkaitan erat dengan kebijakan efisiensi anggaran yang diterapkan oleh pemerintah pada tahun lalu.

   Faktor kedua berhubungan dengan siklus waktu pemotretan data kemiskinan oleh BPS yang rutin dilakukan pada kuartal pertama, yakni rentang bulan Februari hingga Maret. Pada periode awal tahun tersebut, perputaran dana dan program-program pemerintah daerah umumnya belum berjalan secara optimal.

   Sugiyanto menjelaskan bahwa lesunya perputaran ekonomi di awal tahun membuat sektor swasta harus menopang perekonomian secara mandiri sebelum anggaran negara cair.

Page: 1 2 3

Juna Cepos

Recent Posts

Seleksi Pejabat Definitif Dijamin Akan Fair

Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan dalam waktu dekat akan melakukan seleksi terbuka terhadap sejumlah jabatan definitif.…

7 hours ago

Korban Penganiayaan Oknum Polisi Akhirnya Meninggal Dunia

Kapolres Merauke AKBP Leonardo Yoga kepada wartawan menyampaikan belasungkawa mendalam kepada keluarga korban yang meninggal…

9 hours ago

Tetap Bangun di Tepi Laut Karena Sudah Punya Pelepasan Adat

  Di tengah suasana tersebut, seorang pria tua duduk termenung. Tatapannya tertuju pada sebidang lahan…

10 hours ago

Tekan Inflasi, Pemkab Merauke Gelar Gerakan Pangan Murah

Pemerintah Kabupaten Merauke melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan serta Kesehatan Hewan menggelar Gerakan Pangan…

11 hours ago

Ganja Senilai Rp41 Juta Dimusnahkan, Polisi Tegaskan Komitmen Perangi Narkoba

Barang haram yang dimusnahkan ini merupakan barang bukti kejahatan dari tersangka berinisial E.M. alias Lisa…

12 hours ago

Kebakaran Lahan di Sota, TNI/Polri dan Warga Bergerak Padamkan Api

Mendapat informasi tersebut, personel Polsek Sota bersama anggota TNI dan masyarakat setempat langsung bergerak ke…

13 hours ago